Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)
Selama lebih dari dua dekade, seseorang bernama Tante Linda menyimpan kartu-kartu Pokémon miliknya. Kartu-kartu itu dikumpulkan sejak 1999, ketika Pokémon Trading Card Game mulai dikenal lebih luas di luar Jepang, lalu dirawat dan disimpan dalam binder. Puluhan tahun berlalu. Perempuan yang kini berusia 67 tahun itu tetap menyimpan koleksinya. Sampai akhirnya kartu-kartu tersebut berpindah tangan kepada seorang kolektor papan atas Surabaya, Steven Ndut.
Kisah Tante Linda muncul dalam video kanal YouTube Crazy Rich Surabayans, 16 Mei 2026. Nilai pembelian koleksi tersebut tidak dipublikasikan, tetapi Steven memperkirakan keseluruhan koleksinya dapat mencapai Rp7,2 miliar. Benda yang dahulu dikumpulkan sebagai bagian dari hobi itu, setelah disimpan selama puluhan tahun, berubah menjadi sesuatu yang nilainya jauh melampaui harga sebuah permainan anak-anak.
Kisah itu mungkin terdengar seperti cerita tentang keberuntungan. Namun di baliknya ada satu hal yang lebih menarik. Bagaimana mungkin kartu Pokémon yang dulu hanya dimainkan anak-anak bisa bertahan selama puluhan tahun, tetap dicari, lalu dihargai begitu tinggi? Jawabannya detikX cari di sebuah gedung yang mengumpulkan para pecinta kartu Pokémon.
Sabtu, 5 September 2026, Hall JCC Senayan dipadati pengunjung IdeaFest × Collectcon. Di antara berbagai komunitas hobi dan koleksi, area Pokémon menjadi salah satu tempat yang ramai didatangi. Orang-orang berdesakan di depan booth, mencari kartu yang mereka inginkan, membeli booster pack, membuka kartu secara acak, melakukan barter, atau sekadar berdiri sambil melihat koleksi yang dipajang.
Ada anak-anak, remaja, dan orang dewasa. Sebagian tampak sudah akrab dengan nama-nama kartu dan karakter yang mereka cari. Sebagian lain datang dengan rasa penasaran, melihat-lihat lebih dulu sebelum memutuskan membeli. Di tengah keramaian itu, kartu Pokémon menunjukkan kehidupannya yang sekarang, bukan lagi semata-mata benda untuk memainkan permainan, melainkan bagian dari hobi yang punya komunitas, pasar, dan bahkan nilai ekonomi sendiri.
Di salah satu booth, B Bros Vault, Mic Marcel berdiri bersama timnya. Ia bukan orang yang baru mengenal Pokémon setelah melihat tren kartu koleksi beberapa tahun terakhir. Baginya dan timnya, kartu Pokémon sudah hadir sejak masa kecil.
“Kalau jualan kartu Pokémon sendiri kita udah jalan sekitar 6 bulan. Tapi untuk koleksinya sendiri udah dari lama banget sih, apalagi tim-tim kita juga mereka dari kecil udah main kartu TCG (trading card game),” ungkap Mic kepada detikX.
Di meja B Bros Vault, pembeli bisa menemukan berbagai macam barang. Ada kartu yang dijual satuan, ada kartu yang sudah dinilai kondisinya dan disimpan dalam pelindung khusus, ada pack yang bisa dibuka secara acak, serta produk seperti Elite Trainer Box atau ETB. Mereka juga menjual perlengkapan untuk merawat koleksi, seperti slab guard, dan berencana menyediakan binder.
“Kita ada jual kartu raw, ada yang sudah di-grade, ada yang pack untuk di-gacha,” kata Mic sambil menunjuk barang dagangannya.

Kartu Pokémon dipajang dalam etalase, menjadi bagian dari koleksi yang terus dirawat para penggemarnya
Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)
Bagi orang yang tidak pernah masuk ke dunia kartu Pokémon, istilah-istilah itu mungkin terdengar rumit. Padahal gagasannya sederhana. Ada orang yang ingin membeli kartu tertentu, ada yang ingin mencoba keberuntungan membuka pack tanpa tahu kartu apa yang akan didapat, dan ada pula yang ingin menyimpan kartunya sebaik mungkin agar kondisinya tetap terjaga.
Nilai kartu Pokémon menjadi bagian yang paling mudah membuat orang awam terkejut. Di B Bros Vault misalnya, kartu raw, kartu yang belum melalui proses grading, bisa ditemukan mulai sekitar Rp50 ribu hingga Rp100 ribu. Namun di sisi lain, ada kartu dengan harga puluhan juta rupiah. Kartu yang sudah di-grade bahkan bisa mencapai ratusan juta rupiah, dengan salah satu koleksi yang ditawarkan berada di kisaran Rp300 juta lebih. Sementara pack dijual mulai sekitar Rp25 ribu.
Rentang harga itu membuat sebuah meja penjualan kartu Pokémon terlihat seperti pasar dalam ukuran kecil. Ada barang yang bisa dibeli dengan uang puluhan ribu rupiah, tetapi ada pula benda dengan harga yang setara dengan barang bernilai besar lainnya.
“Selama dari bisnis sampe M (milliar) ada sih,” ujarnya. Namun harga kartu Pokémon tidak sesederhana prinsip ‘semakin langka, semakin mahal’. Ada faktor lain yang menurut Mic justru sangat penting.
“Kalau di pokemon itu different thing karena karakternya banyak banget dan favorite orang tuh kan beda-beda ya. Terus biasanya ada di beberapa pack, padahal kartunya nggak selangka itu, tapi karena yang suka banyak jadi demand-nya tinggi, jadi harganya bisa lebih mahal.”
Di Collectcon, sebagian besar orang yang membeli dari B Bros Vault pun bukan datang untuk bermain. Kartu yang dahulu dirancang sebagai bagian dari permainan kini lebih sering dibawa pulang untuk disimpan dan dikoleksi.
Menurut Mic, tidak ada perubahan besar soal usia penggemar. Semua umur dapat menikmati kartu Pokémon. Sebagian mungkin baru mengenal Pokémon. Sebagian lainnya tumbuh bersama waralaba tersebut. Sebagian bahkan belum tahu persis apa yang mereka beli. Mereka datang, memilih barang lebih dulu, baru kemudian bertanya. Mungkin justru di situlah daya tariknya. Seseorang tidak harus memahami seluruh sejarah Pokémon sebelum membeli satu pack. Tidak perlu tahu semua nama karakter, semua seri kartu, atau semua istilah kolektor. Ia bisa mulai dari satu bungkus kecil.
Harga pack Indonesia yang relatif murah menjadi salah satu pintu masuk. Menurut Mic, produk semacam itu banyak dicari di acara tersebut karena orang-orang yang baru masuk dunia Pokémon ingin mencoba sesuatu yang harganya masih terjangkau. Sementara itu, pack lama semakin mahal seiring waktu.
Namun bagi sebagian pembeli, mencoba dapat berarti membeli dalam jumlah yang tidak sedikit. “Kemarin kita ada yang beli prismatic evolution, ini satunya Rp250 ribu per 1 pack. Dia kayak tiba-tiba beli 40 pack, ada aja sih yang begitu,” ungkapnya.
Empat puluh bungkus itu berarti empat puluh kali kesempatan untuk menemukan kartu yang diinginkan. Tetapi bukan hanya kemungkinan mendapatkan kartu tertentu yang membuat orang rela membuka pack. Ada sensasi menunggu sesuatu yang belum diketahui. Dan sensasi semacam itu pula yang membawa Kai, seorang pengunjung Collectcon, masuk lebih jauh ke dunia Pokémon.

Para kolektor dan penggemar Pokémon berkumpul dalam ajang Collectcon
Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)
Saat ditemui detikX, laki-laki berusia 16 tahun ini datang ke Collectcon bukan sebagai pemain yang membawa deck untuk bertanding. Ia datang sebagai kolektor. Hari itu, dua kartu yang dibawanya pulang adalah Mesprit berbahasa Jepang seharga Rp170 ribu dan Shaymin berbahasa Inggris yang dibeli sekitar Rp250 ribu, meski nilainya masih jauh dari kartu-kartu ratusan juta rupiah yang ada di pasar koleksi.
“Aku collector, aku sebenarnya pengen main tapi belum ada kesempatan,” katanya. Ketertarikan Kai pada kartu Pokémon juga relatif baru. Ia mulai mengoleksi sekitar satu atau dua tahun terakhir. Berbeda dengan Mic yang membawa pengalaman TCG sejak kecil, Kai menemukan kembali Pokémon melalui dunia digital yang jauh lebih baru.
Ia melihat kartu Pokémon di TikTok sekitar 2023 atau 2024. Ada sesuatu yang membuatnya tertarik untuk mencoba membuka pack.
“Karena aku suka gambling jadi aku mulai beli kartu Pokémon,” tutur siswa salah satu SMA di Sentul, Jawa Barat, ini. Ia menyukai unsur ketidakpastian dari membuka kartu secara acak. Ia tidak tahu apa yang akan keluar sebelum bungkus itu dibuka.
Tetapi ketertarikannya bukan sepenuhnya sesuatu yang baru. Pokémon sudah ada dalam hidupnya sejak kecil. Ia pernah memainkan Pokémon Go dan Pokémon Unite. Jadi ketika kartu fisik itu muncul kembali di hadapannya melalui TikTok, ia tidak sedang bertemu dengan nama asing.
Sekarang jumlah kartu yang dimiliki sudah banyak. Untuk kartu bulk, ia memperkirakan jumlahnya lebih dari 500. Sementara kartu full art yang ia miliki lebih dari 20. Namun Kai tidak memiliki sistem koleksi yang terlalu ketat.
“Biasanya ya random saja sih, aku nggak terlalu perhatiin karakternya apa, atau set-nya apa. Yang penting yang ada aja di tokonya,” katanya.
Meski begitu, ada kartu yang menempati tempat khusus. Salah satunya Lillie’s Clefairy, Pokémon berjenis peri ini. “Kalau nggak salah Rp1,5 juta, nah itu cantik banget pokoknya, terus aku juga suka Clefairy.”
Kai juga pernah mengeluarkan uang cukup besar untuk satu kartu. Kartu termahal yang pernah dibelinya adalah Leafeon Evolution dari Prismatic Evolutions versi Jepang, sekitar Rp2 jutaan. Yang membuat cerita kartu itu berbeda adalah cara ia mendapatkannya. Ia tidak membeli kartu tersebut seharga Rp2 juta.
“Itu dapet dari pack, pack-nya kalau nggak salah Rp70 ribuan atau Rp100 ribuan, itu kan cuman 1 pack, aku tiba-tiba dapat kartu seharga Rp2 juta itu,” cerita Kai. Momen semacam itulah yang membuat membuka pack tetap menarik baginya.

Di antara deretan kartu dan meja kolektor, para penggemar menemukan komunitasnya
Foto : Kalingga Shagufta Islam (magang)
Ia pernah menukar kartu dengan teman, tetapi belum pernah menjual koleksinya. Sampai sekarang, kartu-kartu tersebut lebih banyak menjadi benda yang dikumpulkan daripada barang yang diperjualbelikan kembali.
Pokémon Trading Card Game lahir di Jepang pada 1996, setelah kesuksesan besar permainan video Pocket Monsters. Pada Oktober tahun itu, Media Factory meluncurkan permainan kartu perdagangan yang menjadi pendamping waralaba tersebut. Kartu-kartu itu kemudian berkembang dari permainan anak-anak di Jepang hingga masuk ke pasar global pada 1999.
Pada masa awalnya, fungsi kartu itu sederhana, dimainkan dan dikoleksi. Namun waktu membuat benda-benda tersebut memperoleh makna baru. Anak-anak yang tumbuh bersama Pokémon pada akhir 1990-an dan awal 2000-an menjadi dewasa. Sebagian dari mereka memiliki penghasilan sendiri dan kembali mencari karakter-karakter yang pernah mereka kenal ketika kecil.
Nostalgia kemudian menjadi salah satu kekuatan besar di balik pasar kartu Pokémon. Kartu-kartu lama dari era vintage, terutama sekitar 1998–2003, semakin dicari. Benda yang pernah menjadi bagian dari masa kecil bisa muncul kembali beberapa dekade kemudian sebagai barang koleksi.
Namun nostalgia saja tidak cukup menjelaskan mengapa sebuah kartu bisa bernilai sangat tinggi. Kelangkaan menjadi faktor lain. Ada kartu yang diproduksi dalam jumlah terbatas, kartu hologram langka, serta kartu-kartu khusus yang berasal dari kontes tertentu. Salah satu nama yang paling terkenal adalah Pikachu Illustrator.
Kartu tersebut merupakan contoh bagaimana nilai sebuah kartu dapat melampaui bayangan orang yang tidak mengikuti dunia koleksi. Logan Paul membeli Pikachu Illustrator pada 2021 dengan harga USD5.275.000 atau sekitar Rp88 miliar. Saat itu, transaksi tersebut menjadi penjualan Pokémon termahal dalam lelang privat. Pada 2026, kartu yang sama kembali dilelang melalui Goldin Auctions dengan nilai USD13 juta atau sekitar Rp219,5 miliar. Setelah ditambahkan biaya lelang total nilai transaksi mencapai USD16.492.000 atau sekitar Rp278,5 miliar .
Popularitas Pokémon juga tidak berhenti ketika permainan kartu fisik memasuki usia puluhan tahun. Pokémon Go pada 2016 kembali membawa karakter-karakter tersebut ke kehidupan sehari-hari melalui layar ponsel. Pada 2024, Pokémon TCG Pocket memperkenalkan pengalaman kartu Pokémon dalam bentuk digital. Sementara kartu fisiknya tetap hidup di toko, binder, meja barter, dan acara komunitas.
Peter Levin, pendiri Griffin Gaming Partners, melihat perkembangan itu sebagai sesuatu yang bahkan lebih besar. Ia mengatakan memiliki lebih dari 500 ribu trading cards dari berbagai genre dan menyebut Pokémon sebagai kartu yang paling diminati.
“Pokemon adalah fenomena global. Saya sangat yakin bahwa jika dunia mengalami kiamat besok, lusa mata uang globalnya adalah kartu Pokemon,” kata Levin, dilansir The Hollywood Reporter, Jumat (11/9/2026).
Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam (magang)/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim