INTERMESO

Mengejar Napas di Arena Hyrox

Merasakan sensasi menjadi atlet Hyrox meski hanya untuk satu akhir pekan

Foto : Andhika Prasetia

Minggu, 5 Juli 2026

Sabtu siang, 27 Juni 2026, Hall 5 hingga Hall 8 Nusantara International Convention Exhibition (NICE), Pantai Indah Kapuk 2, tidak lagi terasa seperti ruang pameran. Lantai beton yang biasanya memantulkan langkah santai pengunjung berubah menjadi arena yang dipenuhi derap sepatu lari, suara alat berat yang digeser, dan napas orang-orang yang tersengal. Musik diputar kencang, tapi tetap kalah oleh sorakan penonton yang berdiri di pinggir lintasan.

Di tengah riuh itu, satu per satu peserta melintasi garis finis dengan wajah yang sama, lelah, tapi seolah ada kebahagiaan yang tidak bisa digambarkan. Diantara mereka ada yang langsung terduduk. Ada yang memeluk pasangannya. Ada pula yang hanya berdiri diam, menatap lurus ke depan, seolah tubuhnya masih mencoba memahami apa yang baru saja dilalui.

Itulah Hyrox, sebuah “fitness race” global yang dalam dua hari, 27–28 Juni 2026, menyedot lebih dari 11.500 peserta. Untuk ukuran debut di Indonesia, angka itu bukan sekadar ramai. Ia mencetak rekor sebagai penyelenggaraan dengan jumlah peserta terbesar di kawasan Asia Pasifik, melampaui kota-kota yang lebih dulu mengenalnya seperti Singapura dan Bangkok.

HYROX yang belakangan sedang tren ini merupakan kompetisi fitness yang menggabungkan lari dan latihan fungsional dalam satu rangkaian berulang. Peserta harus menyelesaikan total delapan kilometer lari yang dibagi menjadi beberapa putaran, dan setiap selesai satu putaran langsung masuk ke satu jenis tantangan fisik. Tubuh tidak pernah benar-benar istirahat karena harus terus berganti jenis aktivitas, menguji daya tahan, kekuatan, sekaligus mental dalam satu waktu.

Di antara ribuan peserta, Chintami Sinaga berdiri dengan ekspresi yang tenang. Banyak orang mengenalnya sebagai Mak Gabe, konten kreator yang selama ini identik dengan kehidupan keluarga di layar ponsel. Di sampingnya, suaminya, Dimas Parasian, yang lebih akrab disapa Daddy G, sesekali menepuk bahunya. Mereka turun di kategori doubles. Artinya, mereka akan berbagi beban, bergantian menyelesaikan setiap tantangan. Bagi sebagian orang, Hyrox mungkin tentang kompetisi. Bagi Mak Gabe, ini sesuatu yang lebih personal.

“Aku pengen buktikan akhirnya ke diriku sendiri. Meskipun sudah berumur, tapi ya apinya enggak padam. Gue nggak mau jadi complacent lagi,” ujar perempuan berusia 36 tahun yang akrab disapa Tami itu dalam YouTube Evolene Official.

Artis Nikita Willy pun ikut demam olahraga hyrox
Foto : Dok. Thread Nikita Willy

Keputusan itu tidak datang tiba-tiba. Ada keraguan, bahkan rasa takut. Tubuhnya bukan tubuh atlet. Ia sendiri mengaku pernah berada di fase obesitas, sebelum perlahan mencoba memperbaiki gaya hidup.

“Kita takut ya, kita enggak berani. Ya okelah, kita ambil tantangan ini lebih ke bentuk tanggung jawab ke diri sendiri aja.” Ketika akhirnya ia berdiri di garis start, yang ia lawan bukan lagi peserta lain, melainkan versi dirinya sendiri yang dulu.

“Nah, sejak udah mulai ngeberesin pola pikir ini, apalagi sekarang mau persiapan itu, suamiku tuh selalu bilang, ‘Ingat, kamu tuh udah mendaftarkan diri di kompetisi kayak gini, artinya kamu harus sudah memposisikan dirimu sebagai atlet,” ungkapnya.

Hyrox sendiri dibangun dari konsep yang sederhana. Peserta berlari sejauh 1 kilometer, lalu masuk ke satu stasiun latihan. Setelah itu, mereka kembali berlari, lalu menghadapi tantangan berikutnya. Pola ini diulang delapan kali, hingga total jarak lari mencapai 8 kilometer. Masalahnya, setiap stasiun bukan sekadar latihan ringan.

Setelah berlari, peserta harus menghadapi SkiErg, mendorong sled berbobot berat, menariknya kembali, melakukan burpee broad jumps sejauh puluhan meter, mendayung, membawa beban di kedua tangan, berjalan lunges dengan sandbag di pundak, hingga menutup semuanya dengan wall balls, gerakan squat sambil melempar bola ke dinding sebanyak ratusan repetisi.

Secara teori, semua itu bisa dipelajari. Secara praktik, kombinasi antara kardio dan kekuatan membuat tubuh seperti dipaksa bekerja tanpa jeda.

Basically waktu aku cobain, ya aku happy gitu. Kayak kelar tuh ada lonjakan endorfin tersendiri yang bikin kayak, wah, nagih banget,” ungkap pemilik akun TikTok @makbapakgabe ini.

Salah satu kegiatan Hyrox adalah mengangkat beban
Foto : iStock

Ia tidak sendirian. Di sekitar lintasan, puluhan pasangan memilih kategori doubles. Mereka saling memberi aba-aba, bertukar posisi, bahkan sekadar menyentuh bahu untuk memastikan satu sama lain masih kuat. Tami dan Dimas berhasil menyelesaikan seluruh rangkaian race dalam 1 jam 33 menit 35 detik.

Finally kalau soal Hyrox ini, kita tuh on the same page gitu loh. Kita sama-sama mau nge-push. Dia mau lebih jago di session-session-nya.” Bagi pasangan seperti mereka, Hyrox bukan hanya olahraga. Ia menjadi ruang baru untuk berbagi tekanan dan mungkin, membangun ulang cara mereka saling memahami.

Dalam beberapa tahun terakhir, gaya hidup urban mengalami pergeseran. Gym tidak lagi sekadar tempat membentuk tubuh, tapi juga ruang sosial. Lari bukan hanya aktivitas individu, melainkan bagian dari komunitas.

Hyrox hadir di antara keduanya, menggabungkan endurance dan strength dalam satu format yang bisa diikuti siapa saja, dari pemula hingga atlet profesional.Tidak heran jika 35 persen peserta Hyrox Jakarta datang dari luar negeri. Mereka tidak hanya datang untuk berkompetisi, tapi juga menjadi bagian dari sebuah tren global yang sedang tumbuh cepat.

Di antara nama-nama yang menarik perhatian, ada Irfan Bachdim, mantan pemain tim nasional sepak bola Indonesia. Ia turun di kategori Men Open dan mencatat waktu 1 jam 5 menit 21 detik, angka yang cukup kompetitif. Istrinya, Jennifer Bachdim, juga ikut merasakan atmosfer yang sama. Sementara di kategori doubles, Luna Maya bersama rekannya Marianne Rumantir menyelesaikan race dalam 1 jam 31 menit 49 detik.

Namun, di balik euforia itu, ada sebuah cerita viral muncul di media sosial. Seorang peserta diketahui mengalami ‘cepirit’ saat mengikuti sesi Hyrox. Cerita itu dengan cepat menyebar, memancing tawa sekaligus rasa penasaran. Banyak orang yang sebelumnya mengira Hyrox hanya lomba lari biasa mulai menyadari betapa ekstremnya kombinasi yang ditawarkan.Secara medis, fenomena itu bukan hal aneh.

Salah satu Atlet sedang melakukan rowing di olahraga Hyrox
Foto : Andhika Prasetia

“Fenomena 'cepirit' saat sedang olahraga intens itu ada namanya yaitu exercise-associated gastrointestinal symptoms. Kejadian ini gak dialami oleh semua orang, tapi angka kejadiannya meningkat pada olahraga dengan intensitas tinggi,” ucap dr. Adam Prabata di akun X miliknya @adamprabata, yang menyoroti bagaimana tekanan fisik dapat memengaruhi sistem pencernaan.

Risiko tidak berhenti di situ. Dokter spesialis olahraga, dr. Antonius Andi Kurniawan, yang terlibat dalam tim medis Hyrox Jakarta, juga mengingatkan soal potensi heat stroke.

“FOMO (fear of missing out) boleh-boleh saja, tapi memang peserta itu benar benar harus persiapan, harus melakukan pelatihan yang tepat sebelum mengikuti Hyrox,” katanya. Ia menegaskan bahwa meskipun dilakukan di dalam ruangan, kombinasi lari panjang dan latihan beban bisa menghasilkan panas tubuh yang ekstrem.

Meskipun begitu, Hyrox tetap menarik ribuan orang untuk datang. Bahkan, tiket peserta sudah habis beberapa pekan sebelum acara dimulai, meski biaya pendaftaran mencapai jutaan rupiah. Belum termasuk biaya latihan, keanggotaan gym, sepatu, hingga nutrisi yang dipersiapkan berbulan-bulan sebelumnya. Namun, angka-angka itu tampaknya tidak cukup untuk menahan antusiasme.

HYROX kini dikenal sebagai salah satu kompetisi kebugaran dengan pertumbuhan paling pesat di dunia. Format ini pertama kali digagas pada 2017 oleh Moritz Fürste, mantan atlet hoki lapangan Olimpiade asal Jerman. Ide tersebut muncul setelah upayanya membawa Hamburg menjadi tuan rumah Olimpiade 2024 tidak berhasil. Dari situ, ia mulai membangun HYROX secara bertahap, berpindah dari satu tempat latihan ke tempat lain, bahkan dengan menanggung risiko finansial pribadi, hingga akhirnya berkembang menjadi brand olahraga yang diperbincangkan secara global.

Mengutip CNBC, HYROX diproyeksikan mampu meraup pendapatan sekitar US$270 juta atau setara Rp4,86 triliun tahun ini (dengan asumsi kurs Rp18 ribu per dolar AS). Angka tersebut berasal dari rencana penyelenggaraan 121 event di 34 negara, dengan target partisipasi mencapai 1,5 juta orang. Dalam wawancara yang sama, Moritz juga menyebut bahwa konsep kompetisi hybrid ini memiliki peluang realistis untuk masuk sebagai cabang olahraga Olimpiade dalam satu dekade ke depan.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE