INTERMESO

Menepi Sejenak di Lapangan Softball GBK

Tak semua orang buru-buru pulang setelah jam kantor usai. Sebagian justru mencari tempat singgah untuk melepas penat

Foto-foto : Melisa Mailoa

Senin, 29 Juni 2026

Senja baru saja turun pelan-pelan di kawasan Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat. Langit masih menyisakan semburat jingga yang memantul di kaca-kaca gedung tinggi di arah Sudirman. Dari kejauhan, deretan lampu mulai menyala satu per satu, seperti aba-aba tak resmi bahwa hari kerja telah usai.

Pukul lima sore, arus manusia mulai bergerak, sebagian masih mengenakan lanyard kantor yang belum dilepas dari leher. Tujuannya tidak semuanya sama, tapi langkah mereka mengarah ke satu spot yang belakangan ramai diperbincangkan yaitu lapangan softball di dalam kawasan GBK.

Riani Dwi Santi berdiri menghadap deretan gedung pencakar langit di kawasan SCBD, ponselnya terangkat setinggi dada. Ia sedikit memiringkan badan, mencari sudut yang pas agar pantulan cahaya senja jatuh tepat di latar gedung-gedung tinggi di belakangnya. Kemeja putih yang ia kenakan masih rapi, dipadukan dengan rok span hitam dan jaket trendi yang memberi kesan santai, kontras dengan suasana kerja yang baru saja ia tinggalkan.

Beberapa langkah di belakangnya, adiknya, Astri Yulianti bersiap mengambil gambar.

“Coba dari situ, yang gedungnya keliatan semua,” kata Riani sambil menunjuk arah, lalu tersenyum tipis saat kamera ponsel mulai merekam. “Aku tuh dari pagi memang udah niat, pulang dari urusan kerjaan jangan langsung balik. Mumpung lagi di SCBD, sekalian aja ke sini. Lumayan kan, dapet suasana sama bisa foto-foto juga,” ujarnya.

Riani, bekerja di bidang konstruksi. Sudah tujuh tahun ia merantau dari Tasikmalaya ke Jakarta. Sementara adiknya bekerja sebagai admin di sebuah coffee shop. Meski sama-sama sibuk, keduanya jarang punya waktu senggang bersamaan.

Mereka memilih duduk di tribun, menghadap lapangan. Di tengah, beberapa pemain sedang latihan melempar, menangkap, berlari cepat mengejar bola. Sesekali terdengar bunyi pukulan keras yang memantul ke udara. Riani mengeluarkan ponselnya, membuka kamera, lalu mulai merekam.

Sejumlah anak muda sehabis bekerja melipir ke lapangan Softball untuk melepaskan penat dan membuat konten.


“Aku ke sini sebenarnya sekalian pengen bikin konten TikTok, tapi bukan yang serius-serius. Soalnya tempatnya enak, lighting-nya bagus, pemandangannya cantik,” katanya.

Astri, yang baru pertama kali datang, tampak lebih banyak mengamati. Ia sesekali memotret, lalu tertawa kecil melihat hasilnya. “Ini pertama kali aku ke sini. Kirain bakal biasa aja, ternyata lumayan seru. Bisa nonton orang main, terus kalo malam lampu gedungnya udah hidup jadi lebih bagus,” katanya.

Di sekitar mereka, tribun mulai terisi. Ada yang datang sendiri, duduk sambil menatap layar ponsel. Ada pula yang datang berkelompok, menggelar percakapan panjang yang diselingi tawa. Semakin sore, jumlah pengunjung terus bertambah. Riani dan Astri mengungsi ke area taman di sisi lapangan. Beberapa bahkan terlihat membawa alas piknik dan membentangkannya di atas rumput, menjadikannya tempat duduk sementara. Sebagian lain memilih duduk langsung di tanah, tanpa alas, seolah tak terlalu peduli dengan debu yang menempel di pakaian.

Di beberapa titik, terlihat pengunjung yang merokok, meski larangan sudah terpampang di area tersebut. Riani dan Astri memilih sedikit bergeser mencari posisi yang lebih nyaman.

“Tempatnya udah enak sih sebenarnya, cuma ya itu sayangnya masih ada aja yang ngerokok,” kata Riani.

Kalau rasa lapar mulai datang, pengunjung tak perlu keluar area. Di sekitar lapangan softball, beberapa tenant makanan sudah siap jadi pelarian paling praktis.

Ada penjual pecel dengan sayuran yang tersusun rapi di tampah besar, dan yang paling mencuri perhatian, gerobak bakso Malang yang belakangan viral di media sosial. Menjelang sore, antreannya makin panjang, mengular tanpa putus. Meski antre, pergerakannya cepat. Mangkuk demi mangkuk disiapkan tanpa jeda.

Lapangan softball di area GBK


Permainan softball yang di tonton para remaja


Bila malam tiba lampu lampu gedung menambah indah suasananya.


Nabillah Faiqah Ghaniyah Mawaddah berdiri di antrean itu bersama temannya, Amanda Dwi Cahyanti. Keduanya baru saja lulus dari SMK di Bekasi, dan kini sedang mengisi waktu luang sembari menanti panggilan kerja.

“Sekarang lagi nyari kerja, tapi belum dapet. Jadi ya kadang ke sini aja, ngisi waktu,” kata Nabillah, 18 tahun. Ia sudah dua kali datang ke lapangan ini. Sementara Amanda baru pertama kali. “Awalnya tahu dari TikTok. Banyak yang bilang seru, jadi penasaran juga deh,” ujar Amanda.

Mereka akhirnya mendapatkan dua mangkuk bakso dan memilih duduk di tribun bagian tengah. Dari sana, lapangan terlihat jelas, dengan latar gedung-gedung tinggi yang mulai menyala.

“Baksonya enak sih. Worth it, harganya Rp25 ribu satu porsi tapi isinya banyak. Walaupun antre, tapi cepet juga jalannya,” katanya. “Cuma ya… kalau sore tuh rame banget. Kadang susah dapet tempat duduk.”

Menjelang pukul enam, suasana berubah lebih padat. Di tribun, orang-orang duduk berdekatan, meski tidak saling mengenal. Percakapan kecil terdengar di mana-mana. Beberapa tertawa keras, yang lain hanya tersenyum tipis sambil menatap lapangan.

Di tengah keramaian itu, aktivitas softball terus berjalan. Komunitas-komunitas datang silih berganti. Sebagian rutin berlatih setiap hari, sebagian lagi hanya sesekali, menyesuaikan waktu luang mereka setelah jam kerja.

Lapangan ini memang terbuka untuk umum. Siapa pun bisa datang, menonton, bahkan ikut mencoba. Bagi yang penasaran, caranya tidak rumit. Pengunjung bisa langsung mendekati komunitas yang sedang bermain untuk sekadar bertanya, atau mencari informasi lewat aplikasi seperti Reclub yang memuat jadwal latihan, lokasi, hingga pendaftaran kelas.

Untuk menghilangan penat alasan pekerja hadir di lapangan softball.

Beberapa komunitas bahkan menyediakan sesi trial untuk pemula, mengajarkan teknik dasar seperti melempar, menangkap, hingga cara memegang bat dengan benar. Peralatan pun biasanya dipinjamkan, sehingga orang yang benar-benar baru bisa ikut tanpa harus menyiapkan apa-apa.

Nabillah sempat memperhatikan itu dari tempat duduknya. Matanya mengikuti satu kelompok yang sedang latihan, lalu sesekali melirik ke arah pemain yang tampak memberi instruksi.

“Aku tadi sempat kepikiran sih, ini kayaknya seru juga ya kalau dicoba. Tadi juga lihat ada yang ngajarin gitu, jadi nggak harus jago dulu,” katanya.“Cuma mungkin belum sekarang. Lagi fokus nyari kerja juga. Tapi kalau ada waktu lagi, pengen coba daftar. Kayaknya asyik.”

Kemudahan akses menjadi salah satu alasan mengapa lapangan ini cepat dikenal. Untuk menuju ke lokasi, pengunjung bisa menggunakan transportasi umum. Jika naik busway, cukup turun di Halte TransJakarta Gelora Bung Karno. Sementara jika menggunakan MRT, bisa turun di Stasiun MRT Istora Mandiri. Dari kedua titik itu, perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju Pintu 5 kawasan GBK yang berada di seberang FX Sudirman. Dari pintu tersebut, lapangan softball bisa dicapai dalam beberapa menit berjalan kaki melewati jalur pedestrian.

Lapangan softball ini dibuka untuk umum mulai pukul 06.00 hingga 22.00 WIB tanpa dipungut biaya. Siapa pun bisa masuk, duduk di tribun, atau sekadar berjalan mengelilingi area lapangan. Pengunjung diperbolehkan membawa makanan ke dalam tribun, menjadikannya bagian dari pengalaman bersantai di sana. Fasilitas pendukung pun cukup lengkap. Tersedia toilet, musala, hingga ruang ganti bagi pengunjung maupun komunitas yang berlatih

Lapangan softball ini sendiri bukan ruang baru. Ia merupakan bagian dari kompleks olahraga yang dibangun sejak era Asian Games 1962, lalu direvitalisasi besar-besaran pada 2018. Namun hari ini, fungsi ruang itu meluas, bukan hanya untuk mereka yang datang berlatih dan berolahraga, tapi juga untuk mereka yang ingin berhenti sejenak dari rutinitas.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE