INTERMESO

Di Balik Keputusan Melepas WNI

“Indonesia tetap rumah pertamaku. Tapi sekarang Belanda adalah rumah tempat aku membangun kehidupan”

Foto : iStock

Senin, 3 Agustus 2026

Hidup manusia tak pernah bisa ditebak. Jalannya kerap bergerak maju ke arah yang tak pernah direncanakan, membawa seseorang ke tempat, keputusan, dan identitas yang dulu mungkin tak pernah terpikirkan.

Tahun 2005, Merry, seorang perempuan asal Bekasi, untuk pertama kalinya meninggalkan keluarga dan rumah yang nyaman. Ia pindah ke Venlo, sebuah kota kecil di Belanda yang berbatasan langsung dengan Jerman, mengikuti suaminya. Di negeri baru itu, Merry memulai semuanya dari nol. Bahasa menjadi tembok pertama yang harus ia hadapi. Adaptasi pun tak mudah. Rasa asing, sepi, dan rindu rumah kerap datang bersamaan.

Tak terasa dua puluh tahun berlalu. Kini, dengan pakaian rapi dan langkah yang mantap, Merry menghadiri upacara naturalisasi kewarganegaraan, sebuah momen penting dalam perjalanan hidupnya. Di ruangan itu, ia tak sendiri. Belasan imigran dari berbagai negara turut hadir, masing-masing membawa cerita panjang tentang perpindahan, pencarian, dan harapan akan kehidupan yang lebih stabil.

Merry mengucapkan sumpah kewarganegaraan dalam bahasa Belanda, bahasa yang dulu terasa begitu asing di telinganya. Dalam sumpah itu, ia berjanji untuk mematuhi hukum dan nilai-nilai yang berlaku di negeri tersebut. Seorang burgemeester, atau wali kota setempat, kemudian menghampirinya, memberikan bunga serta salam hangat sebagai tanda penerimaan dan pengakuan resmi sebagai bagian dari masyarakat Belanda.

“Awal-awal sedih sih untuk melepas kewarganegaraan Indonesia, ya. Karena bagaimana pun aku lahir dan besar di Indonesia. Aku menikmati masa kecil, sekolah, punya keluarga di sana. Jadi ada rasa berat,” ucap Merry saat dihubungi detikX.

Keputusan itu bukan sesuatu yang diambil dalam semalam. Merry mengaku sudah memikirkannya selama hampir satu dekade. Pergulatan batin, pertimbangan masa depan, hingga identitas diri terus berputar di kepalanya. Hingga akhirnya, pada November 2024, ia mengajukan permohonan perubahan status dari permanent residence menjadi warga negara Belanda. Prosesnya berjalan lebih cepat dari yang ia bayangkan, pada Februari 2025, semuanya rampung.

“Aku maju mundur terus, ganti nggak ya,” tuturnya. “Tapi melihat kondisi Indonesia belakangan ini, aku jadi semakin yakin untuk mengambil kewarganegaraan Belanda. Merry menyebut salah satu pertimbangannya adalah kekhawatiran terhadap dinamika  sosial dan politik yang ia amati di Indonesia.

Dari seorang pendatang yang dulu kesulitan memahami bahasa dan kebiasaan masyarakat setempat, Merry perlahan mulai menemukan tempatnya. Sehari-hari ia bekerja sebagai sales di perusahaan multinasional yang bergerak di bidang bahan baku minuman dan makanan. Di rumah, wanita berusia 43 tahun ini juga menjalankan peran sebagai ibu untuk dua orang anaknya.

Sebagai seorang ibu, ia merasakan langsung bagaimana pemerintah Belanda memberikan dukungan kepada keluarga melalui berbagai fasilitas sosial. Salah satu hal yang membuatnya mampu bertahan adalah sistem kehidupan yang menurutnya memberikan rasa aman, terutama bagi keluarga dengan anak.

“Yang aku rasakan sebagai ibu, kita itu lebih tenang. Kita nggak terlalu stres mikirin biaya sekolah anak,” katanya. “Kita bukan hidup yang wah banget, bukan yang kaya raya. Aku ya kerja keras, kerja sebagai karyawan. Tapi aku merasa cukup.”

Balai Kota di kota Venlo
Foto : iStock

Di Belanda, pendidikan dasar hingga menengah mendapat dukungan dari negara. Selain itu, keluarga juga mendapatkan berbagai tunjangan anak seperti Kinderbijslag yang diberikan secara berkala untuk membantu kebutuhan anak.

“Subsidi anak itu nggak melihat orang tua kaya atau miskin. Selama punya anak dan memenuhi syarat, ada bantuan. Anak kecil dapat, makin besar juga ada. Sampai umur 18 tahun masih ada support,” jelas Merry.

Menurutnya, dukungan tersebut membuat orang tua lebih fokus pada tumbuh kembang anak, bukan hanya mengejar pemasukan untuk menutup kebutuhan dasar.

“Buat aku itu salah satu hal yang bikin nyaman tinggal di sini. Negara itu terasa hadir. Kita tetap harus kerja, tetap bayar pajak yang besar, tapi kita tahu ada sistem yang membantu kalau kita punya keluarga,” katanya. Bagi Merry, rasa aman inilah yang kemudian menjadi salah satu alasan mengapa ia mulai melihat Belanda bukan sekadar tempat tinggal sementara, tetapi sebagai rumah.

Rumah Lama Tak Lagi Terasa Sama
Sebelum akhirnya memutuskan mengganti kewarganegaraan, Merry sebenarnya pernah mencoba mencari jawaban, apakah Indonesia masih bisa menjadi tempat ia dan keluarganya kembali. Jawaban atas pertanyaan itu sempat ingin ia cari dengan cara kembali ke Indonesia. Pada 2017, Merry dan suaminya meninggalkan Belanda dan memulai kehidupan baru di tanah kelahirannya.

Saat itu, keinginan untuk pulang bukan sekadar nostalgia. Merry dan suaminya benar-benar membayangkan Indonesia sebagai tempat untuk menghabiskan masa depan. Mereka ingin menjalani hidup yang lebih santai, lebih dekat dengan keluarga, sekaligus mencoba membangun usaha sendiri.

“Kita waktu itu mikirnya, mungkin bisa for good di Indonesia. Suami aku juga sebenarnya lama kepikiran pengin pindah. Dia membayangkan hidup yang lebih slow living,” cerita Merry.

Rencana itu kemudian diwujudkan. Mereka membawa anak-anak kembali ke Bekasi dan mencoba menjalani kehidupan di Indonesia. Bahkan, Merry sempat menyiapkan rencana membuka usaha dengan menggunakan tabungan yang mereka kumpulkan selama tinggal di Belanda. Namun kenyataan yang mereka temui ternyata jauh berbeda dari bayangan.

“Awalnya aku pikir, ini kan negara sendiri. Harusnya lebih gampang karena aku lahir dan besar di sini. Tapi ternyata waktu tinggal lagi di Indonesia, aku merasa kok aku malah asing,” ungkapnya.

Merry menyadari bahwa Indonesia yang ia tinggalkan pada 2005 bukan lagi Indonesia yang sama ketika ia kembali lebih dari satu dekade kemudian. Perubahan itu tidak hanya terjadi pada lingkungan, tetapi juga pada dirinya sendiri. “Kalau untuk liburan ke Indonesia aku masih suka. Aku senang pulang, ketemu keluarga, makan makanan Indonesia. Tapi untuk tinggal lagi ternyata beda,” tuturnya. Setelah sekitar satu tahun mencoba bertahan, Merry dan suaminya akhirnya mengambil keputusan sulit dan kembali ke Belanda.

Pemukiman di kota Venlo dilihat dari atas drone
Foto : iStock

Kembali ke Belanda juga berarti mereka harus membangun ulang kehidupan yang sempat mereka tinggalkan. Namun kali ini, Merry kembali dengan pemahaman baru bahwa rumah bukan selalu tempat seseorang dilahirkan, tetapi tempat seseorang sudah membangun kehidupan.

“Setelah mengalami tinggal lagi di Indonesia, aku jadi sadar. My home is in Netherlands. Bukan berarti aku lupa Indonesia, tapi kehidupan aku sudah ada di sini,” ujarnya.

Pengalaman mencoba kembali ke Indonesia justru menjadi salah satu titik penting dalam keputusan Merry mengganti kewarganegaraan. Setelah kembali ke Belanda, ia mulai melihat masa depan dengan perspektif berbeda. Ia tidak hanya memikirkan dirinya sendiri, tetapi juga anak-anak yang kini sudah tumbuh besar di Belanda.

“Kalau aku lihat anak-anak, mereka punya kehidupan di sini. Teman-temannya di sini, sekolahnya di sini, masa depannya juga di sini. Aku nggak mau nanti ketika mereka dewasa, aku malah jauh dari mereka,” katanya.

Paspor Baru, Dunia Lebih Terbuka
Selain faktor keluarga, ada alasan praktis lain yang semakin mendorongnya untuk mengambil kewarganegaraan Belanda. Sebagai orang yang memiliki hobi jalan-jalan, Merry merasa paspor Indonesia sering menjadi hambatan. Selama bertahun-tahun, setiap kali ingin bepergian ke negara tertentu, ia harus melewati proses administrasi yang panjang.

Traveling itu salah satu alasan juga. Aku suka jalan-jalan. Di Belanda kalau musim panas kita sering road trip naik mobil. Tapi kalau mau keluar Belanda, urusan visa itu kadang bikin malas,” katanya.

Sebelum menjadi warga Belanda, setiap perjalanan ke negara tertentu membutuhkan persiapan berbulan-bulan. Dokumen yang harus disiapkan pun tidak sedikit. Bahkan untuk mengurus visa, Merry harus meluangkan waktu khusus karena banyak proses yang harus dilakukan di Den Haag.

“Aku tinggal di Breda sekarang. Kalau harus ke Den Haag itu bukan cuma perjalanan sebentar. Harus ambil cuti kerja, keluar biaya transportasi, kadang prosesnya juga nggak sekali datang langsung selesai,” katanya.

Warung Anisah, restoran Indonesia di Belanda yang tawarkan menu nasi Padang
Foto : YouTube Keluarga Bahagia di Jerman

Ia mencontohkan ketika ingin bepergian ke Inggris. Secara jarak, negara tersebut sangat dekat dari Belanda, tetapi status sebagai pemegang paspor Indonesia membuatnya tetap harus melewati proses visa.

“Bayangin, Inggris itu dekat banget dari sini. Tapi karena paspor Indonesia tetap harus apply visa. Kadang biaya visanya bisa lebih mahal daripada tiket pesawatnya,” ujar Merry.

Setelah memiliki paspor Belanda, perbedaannya terasa sangat besar. “Kemarin ke Jepang, Korea, itu rasanya wah banget. Tinggal lihat tiket, isi persyaratan yang lebih sederhana, nggak harus mikirin visa. Rasanya lebih bebas,” katanya. Ia merasakan bagaimana kekuatan paspor dapat membuka lebih banyak kesempatan bagi seseorang untuk bergerak.

Identitas Indonesia di Tanah Belanda
Semakin ia melihat bahwa keputusan tersebut bukan tentang melupakan Indonesia, melainkan memilih tempat yang paling sesuai dengan kehidupan yang sudah ia bangun.

“Buat aku kewarganegaraan itu memang paper, dokumen. Bukan berarti aku jadi lupa kacang akan kulitnya,” tutur Merry.

Ia bahkan mengaku tidak nyaman ketika melihat sebagian diaspora yang setelah pindah kewarganegaraan justru memutus hubungan dengan negara asal atau merasa lebih tinggi dibanding orang yang masih tinggal di Indonesia.

“Aku nggak suka kalau ada orang yang setelah pindah terus menjelek-jelekkan Indonesia. Bagaimanapun juga aku pernah hidup 20 tahun di sana. Itu bagian dari aku,” ujarnya.

Karena itu, meski sudah menjadi warga negara Belanda, hubungan Merry dengan Indonesia tidak pernah benar-benar putus. Ia masih mengikuti perkembangan berita Indonesia, masih menikmati budaya Indonesia, dan masih aktif berinteraksi dengan komunitas orang Indonesia di Belanda.

Di Breda, tempat tinggalnya sekarang, sebagian besar lingkaran sosial Merry justru berasal dari sesama diaspora Indonesia. Mereka sering mengadakan acara bersama, mulai dari makan-makan, potluck, merayakan ulang tahun, hingga bepergian bersama.

“Aku malah lebih sering kumpul sama orang Indonesia. Kita punya cerita yang mirip. Sama-sama datang dari Indonesia, sama-sama pernah adaptasi di sini,” katanya. “Kadang kita bikin acara kecil-kecilan, bawa makanan masing-masing. Ada yang masak rendang, nasi kuning, macam-macam.”

Bagi Merry, berkumpul dengan sesama diaspora memberinya rasa nyaman yang berbeda. Mereka memahami pengalaman hidup antara dua budaya yang tidak selalu mudah dijelaskan kepada orang lain. “Kita sama-sama tahu rasanya datang ke negara baru. Ada masa kangen rumah, kangen makanan, kangen suasana Indonesia,” katanya.

Bahkan untuk urusan makanan, Merry masih rutin mencari cita rasa Indonesia. Salah satu tempat favoritnya adalah kawasan Den Haag yang dikenal memiliki banyak toko dan restoran Indonesia.

“Kalau kangen makanan Padang, aku tinggal ke Den Haag. Ada satu restoran favorit aku di sana. Malah kadang aku merasa makanannya lebih enak daripada yang pernah aku makan di Indonesia,” ujarnya sambil tertawa.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE