INTERMESO

Mencari Bahagia Kecil Saat Dompet Menipis

Fenomena lipstick effect muncul di tengah tekanan ekonomi. Ketika hasrat konsumsi tak hilang, hanya berubah jadi lebih kecil.

Ilustrasi : iStock

Minggu, 14 Juni 2026

Pukul sembilan malam di sebuah kamar kos berukuran tiga kali empat di kawasan Bekasi, lampu putih menyala terang di depan cermin kecil yang ditempel seadanya di dinding. Di bawahnya, berderet botol-botol skincare, mulai dari toner, serum, moisturizer, hingga sunscreen. Beberapa sudah hampir habis, sebagian lainnya masih penuh, bahkan ada yang baru dibuka minggu lalu.

Nadya Safitri, seorang admin operasional di perusahaan logistik, duduk bersila di lantai, mengusap wajahnya pelan dengan kapas. Gajinya tak banyak berubah dalam tiga tahun terakhir. Harga kebutuhan sehari-hari, katanya, justru terus merangkak naik, dari belanja sayur di pasar hingga ongkos makan harian. Namun, di tengah kondisi itu, kebiasaan kecil seperti membeli kebutuhan untuk merawat wajah tetap ia lakukan, seolah menjadi satu-satunya cara agar Nadya tetap merasa baik-baik saja.

“Kalau lagi capek banget sama kerjaan atau mikirin uang, aku tuh tetap pengin ngerawat diri. Kayak… yaudah ini satu-satunya hal yang bikin aku senang dan bisa aku kontrol,” kata perempuan berusia 27 tahun ini kepada detikX. “Kadang aku juga sadar, ini sebenarnya bukan kebutuhan banget. Tapi kalau nggak beli, rasanya malah makin stres.”

Nadya bukan tipe yang sering membeli barang mahal. Ia jarang pergi liburan jauh, apalagi belanja tas atau sepatu branded. Tapi hampir setiap bulan, selalu ada satu atau dua produk kecantikan baru yang masuk ke keranjang kuning belanjanya. Biasanya rutinitas belanja kecil ini ia lakukan setelah melihat ulasan di TikTok atau rekomendasi teman.

Ia mengaku sering membeli skincare bahkan sebelum produk sebelumnya habis. Bukan karena uangnya berlebih, melainkan karena dorongan mencoba hal baru yang terasa “menyenangkan sesaat”.

Skincare kayak pelembab wajah misalnya walaupun belum habis, tapi udah pengin coba yang lain. Kayak pengin cari yang lebih cocok, padahal mungkin ya sama aja,” ujarnya kepada detikX.

Setiap pagi sebelum berangkat ke kantor, Nadya selalu menyempatkan diri berdandan tipis, walaupun itu hanya sekadar bedak, alis, dan satu pulasan lipstik untuk “menghidupkan” wajahnya. Tapi justru dari kebiasaan sederhana itu, dorongan belanjanya muncul. Ia mengaku sering checkout lipstik dengan berbagai warna, bukan karena habis, melainkan karena bosan.

Lipstick effect merupakan fenomena di mana masyarakat tetap rela mengeluarkan uang untuk barang-barang kecil yang menyenangkan, seperti lipstik, atau skincare, di tengah kondisi ekonomi yang sulit.
Foto : iStock

Tak jarang, satu lipstik belum sempat dipakai sampai tuntas, sudah tergantikan oleh yang baru, hingga akhirnya menumpuk dan kadaluarsa. Tren warna yang terus berganti, produk baru yang bermunculan, membuatnya sulit menahan diri untuk tidak ikut mencoba. Dalam sebulan, pengeluarannya untuk lipstik dan skincare bisa mencapai Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, angka yang sebenarnya cukup terasa untuk seseorang dengan gaji yang masih tak jauh dari UMR, sementara Nadya masih harus membayar kos dan rutin menyetor uang ke orang tua.

“Kadang aku beli bukan karena butuh, tapi karena lagi pengin aja. Apalagi kalau lihat warna baru atau lagi tren, rasanya pengin ikut punya juga,” ujarnya.

Fenomena seperti yang dialami Nadya bukan cerita tunggal. Di tengah tekanan ekonomi, termasuk pelemahan rupiah dan daya beli yang makin terasa sempit, banyak orang justru tetap membelanjakan uang untuk hal-hal kecil yang memberi rasa senang.

Pola ini dikenal sebagai lipstick effect, yaitu kecenderungan masyarakat untuk beralih dari pembelian besar ke “kemewahan kecil” saat kondisi keuangan memburuk. Alih-alih berhenti konsumsi, orang memilih bentuk yang lebih terjangkau seperti kopi, skincare maupun makanan viral sebagai bentuk pelarian sekaligus penghiburan.

Dalam situasi krisis, orang cenderung tetap membeli barang yang lebih terjangkau namun tetap memberi rasa mewah, dibanding benar-benar berhenti belanja sama sekali. Dengan kata lain, konsumsi tidak hilang, hanya berubah bentuk menjadi lebih kecil dan lebih “aman” bagi dompet.

Konsep ini sendiri tidak muncul tiba-tiba. Gagasan awalnya sudah diamati sejak lama, tetapi mulai populer pada awal 2000-an ketika Leonard Lauder dari Estée Lauder melihat penjualan lipstik justru naik setelah krisis tahun 2001. Ia kemudian menyebutnya sebagai “lipstick index”, semacam tanda bahwa ketika ekonomi lesu, pola belanja masyarakat ikut bergeser, bukan berhenti.

Laman Wikipedia juga mencatat bahwa fenomena serupa bahkan disebut terjadi sejak masa Great Depression, ketika penjualan kosmetik tetap tinggi di tengah krisis besar. Seiring waktu, istilah ini makin luas maknanya, tak lagi soal lipstik semata, tetapi mencerminkan kebiasaan orang yang tetap mencari pelarian kecil, entah lewat makanan, minuman, atau hiburan sederhana, sebagai cara bertahan secara emosional di tengah situasi ekonomi yang tidak pasti.

Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (CELIOS), Bhima Yudhistira, melihat fenomena ini sebagai sinyal yang tidak sepenuhnya baik bagi perekonomian.

Kebutuhan MakeUp salah satu menjadi Lipstick effect 
Foto : iStock

"Lipstick effect ini cenderung indikator yang kurang baik sebenarnya, untuk sektor secara keseluruhan. Untuk industri kosmetik, ini peluang. Tetapi bagi sektor lainnya, kalau orang membeli kosmetik secara impulsif berarti dia sedang mengurangi pembelian barang lainnya," terang Bhima.

Perubahan pola konsumsi ini, menurutnya, menunjukkan pergeseran prioritas. Masyarakat mengurangi pengeluaran besar, seperti rekreasi atau perjalanan dan menggantinya dengan belanja kecil yang memberi kepuasan instan.

“Kalau dilihat secara ekonomi, ini menandakan kondisi makro mengarah ke perlambatan,” ungkapnya.

Di sebuah pusat perbelanjaan di Supermal Karawaci, Tangerang, tampak antrean kecil di depan sebuah gerai bakery. Di balik etalase kaca, deretan kue tampak rapi. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah Dubai chewy cookie, kue dengan tampilan sederhana tapi harga yang cukup mencolok, Rp 65 ribu per buah.

Di antara antrean itu, Henny Musfidah, seorang karyawan retail baru saja menerima gajian dua hari sebelumnya. Tangannya memegang satu kotak kecil berisi kue yang sedang viral itu. Kue yang ia beli bukan kue biasa. Kulitnya tidak dibuat dari tepung seperti mochi, melainkan dari marshmallow yang dilelehkan. Di dalamnya, ada isian kunafa dengan cokelat ala Timur Tengah. Teksturnya kenyal, rasanya manis, dan tampilannya fotogenik, cukup untuk menarik perhatian di media sosial. Tren Dubai chewy cookies sendiri berawal dari Korea Selatan, dikenal sebagai jjondeuk, lalu menyebar cepat ke berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Ini Dubai Chewy Cookie yang pertama kali aku beli. Tapi ternyata mahal banget mana kecil lagi,” katanya sambil tertawa, Henny lantas membuka kotaknya dan memakan kue itu dalam sekali lahap. “Ya tapi memang enak sih… kacang pistachionya juga berasa banget.”

Henny tahu betul harga itu tidak kecil untuk satu potong kue. Ia bahkan sempat membandingkan, uang sebesar itu bisa dipakai untuk makan dua kali. Sebagai bagian dari “kaum mendang-mending”, istilah yang populer lewat celetukan Ci Mehong, seorang kreator konten yang viral karena bisnis katering, ia mengaku sempat menimbang cukup lama sebelum akhirnya memutuskan membeli.

Tapi rasa penasaran, ditambah tren yang terus berseliweran di media sosial, perlahan mengalahkan pertimbangannya sendiri. Pada akhirnya, keputusan itu bukan lagi soal kebutuhan, melainkan dorongan untuk ikut merasakan apa yang sedang ramai dibicarakan.

Seorang karyawan sedang membeli makaanan di toko roti
Foto : iStock

“In this economy beli sekali aja biar nggak penasaran. Awalnya memang pas sebelum beli tuh excited banget, tapi pas udah makan yaudah… malah agak menyesel sih,” tuturnya.

Fenomena ini menunjukkan bagaimana konsumsi kecil bisa menjadi bagian dari gaya hidup, bahkan ketika kondisi ekonomi tidak sedang baik-baik saja. Peneliti INDEF, Tauhid Ahmad, melihat hal ini sebagai bentuk respons psikologis terhadap tekanan ekonomi.

"Ketika kita menghadapi masalah keuangan, tetapi keinginan untuk belanja masih tetap ada, masyarakat tetap mengonsumsi bahkan lebih tinggi untuk barang yang sifatnya terkesan luxury (mewah) sebagai cover," katanya.

Dalam konteks ini, konsumsi bukan sekadar kebutuhan, melainkan cara bertahan. Ada keinginan untuk tetap merasa “hidup normal”, meski tekanan finansial terus menghimpit.

Namun, fenomena ini juga menyimpan sisi lain. "Perilaku konsumtif tanpa perencanaan dapat menggerus tabungan dan memicu utang," kata M. Rizal Taufikurahman dari INDEF. “Ini bisa jadi masalah ke depan kalau tidak dikontrol.”

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan tekanan harga masih terasa di masyarakat sepanjang 2026. Inflasi tahunan sempat mencapai 4,76 persen pada Februari 2026, sebelum melandai ke kisaran 3,08 persen pada Mei 2026. Kenaikan ini dipicu oleh sejumlah faktor, mulai dari penyesuaian tarif listrik hingga meningkatnya harga kebutuhan rumah tangga, yang secara langsung memengaruhi pengeluaran sehari-hari masyarakat.

Sejalan dengan itu, laporan terbaru LPEM FEB UI menyoroti bahwa tekanan terhadap kelas menengah Indonesia masih berlanjut sejak awal 2025. Hal ini tercermin dari melemahnya konsumsi rumah tangga dan kecenderungan masyarakat menahan belanja untuk kebutuhan besar.

Di tengah kenaikan biaya hidup, rumah tangga melakukan penyesuaian dengan mengurangi pengeluaran besar, namun tetap mempertahankan konsumsi kecil yang bersifat “self-reward”. Pola ini menunjukkan bahwa konsumsi tidak benar-benar hilang, melainkan bergeser ke pembelian yang lebih terjangkau secara psikologis, sebuah kecenderungan yang sejalan dengan fenomena lipstick effect di tengah tekanan ekonomi.


Penulis: Melisa Mailoa
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE