INTERMESO

Berlari dari Utara Jakarta

JIS menjadi ruang olahraga alternatif bagi warga yang ingin menikmati suasana berbeda dari GBK.

Foto : Melisa Mailoa

Minggu, 26 Juli 2026

Langit Jakarta Utara masih menyisakan warna jingga ketika Gloria Virginta Limbong mematikan mesin motornya di area parkir Jakarta International Stadium (JIS). Jam di ponselnya menunjukkan pukul 17.00 WIB, waktu yang tanggung antara pulang kerja dan gelap malam. Di sampingnya, Sintia sudah lebih dulu melepas helm, merapikan rambut yang sedikit kusut tertiup angin sepanjang perjalanan dari Tanjung Priok.

Seperti kebiasaan baru yang pelan-pelan terbentuk, sore hari tak lagi berhenti di rumah atau café hits, melainkan di lintasan jogging yang melingkari stadion megah itu. “Dulu kalau mau lari pasti mikirnya ke GBK (Gelora Bung Karno). Kebetulan aku juga pernah beberapa kali olahraga di sana,” kata Gloria, 28 tahun. “Tapi dari rumah ke sana agak ribet. Harus naik ini-itu, belum lagi macet. Sekarang ya lebih realistis aja, yang dekat dari rumah, yang bisa kita datangi tanpa banyak mikir.”

Beberapa tahun terakhir, Gelora Bung Karno memang seperti pusat gravitasi olahraga warga Jakarta. Namun sejak Jakarta International Stadium, atau JIS, resmi berdiri dan dibuka pada 2022, peta kebiasaan itu perlahan berubah. Tidak sepenuhnya berpindah, tapi setidaknya bertambah pilihan.

Lintasan jogging di JIS yang utama berada di area concourse, ruang terbuka luas di tingkat atas stadion yang mengelilingi bangunan utama. Area ini terhubung langsung dengan ramp barat dan timur, sekaligus menjadi jalur sirkulasi penonton dengan sekitar 53 pintu akses ke dalam stadion. Dalam praktik sehari-hari, concourse berubah fungsi menjadi jalur olahraga favorit warga. Satu putaran di sini kira-kira mencapai 1 kilometer, tergantung jalur yang dipilih, apakah di sisi terluar, tengah, atau bagian dalam.

Selain concourse, JIS juga memiliki lintasan jogging di Sky View Deck yang berada di lantai atas stadion. Berbeda dengan concourse yang jadi jalur utama aktivitas harian, Sky View Deck menawarkan pengalaman berlari dari ketinggian dengan pemandangan kota dan laut utara Jakarta. Jalur ini lebih sering menjadi alternatif atau pelengkap, sementara sebagian besar pengunjung tetap memilih concourse karena aksesnya lebih mudah, lebih luas, dan langsung terhubung dengan pintu masuk utama stadion. Di kejauhan, samar-samar terlihat garis laut utara Jakarta. Gloria dan Sintia biasanya menghabiskan waktu sekitar satu hingga satu setengah jam di area concourse, mereka berlari pelan, kadang berhenti, kadang hanya berjalan sambil mengobrol.

Commuter Line salah satu angkutan umum yang bisa mengantarkan ke JIS

Foto : Melisa Mailoa

Denah Stadion JIS yang bisa kita lihat di sekitaran stadion

Foto : tangkapan layar

Stadion JIS bisa di pergunakan untuk berlari warga.

Foto : Melisa Mailoa

“Enaknya di sini tuh nggak terlalu penuh, lari nggak takut nabrak orang,” ujar Sintia, 25 tahun, yang bekerja di divisi yang sama dengan Gloria di Pegadaian. “Kita bisa lari tanpa harus zig-zag ngindarin orang. Kalau di GBK kan, apalagi jam segini, padat banget. Kadang malah lebih capek ngatur langkah daripada larinya.” Ia lalu menambahkan, suasana di JIS terasa lebih santai, tidak terlalu bising, tidak terlalu ramai oleh komunitas besar. Ada jarak yang cukup antar orang, ruang yang membuat aktivitas terasa lebih personal.

Meski begitu, tidak semua hal di JIS sempurna. Gloria menunjuk ke area terbuka di sekitar stadion yang tampak luas, tapi minim pepohonan. Matahari sore, yang tadi terasa hangat, perlahan berubah menyengat sebelum benar-benar tenggelam. “Masih gersang. Kalau datangnya agak siang dikit, panasnya kerasa banget. Terus di dalam juga belum banyak tempat makan atau minum. Jadi biasanya kita beli dulu di luar, atau nanti sekalian makan di luar habis olahraga.”

Perjalanan Gloria dan Sintia ke JIS relatif sederhana. Dari Tanjung Priok, mereka memilih naik motor, sekitar 15–20 menit perjalanan di luar jam sibuk. Parkir yang luas menjadi salah satu alasan mereka nyaman datang berulang kali. Namun bagi warga yang tinggal lebih jauh, JIS kini tidak lagi terasa terpencil. Integrasi transportasi umum dalam dua tahun terakhir mengubah banyak hal. Rute TransJakarta seperti koridor 14 (Senen–JIS) dan 14A (Juanda–JIS) memungkinkan akses langsung ke kawasan stadion. Sementara itu, kehadiran Stasiun KRL Jakarta International Stadium yang diresmikan pada Juni 2026 menjadi titik balik penting.

Dari stasiun tersebut, pengunjung hanya perlu berjalan kaki sekitar 10 menit menuju stadion. Jalurnya sudah terhubung dengan koridor beratap, tangga, hingga jembatan penyeberangan orang (JPO) yang langsung mengarah ke area JIS. Bahkan, dari peron, penumpang tidak perlu melakukan tap out terlebih dahulu untuk melanjutkan perjalanan. Alurnya dibuat mengalir, seolah perjalanan belum benar-benar selesai hingga kaki benar-benar menapak di halaman stadion. Integrasi ini bukan hanya soal kemudahan, tapi juga soal mengurai kemacetan, masalah klasik setiap kali ada acara besar di JIS.

Beberapa ratus meter dari tempat Gloria dan Sintia berlari, Muhammad Yusuf baru saja menyelesaikan putaran ketiganya. Napasnya masih stabil, meski keringat sudah membasahi kaus yang ia kenakan. Usianya 18 tahun, siswa kelas akhir di SMAN 40, dan tinggal tidak jauh dari stadion, cukup berjalan kaki lima sampai sepuluh menit. Baginya, JIS bukan sekadar tempat olahraga, tapi juga ruang baru untuk mengisi waktu setelah sekolah.

Seorang warga melakukan olahraga lari di sepuran stadion JIS
Foto : Tangkapan layar

“Dulu saya lari di GOR dekat rumah, tapi ya gitu, pendek banget rutenya,” kata Yusuf sambil duduk di pinggir lintasan. “Kalau di sini lebih panjang, jadi rasanya lebih puas. Bisa atur pace juga, nggak berhenti-berhenti.” Ia biasanya datang tiga sampai empat kali seminggu, kadang sendiri, kadang bersama pacarnya. Waktu yang dihabiskan tidak jauh berbeda dengan Gloria dan Sintia, sekitar satu jam lebih, tergantung kondisi tubuh dan cuaca.

Ada kebanggaan tersendiri dalam cara Yusuf memandang JIS. Stadion ini, baginya, bukan lagi tempat yang jauh atau hanya untuk event besar, melainkan bagian dari keseharian. “Kayak punya tempat personal sendiri gitu, ada spot buat duduk-duduk santai juga sambil menikmati sunset,” ujarnya. “Apalagi malam-malam, lampunya nyala, terus anginnya enak. Bikin pengin balik lagi.” Namun ia juga menyadari, tidak semua orang punya kemewahan tinggal sedekat itu. Karena itu, ia menyebut akses transportasi baru sebagai hal yang penting, bukan hanya untuk penonton konser atau pertandingan, tapi juga untuk orang-orang yang ingin sekadar berlari.

Secara historis, gagasan pembangunan stadion ini sudah muncul sejak 2008, ketika Jakarta masih dipimpin Fauzi Bowo. Lahan di kawasan Taman Bersih Manusia Wibawa (BMW) yang sempat terlibat sengketa panjang akhirnya bisa digunakan setelah melalui berbagai fase pemerintahan, dari Joko Widodo, Djarot Saiful Hidayat, hingga Anies Baswedan yang kemudian meresmikannya pada 19 April 2022. Stadion ini awalnya dirancang sebagai pengganti Stadion Lebak Bulus sekaligus simbol ambisi Jakarta memiliki venue berstandar internasional.

Dalam perjalanannya, JIS tidak hanya menjadi rumah bagi sepak bola, tetapi juga panggung bagi berbagai perhelatan besar. Piala Dunia U-17 2023 digelar di sini, disusul konser musisi internasional seperti Maroon 5 dan Twice, hingga ajang penghargaan Golden Disc Awards ke-38 pada awal 2024. Stadion dengan atap buka-tutup ini memang dibangun dengan konsep multi guna, ruang yang bisa berubah fungsi sesuai kebutuhan zaman.

Fenomena ini tidak serta-merta menggantikan posisi GBK. Hingga kini, kawasan di Jakarta Pusat itu tetap menjadi magnet, ikon yang hidup dengan komunitas, fasilitas lengkap, dan suasana yang nyaris tidak pernah sepi.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

[Widget:Baca Juga]
SHARE