INTERMESO

Bursa Buku Murah Kembali Hidup di Blok M

Di tengah gemerlap Blok M, deretan lapak buku murah di basement Blok M Square kembali ramai, menawarkan bacaan terjangkau yang diam-diam diminati generasi muda.

Foto : David Kristian Irawan (magang)

Minggu, 17 Mei 2026

Kawasan Blok M memang tidak pernah ada matinya. Sejak era 1980 hingga 1990-an, tempat ini sudah melekat dalam benak muda-mudi metropolitan Jakarta sebagai pusat hiburan yang beraneka ragam. Seiring waktu, denyutnya terus hidup lewat kuliner viral, sentra fesyen kekinian, hingga ruang terbuka seperti Taman Literasi Martha Tiahahu yang menjadi incaran untuk melepas penat.

Namun di balik riuhnya kawasan ini, ada sudut lain yang bergerak lebih sunyi, luput dari sorotan, tetapi diam-diam kembali dilirik. Tempat itu berada di basement Mal Blok M Square, Melawai, Kecamatan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Di sanalah Bursa Buku Murah berderet memanjang, menghadirkan lapak-lapak sederhana yang dipenuhi buku dan majalah. Mulai dari barang bekas hingga yang masih terbungkus plastik dengan harga terjangkau.

Pantauan detikX pada Selasa (12/5/2026), area ini memang terasa tersembunyi dan jauh dari hingar-bingar Blok M di permukaan. Tapi justru di ruang bawah tanah inilah, lembaran-lembaran buku menemukan pembacanya.

Berawal dari Kwitang
Dari kejauhan terdengar sayup-sayup seorang pedagang bertopi hitam tengah melayani dengan hangat para pengunjung yang hilir-mudik di depan lapaknya. Tak jarang, Ia memberi salam khusus kepada pelanggan usai membeli beberapa buku incaran. Ketika dijumpai detikX, pemuda tersebut adalah Oktorio (35) yang punya nama panggung “Bang Jimmy.”

Dengan nama Perserikatan Buku Jimmy, aneka macam buku seperti novel fiksi dan non-fiksi, komik, hingga buku edukasi bagi anak-anak tersusun rapi di sepanjang koridor basement sehingga mencuri perhatian. Pembeli bisa mendapatkan diskon sebesar 10-20 persen untuk buku-buku original, serta buku bekas hanya dibanderol Rp10 ribu saja.

Meski memiliki ribuan buku dan bekerja sama dengan banyak penerbit, mayoritas buku yang dijual Jimmy bertemakan sastra, politik, sejarah, hingga kritik sosial. “Cuma (kalau di tempat) Abang jarang stok buku (bertemakan) romance. Lebih ke sastra yang temanya kritik sosial, history fiction, macam-macam,” ujar Bang Jimmy.

Buku buku bekas yang dijual di Blok M dengan berbagai macam judul.
Foto : David Kristian Irawan (magang)

Menariknya referensi-referensi buku yang ditawarkan oleh Perserikatan Bang Jimmy justru diminati oleh generasi muda. Terlebih para pembeli kerap membeli bacaan yang memiliki tema bersinggungan dengan situasi sosial-masyarakat yang dirasakan masyarakat Indonesia saat ini.

“Sebenarnya ada (terbitan) dari Mojok, cuma barangnya lagi kosong. Kayak Lebih Putih Dariku sama Dari dalam Kubur. Itu, yang benar-benar best seller banget di Abang, cuma memang barangnya tuh lagi kosong aja,” tambahnya.

Lebih lanjut, usaha yang merupakan rintisan keluarga selama 15 tahun—dengan Bang Jimmy sebagai penerus—ini berawal dari Kwitang, Kecamatan Senen, Jakarta Pusat. Namun, seiring meredupnya kejayaan Kwitang, tantangan pun ikut menyertai, mulai dari menjadi korban penggusuran, lalu kebakaran Proyek Senen, sampai memilih menetap di Blok M pasca pandemi Covid-19. Meski begitu, laki-laki itu memilih menolak tawaran kembali berdagang di Senen dengan sejumlah pertimbangan.

“Lebih ke peluang sih sebenarnya. Di Blok 5 Pasar Senen tuh aksesnya nggak ada. Lift-nya nggak ada, eskalatornya kadang suka mati, udah itu kita ketutup sama agen-agen ekspedisi (sehingga) nggak keliatan tokonya. Akhirnya, kita coba nyari peluang di Blok M,” ungkapnya.

Interaksi dengan Pelanggan
Perserikatan Buku Jimmy hadir setiap hari memuaskan minat baca pengunjung Blok M Square mulai pukul 10.00 WIB, dan makin ramai saat akhir pekan. Sebagai penggemar literasi sedari bangku SD, Bang Jimmy bangga melihat budaya membaca di kalangan muda semakin mengakar kuat. Terlebih jenis-jenis buku yang dibaca tidak lagi hanya berbau romansa atau hal-hal fiksi semata.

“Kita bisa membuktikan bahwa data yang bilang (angka) literasi kita rendah tuh kayaknya nggak valid, gitu. Jujur, di zaman Abang dulu untuk bahan bacaan nggak se-variatif sekarang. Novel-novel sejarah sangat sedikit banget, apalagi buku politik itu sangat sensitif juga,” tutur Bang Jimmy.

Bang Jimmy salah satu penjual buku di Blok M

Foto : David Kristian Irawan (magang)

Tumpukan buku bekas yang di jual di Blok M

Foto : David Kristian Irawan (magang)

Buku buku yang di jual ada yang di obral murah

Foto : David Kristian Irawan (magang)

Tak hanya itu, Ia juga sangat terbantu oleh banyak dukungan sesama pegiat literasi di media sosial atau bookstagram yang ikut membudayakan kebiasaan membaca dengan cara-cara kreatif. “Akhirnya, anak-anak (muda) ini tertarik untuk mencari buku tersebut, gitu. Ketika ada pembahasan buku, pasti anak-anak tuh, ‘Wah! Kayaknya mau coba baca,” tambahnya.

Bang Jimmy mengakui sempat memanfaatkan berbagai marketplace demi menjaga bisnis keluarganya agar tidak tertinggal oleh zaman, dan mampu bertahan di tengah lesunya ekonomi. Tetapi, Ia memilih meninggalkan cara tersebut akibat persaingan bisnis yang dirasa tidak adil. Mulai dari ulah penerbit yang memotong jalur distribusi, keterbatasan sumber daya, hingga meningkatnya biaya retribusi (admin) di platform daring.

“Potongan admin-nya tuh udah nggak masuk akal. Aneh banget! Makanya, kita jujur udah nggak ada di Shopee sekitar 3 tahunan,” keluh Bang Jimmy.

Alhasil, Ia memilih untuk memanfaatkan media sosial hanya sebatas memperkenalkan toko bukunya kepada khalayak luas. Sambil berkelakar, Bang Jimmy mengaku lebih senang jika dapat melakukan live tanpa batasan.

“Kalau teman-teman mau ketemu Abang? Mampir aja ke sini. Nggak mesti beli sih. Kita sangat support buat pelajar (yang) kadang mereka ada tugas (sekolah), wawancara,” tambahnya.

Semakin Dikenal Luas
Tak ayal, keramahan Bang Jimmy dan pedagang buku lainnya membuat pengunjung memilih Bursa Buku Murah di area basement Blok M Square sebagai rekomendasi. Seperti Wulan, warga asal sekitar Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur ini yang menempuh perjalanan jauh ke Blok M bersama kedua anaknya. Sebab, mereka bisa memperoleh buku-buku incaran dengan harga bersahabat.

Ryuzaki dan Nadia saat berburu buku di Bursa Buku Merah, Blok M Square
Foto : David Kristian Irawan (magang)

“Di sini tuh serunya bisa sambil tawar-menawar. Ibu-ibu banget, ya. Bisa sambil tawar-menawar (sehingga) dapat bukunya banyak dengan harga yang affordable,” ujarnya dengan riang.

Meski acapkali berbelanja buku melalui marketplace, Wulan jauh merasa lebih puas untuk mengeksplor langsung Blok M Square. Bahkan, kedua anaknya, Ryuzaki dan Nadia juga tak segan merekomendasikan tempat ini kepada teman-temannya yang sesama pecinta buku.

“Soalnya di sini kan bisa ngelihat-lihat banyak buku, bisa milih buku,” ujar Ryuzaki.

“Aku bakal ngajakin karena temen-temen aku juga ada yang suka baca. Mungkin mereka bakalan suka beli novel di sini,” tambah Nadia.

Walau begitu, Wulan pun mengakui bahwa kawasan ini perlu ditingkatkan dari aspek kebersihan dan penataan tempat agar lebih memudahkan para pengunjung. Sekalipun, Ia mengaku keberadaan tenant-tenant di Blok M semakin variatif. “Jadi, penataannya aja dan kebersihannya mungkin bisa diperbaiki lagi,” harapnya.

Senada dengan Wulan, Bang Jimmy sebagai perwakilan pedagang juga bersyukur nama Bursa Buku Murah di Blok M Square semakin dikenal masyarakat luas. Pasalnya, tingginya pamor ‘Negara Blok M’ sebagai pusat nongkrong anak muda ikut membawa pengaruh besar bagi perekonomian mereka. Alhasil, Ia berharap agar ketenaran itu juga semakin dijaga agar tidak memudar.

“Teman-teman bisa bantu nge-up kita di media sosial supaya suasana Blok M hidup terus. Di-up secara organik supaya kami di Blok M suasananya tetap hidup, teman-teman pada lalu-lalang, dan semua yang di Blok M bisa mencari rezekinya, gitu,” harapnya.


Reporter/Penulis: David Kristian Irawan (magang)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE