Putar Suara
Putar Device Anda untuk gambar yang lebih baik

Jejak Kejayaan Tas Bogor yang Menemukan Rumah Baru

Fotografer
Rifkianto Nugroho

Nama Tajur pernah menjadi ikon industri tas Kota Bogor. Di sepanjang Jalan Raya Tajur, deretan toko menjual tas produksi lokal yang menjadi tujuan wisata belanja sekaligus menghidupi ribuan pekerja. Salah satu pelaku utamanya adalah PT Sumber Karya Indah (SKI), yang berdiri pada 1990 dan mengembangkan sentra baru di Katulampa pada 2002. Di pabrik inilah Sugianto (67) menghabiskan puluhan tahun sebagai penjahit. Bersama rekan-rekannya, ia belajar membuat tas tanpa pendidikan formal—hanya bermodal sebuah tas contoh yang dibongkar, dipelajari polanya, lalu dijahit kembali hingga lahir produk baru. Pada masa kejayaannya, sekitar 50 penjahit mampu menghasilkan hampir 2.400 tas setiap pekan untuk dipasarkan di kawasan SKI, memasok department store, hingga memenuhi pesanan perusahaan dan berbagai kegiatan.

Namun kejayaan Tajur perlahan memudar. Gempuran produk impor, perubahan perilaku belanja, dan pesatnya perkembangan marketplace membuat toko-toko di kawasan itu tak lagi seramai dua dekade silam. Sebagian pabrik berhenti berproduksi, sementara banyak penjahit kembali ke kampung halaman dan membuka usaha sendiri. Di bengkel sederhana yang masih bertahan di Tajur, mesin-mesin jahit lawas kini lebih banyak digunakan untuk memperbaiki tas daripada membuat yang baru. Meski begitu, pelanggan lama tetap datang membawa tas buatan Tajur yang telah menemani mereka selama puluhan tahun. Bagi Sugianto, setiap tas yang diperbaiki menjadi pengingat masa ketika industri tas Bogor berada di puncak kejayaannya.

Sekitar 20 kilometer dari Tajur, denyut industri tas justru hidup di Desa Bojong Rangkas, Kecamatan Ciampea. Hampir setiap pagi suara mesin jahit terdengar dari rumah-rumah warga. Di salah satu rumah, Suhanda (61) bersama anaknya menyelesaikan pesanan tas wanita. Ia mulai belajar menjahit pada 1980-an sebagai kernet jahit, yang membantu tetangganya bekerja di Jakarta. Keahlian memotong bahan, membuat pola, hingga menjahit tas kemudian diwariskan kepada anak-anaknya dan menjadi sumber penghidupan keluarga. Berbeda dengan Tajur, yang kehilangan sebagian besar aktivitas produksinya, industri rumahan di Ciampea terus berkembang mengikuti perubahan zaman.

Perubahan terbesar terjadi ketika pandemi COVID-19 mendorong para perajin beradaptasi dengan pemasaran digital. Suhanda kini mampu memproduksi sekitar 300 tas setiap pekan. Sementara itu, di Adiba Collection, sistem produksi rumahan dijalankan dengan membagi proses kerja ke puluhan rumah warga. Bahan baku dipotong di satu lokasi, kemudian dijahit oleh para penjahit di rumah masing-masing sebelum dikumpulkan kembali untuk dipasarkan melalui siaran langsung di media sosial dan marketplace. Model ini membuat puluhan keluarga tetap memiliki pekerjaan tanpa harus meninggalkan lingkungan tempat tinggalnya.

Meski demikian, tantangan baru terus bermunculan. Kenaikan nilai tukar dolar membuat harga bahan baku dan aksesori semakin mahal, sementara persaingan di marketplace menekan harga jual dan keuntungan para perajin. Namun suara mesin jahit di Bojong Rangkas masih terus terdengar, menjadi penanda bahwa industri tas Bogor belum benar-benar hilang. Sementara dulu Tajur menjadi wajah kejayaan industri tas, kini semangat yang sama hidup di halaman-halaman rumah warga Ciampea. Industri itu tidak lenyap, melainkan menemukan rumah barunya.

Pengendara melintas di Jalan Raya Tajur, Bogor, Senin (3/8/2026). Jalan tersebut dulunya dikenal sebagai tujuan wisata belanja, selama puluhan tahun bus pariwisata berhenti memadati toko-toko tas.

Toko Tas Sumber Karya Indah (SKI) masih buka, menanti para pengunjung yang ingin berbelanja tas legendaris.

Tas menggantung lengkap dengan harga yang kini di diskon untuk menarik pengunjung.

Sugianto (68) penjahit generasi pertama di pabrik produksi tas Tajur masih bertahan, kini ia disibukkan dengan pelanggan yang kembali ke pabrik dan ingin mereparasi tas yang telah puluhan tahun dibuatnya.

Seorang pekerja menyelesaikan reparasi tas di pabrik produksi tas Tajur.

Mesin jahit yang telah puluhan tahun beroperasi kini masih mendecit, menyelesaikan permintaan reparasi yang datang.

Suasana pabrik tas Tajur, Bogor. Mayoritas pekerja telah dirumahkan, kini menyisakan beberapa pekerja dan burung peliharaan di kandang.

Suhanda (61) bersama anaknya tampak teliti menyelesaikan pesanan tas wanita.

Sejak 2017, bahan baku dipotong di satu lokasi, lalu dibawa ke rumah-rumah warga untuk dijahit. Setelah selesai, seluruh hasil produksi dikumpulkan kembali sebelum dipasarkan melalui siaran langsung di media sosial dan marketplace.

Host Live saat menjelaskan produk tas di Adiba Collection, Ciampea, Bogor, Selasa (4/8/2026).

Ribuan tas usai diproduksi siap dipasarkan menggunakan platform online, kini semakin banyak produsen rumahan yang menjual produknya langsung melalui marketplace. Persaingan harga menjadi semakin ketat dan keuntungan para penjahit semakin tipis.

Dua pekerja mempacking tas-tas hasil produksi dan dikirim langsung ke berbagai daerah di Indonesia, kini pelanggan tak lagi datang ke Bogor namun tas hasil buatan Bogor yang datang ke rumah.

Fotografer
Rifkianto Nugroho
Editor
Agung Pambudhy
Desainer
Dedi Arief Wibisono

detik detik
***Komentar***
SHARE