INTERMESO

Ketika Soekarno-Hatta Hening Karena Abu Anak Krakatau

Selama hampir dua hari, ribuan perjalanan yang seharusnya bermula dan berakhir di bandara itu mendadak kehilangan kepastian.

Sejumlah pekerja membersihkan badan pesawat Airbus A320 milik Citilink dari abu vulkanik yang diparkir di apron Terminal 1 Bandara Soekarno-Hatta  |. Foto : Muhammad Iqbal/Antara

Kamis, 10 September 2026

Pukul 7 pagi, Bandara Soekarno-Hatta sudah dipenuhi orang ketika Yudi Chandra tiba. Seharusnya pagi itu ia hanya perlu menunggu pesawat menuju Penang, Malaysia, tempat ia dijadwalkan menjalani medical check-up pada 7 September. Penerbangan yang semula dijadwalkan pukul 06.00 sudah lebih dulu diubah menjadi pukul 09.00, sehingga Yudi datang ke bandara dengan jeda waktu yang masih masuk akal. Ia tidak menyangka perubahan jadwal itu bukan penundaan biasa.

Di tengah keramaian terminal, Yudi memeriksa jadwal penerbangan. Yang ia temukan bukan satu pesawat yang terlambat beberapa jam. Semua penerbangan yang dilihatnya tercatat batal. Penumpang memenuhi bandara, sementara tujuan-tujuan yang semula tercantum di layar keberangkatan seakan berhenti bersamaan. Yudi kemudian bergerak menuju customer service untuk memastikan apa yang sebenarnya terjadi.

“Sesampai di airport, airport-nya penuh dengan orang. Kita cek flight schedule-nya, time table ternyata semua flight itu cancelled,” ungkap Yudi kepada detikX.

Kepastian itu kemudian ia dapatkan dari pihak customer service. Seluruh penerbangan dibatalkan karena kebijakan bandara menyusul sebaran abu vulkanik. Tidak ada lagi alasan untuk menunggu sampai pukul 09.00. Pesawat yang semula hendak membawanya ke Penang tidak akan berangkat pagi itu.

Yang langsung muncul di kepala Yudi bukan soal bagaimana menghabiskan waktu di bandara, melainkan bagaimana mengatur ulang seluruh agenda yang sudah disusun. Perjalanan itu memang singkat. Ia hanya menyiapkan pakaian secukupnya karena tujuan utamanya adalah pemeriksaan kesehatan, bukan berlibur berhari-hari. Justru karena singkat, setiap bagian perjalanan sudah disusun mengikuti jadwal yang rapat.

Ada tiket pesawat yang harus diatur ulang, hotel juga sudah dipesan. Begitu juga dengan jadwal dokter yang telah ditentukan. Dan ada tanggal medical check-up yang tidak bisa begitu saja dipindahkan tanpa konsekuensi terhadap jadwal pihak lain.

Yudi pun tidak mencari penerbangan lain.“Tidak ada, karena semua penerbangan di-cancel.”

Bandara Soekarno-Hatta ditutup hingga pukul 23.59 WIB akibat abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau. 
Foto : Adrial/detikcom

Pilihan yang tersedia akhirnya hanya refund. Bagi Yudi, itu mungkin memang jalan paling masuk akal dalam situasi tersebut. Tidak ada penerbangan yang dapat dipaksakan berangkat ketika bandara ditutup karena risiko abu vulkanik.

Kerugian finansial bukanlah menjadi yang paling Yudi sesalkan. “Kalau kerugian finansial tidak banyak lah, di bawah Rp5 juta. Tapi rugi waktu, saya harus mengatur ulang yang di mana jadwal saya sudah padat,” katanya.

Yudi sendiri tidak mempersoalkan keputusan untuk menghentikan penerbangan. Ia memahami risiko yang dibawa abu vulkanik terhadap penerbangan.

“Iya paling masuk akal (ditutup penerbangannya), karna abu vulkanik berpotensi untuk merusak banyak hal,” ucap laki-laki berusia 45 tahun itu.

Apa yang terjadi di terminal pagi itu bukan gangguan penerbangan biasa. Sejak Jumat hingga Sabtu, 4–5 September 2026, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau meningkat. Abu vulkanik menyebar ke ruang udara Banten dan wilayah sekitarnya. Di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, pengujian paper test di area airside menunjukkan adanya abu vulkanik.

Pada Minggu, 6 September 2026 pukul 01.30 WIB, operasional penerbangan Soekarno-Hatta dihentikan. Keputusan awal tersebut pada mulanya diperkirakan hanya berlangsung beberapa jam. Namun kondisi abu dan arah angin membuat penutupan harus diperpanjang berulang kali.

Runway, taxiway, dan apron harus dibersihkan dari endapan partikel abu. Kondisi keselamatan juga harus kembali dipastikan sebelum penerbangan dapat dibuka. Selama proses itu berlangsung, pesawat tidak dapat beroperasi seperti jadwal normal.

Erupsi anak gunung Krakatau  yang menyebabkan banyak penundaan  penerbangan
Foto : Sigid Kurniawan/Antara

Penutupan tersebut menjadi catatan baru dalam sejarah operasional Soekarno-Hatta. Bandara itu belum pernah mengalami penghentian operasional penerbangan akibat sebaran abu vulkanik seperti yang terjadi pada September 2026. Jika dihitung sejak operasional dihentikan pada Minggu pukul 01.30 WIB hingga penerbangan kembali dibuka secara bertahap setelah tengah malam menuju Selasa, 8 September, Soekarno-Hatta mengalami kelumpuhan operasional sekitar 46 jam 30 menit.

Cerita berbeda datang dari Hendrawan. Pagi itu ia sudah bersiap menuju Bali untuk tugas dinas. Ia hendak mengikuti sosialisasi mengenai penanganan sampah menjadi nikel sebagai bagian dari tugas kedinasan yang wajib dijalankan.

Pesawat dari Bandung semula dijadwalkan berangkat pukul 08.00. Karena mengalami delay, jadwal kemudian bergeser menjadi pukul 11.00. Dengan perkiraan waktu tempuh sekitar satu jam, Hendrawan menghitung bahwa ia seharusnya sudah berada di Bali sekitar pukul 12.00 siang atau sekitar pukul 13.00 waktu setempat.

Karena jadwal awal masih pukul 08.00, ia datang lebih pagi. Pukul 06.30, Hendrawan sudah berada di Bandara Husein Sastranegara. Pengunjung cukup ramai pagi itu, meskipun penumpang yang hendak pergi ke Bali tidak terlalu banyak.

Namun ada satu informasi yang sudah ia bawa dari rumah. Malam sebelumnya, anaknya memberi tahu bahwa Bandara Soekarno-Hatta di Jakarta mulai menutup jadwal penerbangan akibat abu vulkanik yang menyebar. Hendrawan pun sudah memiliki bayangan bahwa penerbangannya mungkin terdampak. Tetapi ketika ia sampai di bandara Bandung, belum ada kepastian bahwa penerbangan menuju Bali akan benar-benar batal.

Ia tetap menjalani proses keberangkatan. Sampai akhirnya ia sudah berada di dalam pesawat. Baru setelah duduk di dalam kabin, suara pengumuman terdengar.

“Bahkan bersamaan dengan itu, Bandara Ngurah Rai Bali juga ditutup. Mungkin ada 5 sampai 10 menit saya duduk di pesawat. Namun ternyata, suara pengumuman dari dalam pesawat terdengar bahwa penerbangan akan dibatalkan karena intensitas abu vulkanik sudah mulai masif,” katanya.

Penumpang Bandara Soetta Kembali Ramai Pasca Penutupan
Foto : Ashabul Kahfi/CNN Indonesia

Abu vulkanik yang semula terasa seperti masalah Jakarta ternyata sudah bergerak lebih jauh. Bandara Husein di Bandung ikut terdampak. Bandara Ngurah Rai di Bali juga ditutup. Rute yang semula terlihat sebagai perjalanan domestik sederhana ikut terputus oleh fenomena yang bermula dari erupsi Gunung Anak Krakatau.

Hendrawan kemudian mendapatkan informasi bahwa pembatalan dapat berlangsung sampai tiga hari. Gunung masih erupsi dan belum ada kepastian kapan aktivitasnya berhenti. Dalam keadaan seperti itu, menunggu di sekitar bandara bukan jaminan bahwa penerbangan akan segera tersedia. Maka ia dan penumpang lain yang hendak ke Bali memutuskan pulang.

Berbeda dari Yudi yang akhirnya membatalkan perjalanan medisnya, Hendrawan masih memiliki satu pilihan yaitu mengganti cara pergi. Tiket pesawat direfund, Hendrawan kemudian memutuskan melakukan perjalanan darat menggunakan kereta.

Dampak sebaran abu vulkanik itu juga dirasakan oleh Raditya Dika. Komika sekaligus pembuat konten itu sedang dalam perjalanan pulang dari New York menuju Jakarta. Ia sudah melewati satu bagian perjalanan, New York ke Doha berjalan aman. Persoalan baru muncul ketika penerbangan berikutnya dari Doha menuju Jakarta.

Pesawat tersebut telah terbang sekitar empat jam ketika berada di kawasan udara Sri Lanka. Di titik itu, pilot mengambil keputusan untuk memutar balik menuju Doha karena kondisi akibat abu vulkanik Gunung Anak Krakatau. Radit kemudian tidak bisa begitu saja melanjutkan perjalanan dari Doha. Ia mencari jalur alternatif melalui Singapura, dengan harapan masih bisa memperoleh penerbangan menuju Indonesia. Namun ketika sampai di Singapura, tiket penerbangan menuju Indonesia sudah penuh.

Ia pun harus menunggu sampai ada kepastian mengenai pembukaan kembali Bandara Soekarno-Hatta. Bagi penulis buku komedi berjudul Kambing Jantan ini, dampaknya juga menyentuh pekerjaan. Radit seharusnya menghadiri sebuah acara talk show Royal Canin di Jakarta. Karena masih tertahan di luar negeri dan pilihan penerbangan menuju Indonesia penuh, agenda tersebut terpaksa tidak dapat dihadirinya secara langsung. Sebagai gantinya, ia menyampaikan permohonan maaf dan mengirimkan rekaman video untuk mengisi sesi acara tersebut.

Baru ketika Bandara Soekarno-Hatta kembali dibuka, perjalanan pulangnya mendapatkan jalan keluar. Radit membeli tiket pesawat baru dan dapat kembali pulang ke tanah air. Setelah hampir dua hari lumpuh akibat sebaran abu vulkanik, Bandara Soekarno-Hatta akhirnya kembali beroperasi secara bertahap pada Selasa, 8 September dini hari.


Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam (magang)/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE