Ilustrasi : iStock
Kamis, 14 Mei 2026Di tengah riuh jalanan New York yang dingin dan berisik, Gretta James menyodorkan satu sisi headset kabel kepada Dan Mulligan. Dari ponsel lawas yang penuh kenangan, ia memutar deretan lagu favoritnya, sebuah playlist yang terasa begitu personal. Malam itu, mereka berjalan tanpa tujuan jelas, melewati lampu kota, trotoar yang basah, dan keramaian yang perlahan terasa menjauh. Lewat musik yang mengalun di telinga masing-masing, keduanya seperti menciptakan dunia kecil mereka sendiri.
Tidak ada dialog panjang dalam adegan ikonik dari Begin Again ini, sebuah drama musikal romantis yang sempat mendapat nominasi Oscar lewat lagu Lost Stars. Namun, chemistry Gretta yang diperankan oleh Keira Knightley serta Dan yang diperankan oleh Mark Ruffalo terasa begitu dalam.
Kekuatan adegan berbagi headset itu terletak pada maknanya yang melampaui sekadar lagu. Musik yang biasanya kita dengarkan sendiri, di momen paling jujur dengan diri sendiri, tiba-tiba dibagi. Dua orang asing ini perlahan saling menemukan, saling memahami, hanya lewat musik yang mereka dengarkan bersama.
Setelah lebih dari satu dekade sejak Begin Again dirilis pada tahun 2013, teknologi audio berkembang pesat. Headset kabel yang dulu begitu akrab perlahan tergeser oleh perangkat nirkabel, kecil, praktis, dan nyaris tak terlihat. True wireless stereo (TWS) menjadi simbol kemajuan. Namun di tengah semua kemudahan itu, anak-anak muda, terutama generasi Z, justru mulai kembali melirik headset kabel.
Kabel yang dulu dianggap kusut, ribet dan ketinggalan zaman, kini menjuntai lagi dari telinga anak-anak muda. Bukan sebagai keterpaksaan, tapi sebagai pilihan. Seorang influencer di Tiktok, Janice Samantha, menceritakan alasannya beralih ke headset kabel. Perempuan yang dikenal lewat akun TikTok @janicesamanthaa itu awalnya juga menggunakan TWS seperti kebanyakan orang. Namun pengalaman sehari-hari justru membuatnya beralih.
“Alasan nomor satu, aku capek. AirPods aku sering lepas dan jatuh, bahkan pernah sampai nyelip di sela-sela motor Grab, ribet banget nyarinya,” ujar Janice yang memiliki 1,4 juta pengikut di akun TikToknya.
Pengalaman yang terdengar sepele, tapi sangat dekat dengan keseharian banyak orang, earbud kecil yang mudah lepas dan sulit ditemukan. Kini, Janice memilih kembali ke earphone kabel. “Makanya aku lebih pilih yang ada talinya,” katanya.

Handphone yang masih menggunakan earphone kabel
Foto : iStock
Bukan hanya soal kepraktisan, tapi juga rasa aman. Ia bahkan menyinggung kekhawatiran lain, seperti risiko tertelan oleh hewan peliharaannya. Selama menggunakan headset kabel, Janice juga tidak perlu repot mengisi daya.
“Kalau sudah butuh nih mau pakai, misalnya aku WFC (Work From Cafe), udah sampai di cafenya, butuh pakai buat kerja mau ngedit atau apa pun, eh malah habis baterainya. Aku lebih pilih kelilit daripada harus nge-charge AirPods,” ujarnya.
Alasan di balik kembalinya headset kabel memang beragam, salah satunya adalah alasan kepraktisan. Tidak perlu baterai, tidak perlu charging, dan bisa langsung digunakan kapan saja. Selain itu, kualitas suara juga menjadi pertimbangan. Banyak pengguna merasa earphone kabel memberikan audio yang lebih stabil, minim delay, dan lebih nyaman untuk aktivitas seperti menonton atau bermain game.
Meski begitu, Janice tidak sepenuhnya meninggalkan TWS. Perangkat itu masih ia simpan dan gunakan di momen-momen tertentu, terutama saat membutuhkan kepraktisan tanpa kabel, seperti ketika beraktivitas di luar rumah atau bergerak lebih leluasa.
Pergeseran ini juga merambah ke dunia fesyen. Earphone kabel kini bukan hanya perangkat audio, tapi juga aksesori gaya. Kabel yang menjuntai dari telinga dianggap memberi sentuhan estetik, retro, klasik, tapi tetap modern. Di TikTok dan Instagram, banyak anak muda memadukan earphone kabel dengan outfit mereka. Jaket oversized, kaos polos, celana longgar, hingga gaya Y2K.
Akun Instagram seperti “Wired It Girls” bahkan secara khusus menampilkan perempuan-perempuan dengan gaya modis yang dilengkapi headphone berkabel. Kabel bukan lagi sesuatu yang disembunyikan, tapi justru dipamerkan.
Tren ini juga didorong oleh para selebritas. Nama-nama seperti Drake, Harry Styles, Dua Lipa, hingga Zendaya terlihat menggunakan earphone kabel dalam keseharian mereka. Atlet seperti Stephen Curry dan Cristiano Ronaldo pun turut mempopulerkan gaya ini. Aktris yang dikenal luas lewat perannya sebagai Hermione Granger di film serial Harry Potter, Emma Watson juga termasuk di antaranya.

Earphone Bluetooth
Foto : iStock
“Saya suka banget earphone colok yang old school ini,” kata Emma Watson kepada majalah Vogue.
Selain estetika, faktor kesehatan juga menjadi alasan mereka meninggalkan TWS. Beberapa waktu terakhir, muncul kekhawatiran di media sosial mengenai potensi radiasi dari perangkat Bluetooth seperti TWS. Meski belum terbukti secara ilmiah sebagai sesuatu yang berbahaya, kekhawatiran ini cukup untuk membuat sebagian orang mempertimbangkan kembali pilihan mereka.
Dokter spesialis THT, dr. Muhammad Edi Syahputra, menjelaskan bahwa anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar. Ia menekankan bahwa hingga saat ini belum ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa earphone Bluetooth lebih berbahaya dibandingkan earphone kabel.
“Masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa earphone Bluetooth lebih berbahaya dibandingkan dengan yang menggunakan kabel. Namun, secara medis hal ini tidak sepenuhnya benar,” ujarnya.
Menurutnya, risiko utama justru terletak pada cara penggunaan, terutama volume suara dan durasi pemakaian.
“Belum ada bukti kuat yang menyatakan bahwa earphone Bluetooth lebih berbahaya dibandingkan earphone kabel. Risiko utama bukan pada jenisnya, tetapi pada volume suara dan lamanya penggunaan. Baik earphone kabel maupun Bluetooth tetap berpotensi menimbulkan gangguan jika digunakan dengan cara yang tidak aman,” lanjutnya.
Ia juga mengingatkan bahwa penggunaan earphone dalam jangka panjang dengan volume tinggi dapat merusak sel-sel penting di telinga dan berpotensi menyebabkan gangguan pendengaran permanen.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim