Dewa Kepala dari Lorong Sempit Tanah Sareal
Dewa Kepala dari Lorong Sempit Tanah Sareal
Di lorong sempit di Jalan Pemuda, Tanah Sareal, tepat di samping gedung DPRD Kota Bogor, berdiri Pangkas Rambut Pemuda, yang telah melayani pelanggan lintas generasi selama puluhan tahun.
Lorong gelap selebar sekitar 3 meter itu cukup sulit ditemukan karena tersembunyi di antara bangunan, tanpa penunjuk arah yang jelas, dan hanya ditandai spanduk yang telah usang dimakan zaman.
Namun, di balik kesederhanaan tempat tersebut, terdapat dua kakak-adik asal Muntilan, Jawa Tengah, yakni Supri (56) dan Ipul (51), yang mengabdikan hidup mereka sebagai pemangkas rambut andalan warga.
Supri memulai usaha pangkas rambut pada 1990-an dengan tarif hanya Rp 500. Tarif tersebut mengalami beberapa kali penyesuaian mengikuti kondisi ekonomi. Namun, sejak awal 2000-an, ia menetapkan harga Rp 5.000 dan mempertahankannya hingga lebih dari dua dekade.
Meski biaya hidup terus meningkat, Pangkas Rambut Pemuda tetap bertahan dengan tarif Rp 5.000 sebagai bentuk kepedulian terhadap pelanggan. Tak mengherankan jika tempat ini menjadi tujuan para pelajar yang ingin merapikan rambut, termasuk mereka yang baru saja terkena razia di sekolah.
Meski hanya dengan tarif Rp 5.000, pelanggan tetap dapat memilih berbagai model rambut, mulai potongan cepak untuk anak sekolah hingga gaya yang mengikuti tren terkini. Kepercayaan yang terjalin pun berlangsung lintas generasi, bahkan banyak pelanggan yang datang membawa keluarga mereka untuk memangkas rambutnya.
Daya tarik Pangkas Rambut Pemuda tidak hanya terletak pada tarifnya yang murah, tapi juga pada sosok Supri. Dia dianggap pelanggan memiliki kemampuan lebih dari sekadar merapikan rambut hingga membuatnya dijuluki ‘Dewa Kepala’.
Di kursi pangkas sederhana itu, Supri tak hanya memangkas rambut, tetapi juga menjadi seorang konselor bagi pelanggan. Dari situlah julukan ‘Dewa Kepala’ lahir. Banyak pelanggan yang merasa pulang dengan kepala lebih ringan setelah berbagi cerita tentang pekerjaan, keluarga, ataupun persoalan pribadi.
Supri dan Ipul mungkin tidak memiliki telepon seluler, tetapi mereka tidak pernah kekurangan informasi. Setiap hari pelanggan membawa cerita, kabar terbaru, hingga berbagai peristiwa yang sedang hangat diperbincangkan.
Di tengah laju kota yang terus bergerak cepat dan biaya hidup yang kian tinggi, Pangkas Rambut Pemuda tetap bertahan sebagai ruang sederhana yang tidak hanya menawarkan jasa pangkas rambut murah, tetapi juga menghadirkan kehangatan, kebersamaan, dan tempat untuk saling mendengarkan.
Sejumlah warga mengantre untuk memangkas rambut di Pangkas Rambut Pemuda.
Rambut pelanggan yang baru dipangkas menempel di kain penutup saat proses potong rambut berlangsung.
Supri (56) memangkas rambut seorang bayi
Foto multi exposure supri sedang memangkas rambut
Mesin pangkas rambut dan gunting
Potongan rambut berserakan di lantai Pangkas Rambut Pemuda.
Tangan terampil Supri merapikan rambut pelanggan
Supri menghitung penghasilan
Pelanggan meninggalkan pangkas pemuda
Beragam model potongan rambut hasil karya Supri



