Foto : Kalingga Shagufta Islam
Minggu, 23 Agustus 2026Semakin sering sebuah bakso muncul di media sosial, semakin sulit pula rasa penasaran untuk ditahan. Begitu yang terjadi pada Bakso Gepeng 88 Pak Iman di Rawamangun, Jakarta Timur. Namanya berulang kali muncul dalam ulasan food vlogger dan influencer kuliner, dari Farida Nurhan, Bella Kuku Tanesia, Beruang Rakus, hingga Sibungbung. Video-video yang memperlihatkan bakso gepeng berdaging, kuah gurih beraroma bawang putih, sampai tulang rangu yang menggoda akhirnya membuat kami berpikir. ‘Kalau memang sedang seviral itu, kenapa tidak datang dan mencobanya sendiri?’
Kebetulan, kami memang pencinta bakso gepeng. Jadi, ketika ada bakso gepeng pendatang baru yang disebut-sebut punya tekstur garing ketika digigit, tidak terlalu banyak tepung, kuahnya gurih, dan topping-nya melimpah, rasa penasaran terasa semakin sulit diabaikan. Jarak pun akhirnya bukan masalah. Kami rela berangkat dari Tangerang menuju Rawamangun, Jakarta Timur, hanya untuk mencari tahu apakah bakso yang ramai dibicarakan itu memang seenak yang terlihat di layar ponsel.
Perjalanan tersebut akhirnya membawa kami ke Jalan Waru No. 34, Rawamangun, Kecamatan Pulo Gadung, Jakarta Timur. Lokasinya berada di tepi jalan raya dan cukup mudah ditemukan. Yang menarik, Bakso Gepeng 88 Pak Iman berada di area sebuah showroom mobil, sehingga kedainya tidak tampil seperti restoran besar yang berdiri sendiri. Namun, kalau sudah mendekat, keramaian di sekitarnya cukup menjadi petunjuk bahwa tempat ini sedang menjadi tujuan banyak orang.
Kami datang sekitar pukul 19.00, tepat saat jam makan malam. Begitu tiba, pengunjung terus berdatangan. Ada yang baru datang dan mencari tempat duduk, ada yang menunggu pesanan, sementara beberapa pelanggan lain sudah sibuk dengan mangkuk masing-masing. Untungnya, area makan di sini cukup banyak dan kebetulan ada satu tempat yang baru saja kosong. Kami pun bisa langsung duduk tanpa harus berdiri lama menunggu.
Kalau membawa motor, tersedia area parkir di luar maupun di dalam. Sementara bagi pengunjung yang membawa mobil, tempatnya lebih terbatas karena tidak tersedia area parkir mobil khusus yang luas. Mobil biasanya diparkir di sepanjang jalan sekitar lokasi. Bagi kami yang datang untuk pertama kali, posisi kedai yang berada di tepi jalan justru membuatnya cukup mudah dikenali, meski urusan parkir mobil perlu sedikit lebih sabar, terutama ketika kondisi sedang ramai.
Keramaian itu rupanya bukan pemandangan yang hanya terjadi pada malam ketika kami datang. Menurut Inyong, salah satu karyawan yang kami temui saat sedang menyiapkan bakso, kedai ini sudah berjalan lebih dari setahun. Sejak pertama buka, pengunjung disebut sudah ramai dan hingga sekarang operasional berlangsung dari pukul 10.00 sampai 22.00 WIB. Bahkan jumlah bakso yang keluar setiap hari bisa mencapai ribuan. “Per biji bakso urat minimal yang terjual ribuan, kalau bakso gepeng pernah 5000 per hari,” katanya kepada detikX.

Bakso pak Iman banyak pilihan dari bakso gepeng, bakso urat hingga bakso tahu.
Foto : Kalingga Shagufta Islam
Pilihan menu di Bakso Gepeng 88 Pak Iman cukup beragam. Selain bakso gepeng, ada bakso urat, iga, urat potong, tulang rangu, hingga tahu bakso. Untuk pendamping, pelanggan dapat memilih bihun atau kwetiau. Ada pula pilihan paket yang menggabungkan beberapa jenis bakso dan topping sehingga pelanggan tidak perlu memilih semuanya satu per satu.
Harga menjadi salah satu daya tarik yang sulit diabaikan. Untuk paket biasa, harganya berada di kisaran Rp27 ribuan, sedangkan menu dengan tambahan topping berada sekitar Rp32 ribu hingga Rp35 ribuan. Pilihan paket yang lebih lengkap berada di kisaran Rp39 ribuan. Kwetiau atau mi juga bisa dibuat yamin dengan tambahan sekitar Rp3 ribu.
Dari semua pilihan tersebut, ada dua menu yang ternyata cukup sering dipesan, yaitu paket tulang muda dan kwetiau paket lengkap yang dibuat yamin. Inyong menyebut kwetiau paket lengkap dengan pilihan yamin sebagai salah satu menu favorit sekaligus best seller di sana. Kami pun memesan menu yang menjadi favorit tersebut, termasuk pilihan dengan urat potong.
Meski suasana kedai sedang ramai, proses pelayanan tidak membuat kami menunggu terlalu lama. Sistem pemesanan dilakukan dengan cara memesan dan membayar lebih dulu di kasir. Setelah itu, makanan diproses dan pelanggan tinggal menunggu di tempat. Antrean untuk makan di tempat dan membawa pulang juga dibuat terpisah sehingga alurnya terasa lebih teratur.
Tidak lama kemudian, mangkuk yang kami tunggu akhirnya datang.Mangkuk bakso tiba dalam keadaan hangat. Uap tipis naik dari permukaan kuah, membawa aroma gurih yang langsung bercampur dengan wangi bawang putih. Dari atas mangkuk terlihat bakso gepeng berukuran cukup besar, bakso urat, potongan urat, serta karbohidrat yang memenuhi ruang di antara kuah.
Secara visual, ini bukan semangkuk bakso yang pelit isi. Baksonya relatif besar, topping-nya terlihat jelas, sementara kwetiau yamin yang disajikan terpisah membuat porsinya terasa semakin penuh. Di meja, kami masih bisa menambahkan berbagai kondimen yang sudah tersedia seperti sambal, kecap, saus, minyak bawang putih, serta jeruk.
Namun sebelum meracik apa pun, kami mencoba kuahnya terlebih dahulu.Rasa gurih langsung terasa. Kuahnya bukan tipe yang terlalu berat atau membuat enek, tetapi kaldu terasa cukup kuat. Aroma bawang putih menjadi salah satu karakter paling menonjol, terutama karena minyak bawang putih ikut memberikan wangi yang khas.

Bakso yang diracik menggunakan saos, sambal, kecap dan jeruk membuat kuah dan rasa yang berbeda.
Foto : Istimewa
Setelah beberapa sendok, kami mulai meracik kuah sendiri. Sedikit sambal, sedikit kecap, kemudian perasan jeruk. Kombinasi sederhana itu mengubah rasa kuah menjadi lebih ramai. Gurih kaldu bertemu dengan pedas sambal, rasa manis dari kecap, lalu ditutup sensasi asam dan segar dari jeruk. Minyak bawang putih tetap terasa di belakangnya, memberikan aroma yang membuat kuah semakin menggugah selera.
Di sinilah salah satu kesenangan makan bakso di tempat ini muncul, pelanggan bisa menentukan sendiri karakter kuah yang diinginkan. Kalau ingin menikmati rasa kaldu yang lebih sederhana, kuah bisa disantap apa adanya. Namun bagi yang suka rasa lebih berani, sambal, kecap, minyak bawang dan jeruk tersedia di meja.
Bakso gepengnya punya bentuk pipih dengan ukuran yang cukup besar. Ketika dipotong dan digigit, teksturnya terasa padat tetapi tidak keras. Ada sensasi garing di awal gigitan, kemudian berubah menjadi kenyal. Ini yang membuat bakso gepengnya terasa berbeda.
Baksonya tidak terasa seperti adonan yang hanya mengandalkan tepung untuk membuat bentuk. Rasa daging masih muncul di setiap gigitan, sementara teksturnya tetap kenyal. Ukurannya pun membuat satu bakso tidak habis hanya dalam satu gigitan, sehingga pengalaman makannya terasa lebih panjang.
Urat potong menjadi salah satu bagian yang paling menonjol dari pengalaman makan malam itu. Jika bakso gepeng menarik perhatian lewat teksturnya yang garing dan padat, urat potong menawarkan sensasi kenyal yang lebih lembut.
Potongan urat sapinya cukup tebal dan terasa empuk saat dikunyah. Teksturnya tidak alot, tetapi tetap memberikan sensasi kenyal yang khas, sementara rasa dagingnya masih terasa jelas di setiap potongan. Ketika disantap bersama kuah kaldu yang gurih dan hangat, urat potong ini menjadi pendamping yang membuat semangkuk bakso terasa semakin lengkap.

Selain bakso yang berbentuk gepeng ada juga bakso yang bulat di campur bakso tahu juga.
Foto : Kalingga Shagufta Islam
Untuk pencinta tetelan, bagian ini jelas menjadi salah satu alasan mengapa Bakso Gepeng 88 Pak Iman punya daya tarik lebih.
Satu hal lain yang membuat makan di sini terasa lebih lengkap adalah pilihan karbohidratnya. Pelanggan bisa memilih bihun atau kwetiau, tetapi kalau ingin sesuatu yang lebih berbumbu, kwetiau tersebut bisa dibuat yamin.
Tambahan sekitar Rp3.000 terasa sepadan karena kwetiau yamin memberikan rasa yang berbeda dari kuah bakso. Ada rasa manis dan gurih yang berpadu dengan minyak bawang, sementara teksturnya cukup mengenyangkan. Ketika disantap bersama bakso dan kuah, satu mangkuk terasa memiliki beberapa lapisan rasa yang berbeda.
Kami pun bergantian menikmati semuanya. Bakso gepeng dicelup dan diselimuti kuah berbumbu, lalu disusul kwetiau yamin. Setelah itu kembali mengambil tulang rangu, menggigit bagian dagingnya, kemudian menyeruput kuah yang sudah bercampur sambal dan jeruk.
Setelah mangkuk hampir tak menyisakan apa-apa, makan malam pun berakhir dengan perut yang terasa cukup penuh. Namun, sebelum benar-benar meninggalkan kedai, pandangan tertuju pada salah satu sisi dinding yang dipenuhi foto para figur publik yang pernah mampir. Pajangan semacam hall of fame itu terasa seperti penutup yang pas untuk pengalaman malam itu.
Popularitas memang bisa membuat orang datang karena penasaran, tetapi semangkuk bakso tetap harus mampu membuat mereka ingin kembali. Setelah mencicipi sendiri bakso gepeng ini, rasanya alasan kedai ini terus dipadati pengunjung mulai terjawab. Bakso Gepeng 88 Pak Iman menjadi salah satu kedai bakso yang layak dicoba minimal sekali, tetapi kemungkinan besar, setelah mencobanya, bukan tidak mungkin justru muncul keinginan untuk datang lagi.
Reporter/Penulis: Kalingga Shagufta Islam/Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim