Foto : Melisa Mailoa
Minggu, 16 Agustus 2026Jakarta bergerak cepat, dan di tengah padatnya rutinitas, waktu untuk sekadar membaca buku sering terlewat. Notifikasi dan layar ponsel menjadi pengisi waktu perjalanan yang paling mudah. Pada Minggu, 9 Agustus 2026, sekitar 20 orang mencoba melakukan sebaliknya, mereka membaca buku di dalam MRT dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI.
Sebelum kegiatan itu dimulai, mereka berkumpul di Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dengan buku masing-masing. Penyelenggara acara, Nabila Putri, 28 tahun, bersama Wahyu Novianto membuka kegiatan. Nabila membagikan pin berwarna merah muda sebagai tanda pengenal kepada peserta. Mereka berdiri melingkar, saling memperkenalkan diri dan berbincang sebelum akhirnya bersiap memasuki kereta.
Beberapa saat kemudian, pintu MRT terbuka. Para peserta masuk dan menempati salah satu gerbong. Hari itu gerbong kebetulan cukup lengang. Kursi dan ruang berdiri tidak dipenuhi penumpang seperti yang sering dibayangkan ketika berbicara tentang transportasi umum Jakarta. Keadaan itu memberi mereka ruang untuk membuka buku tanpa harus berdesakan.
Kereta kemudian bergerak meninggalkan Lebak Bulus. Di dalam gerbong, suasana berubah. Percakapan yang sebelumnya terdengar ketika mereka berkumpul perlahan menghilang. Satu demi satu buku terbuka. Ada yang membaca dengan memegang buku fisik, ada yang menggunakan perangkat elektronik. Orang-orang yang beberapa menit sebelumnya belum saling mengenal kini melakukan kegiatan yang sama dalam diam.
Nabila menyebut kegiatan itu sebagai bagian dari Literatour, gerakan yang ia gagas dengan mempertemukan dua kebiasaan yang sejak lama dekat dengannya yaitu membaca dan bepergian menggunakan transportasi umum.
“Aku menggabungkan dua kegiatan yang aku sukai yaitu membaca dan mengelilingi kota naik transportasi umum,” ungkap inisiator Literatour kepada detikX.
Bagi Nabila, perjalanan bukan sekadar jeda di antara tempat berangkat dan tempat tujuan. Perjalanan itu sendiri bisa menjadi ruang. Selama ini, waktu yang dihabiskan di kereta, bus, halte, atau stasiun sering diperlakukan sebagai waktu tunggu yang harus dilewati sebelum aktivitas sebenarnya dimulai. Literatour justru mencoba membalik cara pandang itu, perjalanan dapat menjadi bagian dari kegiatan membaca.

Para peserta Literatour membaca buku di MRT
Foto : Melisa Mailoa
MRT dari Lebak Bulus menuju Bundaran HI hanya membutuhkan sekitar 30 sampai 31 menit. Waktu yang bagi sebagian orang mungkin habis untuk menatap layar, membalas pesan, menggulir media sosial, atau sekadar memandangi jalanan dari balik jendela, bagi peserta Literatour berubah menjadi beberapa puluh menit membaca.
Merry Apsari, 31 tahun, termasuk di antara mereka. Ia mengetahui Literatour dari Instagram dan baru pertama kali ikut. Ketertarikannya kali ini bukan hanya karena kegiatan membaca bersama, melainkan juga karena perjalanan tersebut berakhir dengan sebuah kegiatan membuat pouch buku.
Ia membawa The Book of Laughter and Forgetting karya Milan Kundera. Buku itu baru mulai ia baca, sehingga perjalanan menuju Bundaran HI menjadi kesempatan untuk meneruskan beberapa halaman tanpa harus menyediakan waktu khusus di rumah.
“Seru banget sih karena kita naik MRT dari Lebak Bulus ke Bundara HI, jadi ada cukup banget waktu buat baca buku. Aku udah baca seperlima bukunya. Tadi saja ada yang bilang bisa baca 20-30 halaman buku,” katanya.
Merry sebenarnya sudah terbiasa membaca di transportasi umum. Bedanya, selama ini ia lebih sering melakukannya sendirian atau hanya bersama seorang teman. Membaca bersama belasan orang yang melakukan hal serupa memberikan pengalaman lain. Alih-alih menjadi aktivitas individual yang membutuhkan usaha untuk mengabaikan lingkungan sekitar, membaca justru terasa lebih mudah ketika orang-orang di sekitarnya juga melakukan hal yang sama.
“Enak jadi ada temannya. Kalau sendiri kadang malah bisa terdistraksi dengan apa yang terjadi di sekitar kita, ini lebih fokus rasanya,” kata Merry. Ketika sekelompok orang membuka buku secara bersamaan, keberadaan mereka justru menciptakan semacam kesepakatan tidak tertulis, selama perjalanan ini, perhatian boleh diarahkan ke halaman.
Merry tumbuh besar dengan buku. Ia bercerita bahwa ayahnya sejak kecil lebih sering membelikannya buku daripada mainan. Karena itu, membaca bukan aktivitas yang baru ia temukan ketika dewasa. Buku telah menjadi bagian dari kesehariannya, termasuk ketika ia bepergian menggunakan transportasi umum.

Peserta Literatour berfoto bersama setelah sesi workshop membuat pouch kit
Foto : dok Literatour
“Aku kemana-mana naik transportasi umum. Kebetulan rumah dekat stasiun kereta, ada halte bus dan angkot juga. Jadi kalau kemana-mana lumayan terbiasa bawa buku untuk mengisi waktu dan mengurangi screen time,” kata Merry.
Bagi Nabila, persoalan fokus memang tidak bisa dilepaskan dari kebiasaan membaca di ruang publik. Ia sendiri memiliki cara untuk mengurangi gangguan dari lingkungan sekitar.
“Aku biasanya pakai earbud yang ada noise cancelling-nya, itu salah satu solusi yang aku tawarkan supaya bisa fokus dan nggak terdistraksi dengan sekitar saat baca buku di transportasi umum atau untuk memulai bisa pergi ke taman yang lebih sepi,” ucap Nabila.
Di transportasi umum, pembaca tetap harus bernegosiasi dengan ruang. Ia harus mempertimbangkan ukuran buku, kondisi gerbong, posisi tubuh, kepadatan penumpang, bahkan suara dari luar. Karena itu Nabila jarang membawa buku yang terlalu tebal ketika bepergian. Ia mempertimbangkan ruang yang tersedia, bukan hanya untuk dirinya sendiri tetapi juga untuk pengguna transportasi umum lainnya.
“Aku membaca buku fisik atau e-reader, tergantung situasinya. Kalau bukunya tidak terlalu berat, aku lebih sering membawa buku fisik. Soalnya, di transportasi umum kita harus berbagi ruang dengan pengguna lain, jadi perlu sadar bahwa ruang yang tersedia terbatas. Bahkan buat teman-teman yang terbiasa mendengarkan audiobook, mungkin lebih praktis lagi karena tinggal mendengarkannya lewat earphone,” tutur Nabila. Saat ini, Metode Jakarta karya Vincent Bevins dan Sihir Perempuan karya Intan Paramaditha menjadi dua buku favorit Nabila.
Literatour sendiri lahir bukan semata-mata dari kegemaran membaca. Ada persoalan kota yang berada di belakangnya. Gerakan ini Nabila buat pada 2022, ketika ia melihat persoalan transportasi umum di kota asalnya Surabaya. Kota itu memiliki transportasi umum, tetapi menurut Nabila, pilihan itu belum selalu dapat diandalkan untuk mobilitas sehari-hari. Dari situ muncul kegelisahan yang kemudian ia bawa ke dalam Literatour. Ia ingin orang lebih sering menggunakan transportasi umum.
“Literatour ini sendiri selain untuk ngajak orang baca di transportasi umum, tapi juga untuk meningkatkan awareness bahwa transportasi umum di Surabaya banyak yang butuh, tapi kok nggak bisa terakomodir semaksimal mungkin seperti di Jakarta. Dengan adanya demand, aku berharap pemerintah bisa menambah armada atau jam layanan,” ungkap Alumni Sarjana Perencanaan Wilayah dan Kota salah satu universitas di Surabaya.

'Mencuri' waktu untuk membaca di sesi perjalanan
Foto : dok Literatour
Ketika Nabila bekerja di Jakarta setelah pandemi Covid-19, ia mencoba membawa gagasan tersebut ke kota ini. Responsnya ternyata cukup besar. Ada orang yang tertarik karena ingin mengunjungi titik-titik literasi di Jakarta. Ada pula yang datang bukan karena ingin mencari perpustakaan atau toko buku tertentu, melainkan karena ingin merasakan membaca dalam diam bersama orang lain.
Jakarta menyediakan medan yang berbeda. Jaringan transportasi publik yang semakin terhubung membuat perjalanan menuju ruang-ruang literasi menjadi lebih mungkin dilakukan. Stasiun, halte, perpustakaan, toko buku, hingga kedai yang menyediakan ruang membaca dapat dijangkau melalui perjalanan menggunakan transportasi umum. Namun Nabila tidak menganggap persoalan selesai hanya karena pilihan moda transportasi semakin banyak.
“Kalau dari aku lihat transportasi umum di Jakarta sudah cukup banyak menjangkau titik ruang baca. Tapi memang waktu tunggu sampai jam operasionalnya masih bisa dimaksimalkan lagi. Soal nyaman nggak nyaman relatif ya, ada beberapa transportasi umum yang nyaman kayak LRT, MRT, tapi ada yang belum cukup nyaman juga,” pungkas Nabila. Kereta dan pesawat menjadi moda transportasi favoritnya untuk membaca buku.
Bagi Nabila, membaca bahkan tidak selalu harus dilakukan ketika kendaraan sedang melaju. Titik transit juga bisa menjadi ruang membaca. Halte, stasiun, atau perjalanan bus yang terhambat kemacetan dapat diubah menjadi waktu untuk membuka buku. “Killing time versiku adalah membaca buku.”
Nabila lahir dan besar dalam keluarga pembaca. Sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah pertama, perjalanan panjang dengan kereta antara Jakarta dan Surabaya sudah menjadi bagian dari pengalaman membacanya. Saat itu belum ada platform streaming film seperti sekarang. Perjalanan belasan jam tidak diisi dengan katalog video yang bisa dipilih kapan saja. Buku menjadi salah satu teman perjalanan yang tersedia.
Membaca buku di ruang publik bagi sebagian orang bisa menimbulkan rasa sungkan. Ada yang khawatir aktivitas itu terlihat seperti ajang pamer atau mencari perhatian. Nabila sendiri pernah mengalami book shaming, yakni ketika seseorang merasa diremehkan, diejek, atau dibuat malu karena kebiasaannya membaca buku. Pengalaman itu terjadi saat ia masih SMP dan SMA, meski bukan ketika membaca di transportasi umum. Kini, melalui Literatour, ia ingin orang tidak perlu ragu membuka buku di mana pun selama tidak mengganggu orang lain.
“Membaca itu tidak menyakiti siapa pun dan membaca adalah hak kamu, jadi kamu jangan takut dan baca dimana saja,” pungkas Nabila.
Pada akhir kegiatan hari itu, peserta membawa pulang pouch yang mereka buat sendiri. Tetapi mungkin yang lebih penting adalah pengalaman selama perjalanan. Sekitar setengah jam ketika beberapa orang yang sebelumnya tidak saling mengenal duduk dalam gerbong yang sama dan memilih membaca.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim