INTERMESO

Siasat Cerdik Hadapi Perang Harga Plastik

Upaya beralih ke solusi ramah lingkungan sebagai upaya menghadapi kenaikan harga plastik.

Lonjakan harga plastik dalam sebulan terakhir menekan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM)
Foto : Muhammad Reevanza/detikfoto

Minggu, 3 Mei 2026

Memanasnya situasi di Timur Tengah dalam beberapa bulan terakhir turut berdampak pada sektor ekonomi. Rantai pasok global terganggu, membuat harga sejumlah komoditas melonjak. Termasuk meroketnya harga plastik di pasaran, imbas terganggunya pasokan bahan baku berbasis minyak bumi.

Kondisi ini membuat banyak pedagang plastik mengurangi volume pembelian. Pasalnya, pihak distributor acapkali memberikan daftar harga yang bisa berubah dalam hitungan jam. Mereka pun tidak menyangka bahwa kondisi ini berkaitan dengan memanasnya situasi geopolitik global.

“Aku pikir nggak nyambung gegara perang. Nggak nyambung, orang perang, kita yang terdampak, ternyata bahan bakunya,” ujar Neneng (72), penjual plastik di Pasar Kosambi, Bandung, Jawa Barat seperti yang dilansir detikJabar, Sabtu (4/4/2026).

“Kita keder (bingung), tiap mau belanja dikasih price list baru. Malam nanya harga sekian, besok pagi sudah berubah lagi,” ungkap Zainuddin (47), penjual plastik di Pasar SBS, Bekasi, Jawa Barat kepada detikcom, Jumat (27/3/2026).

Kondisi serupa juga dialami para pedagang kaki lima maupun UMKM yang harus merogoh kocek dalam-dalam untuk membeli kantong kresek dan plastik. Mereka pun enggan menaikkan harga jual sebab takut kehilangan pelanggan. Di tengah tekanan harga tersebut, sebagian pelaku usaha mulai mencari alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap plastik sekali pakai. Ada pula yang beralih menggunakan kemasan ramah lingkungan, seperti daun pisang atau karton.

Cegah Plastik Sekali Pakai
Di tengah keresahan warga menghadapi kenaikan harga plastik, hal ini seolah jadi pengingat bahwa kondisi alam kian terusik. Kondisi itu makin diperparah dengan masih tingginya ketergantungan masyarakat terhadap penggunaan kemasan plastik sekali pakai. Oleh sebab itu, berbagai cara ditempuh untuk menjaga bumi dari ganasnya ‘monster’ sampah plastik.

Salah satunya Alner, sebuah perusahaan asal Cilandak, Jakarta Selatan yang dirintis sejak tahun 2020 dan menerapkan konsep ekonomi sirkular berupa isi ulang dan pengembalian kemasan. Mereka berfokus menyediakan aneka kebutuhan cepat saji (Fast Moving Consumer Goods / FMCG). Produk yang ditawarkan seperti sembako, perawatan tubuh, cairan pembersih, hingga makanan dan minuman yang umumnya dijual menggunakan kemasan plastik sekali pakai.

Salah satu Refill station Alner di Fresh Market Bintaro, Kota Tangerang Selatan, hadir sebagai solusi belanja isi ulang ramah lingkungan.
Foto : David  Kristian Irawan (magang)

“Kami di Alner ingin menyediakan (solusi) alternatif bagaimana kita juga sebenarnya bisa mencegah sebuah material—dalam hal ini misalnya kemasan produk—agar tidak menjadi sampah,” ungkap Founder & CEO Alner, Bintang Ekananda (32) saat ditemui detikX, Selasa (28/4/2026).

Alner menyoroti kebiasaan masyarakat yang masih bergantung pada plastik sekali pakai. Oleh karena itu, mereka pun mengajak konsumen untuk beralih menggunakan kemasan guna ulang (reusable) dengan cara yang menarik. Di mana, setiap kemasan kosong—dari pembelian melalui gerai Alner—yang dikembalikan memiliki nilai tukar (cashback) sebesar Rp500 hingga Rp10.000, dan dapat digunakan untuk transaksi berikutnya.

“Kalau memang sistemnya mendukung untuk masyarakat kita tidak membuang sampah sembarangan atau (seperti) kami bisa mengembalikan kemasan dengan mudah dan ada insentifnya, menurut kami akan secara lebih mudah (untuk) membantu mereka mengubah kebiasaan,” tambah Bintang.

Bekerja sama dengan Enviu Indonesia—sebuah startup studio yang berfokus terhadap pencegahan polusi plastik, usaha yang dirintis sejak tahun 2020 ini sudah menjaring 754 mitra di Jabodetabek, serta didukung berbagai kelompok akar rumput. Produk-produk yang dipasarkan juga bersumber dari produsen existing maupun lokal. Sehingga, Alner menawarkan solusi bagi konsumen memilih aneka produk dengan harga terjangkau.

“Tapi kami juga pengin mendukung supplier-supplier lokal supaya lebih sadar bahwa ada opsi cara (untuk) memasarkan produk mereka dengan sistem yang lebih mudah dan ramah lingkungan,” tambahnya.

Bukan hanya itu, Alner berekspansi dengan mendirikan gerai fisik yang seketika mencuri atensi masyarakat, khususnya generasi muda. Tepat di Januari 2026, Alner meluncurkan Circular Stand yang merupakan wujud kolaborasi bersama M Bloc Space, Jakarta. Berada di depan gerai Matalokal, Circular Stand lebih berfokus menjual aneka makanan ringan, minuman, dan produk-produk berbahan alami atau natural based.

Sementara itu, detikX menyambangi gerai kedua Alner di kawasan Fresh Market Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Banten, yang baru beroperasi pada 28 Februari 2026. Berbeda dari Circular Stand, gerai dengan nama Zero itu menyediakan kebutuhan harian yang lebih variatif dan dilengkapi pula fasilitas mini-cafe. Bahkan, Zero mengklaim sebagai pionir mini market pertama di Indonesia yang menerapkan sistem isi ulang (refill) tanpa kemasan plastik sekali pakai untuk meminimalisir jumlah sampah.


.

Founder & CEO Alner , Bintang Ekananda

Foto : David Kristian Irawan (magang)

Menariknya, gerai fisik Alner punya ciri khas istimewa ketimbang toko-toko ritel konvensional. Apabila ingin membeli produk-produk cemilan, beras curah, maupun cairan pembersih, konsumen wajib membawa kemasan sendiri yang nanti digunakan sebagai wadah dari refill station. Sementara untuk produk-produk lainnya, konsumen bisa langsung membeli produk dan mengembalikan kemasannya jika sudah habis digunakan.

Selain itu, konsumen dapat menukarkan kemasan plastik, kaca, maupun aluminum yang tidak dibeli langsung dari Alner untuk ditukar dengan poin sebesar Rp100 per item. “Itu nanti akan di-recycle atau didaur ulang oleh pihak ketiga, yakni Waste4Change. Jadi, mereka yang mengelola kemasan-kemasan tersebut supaya bisa didaur ulang menjadi material baru lagi,” ujar Bintang.

Terhitung empat bulan sejak berekspansi ke gerai fisik, Bintang mengaku banyak berdiskusi dengan berbagai pihak untuk mengembangkan bisnis Alner, khususnya lewat Circular Stand dan Zero. Bahkan, di tengah situasi geopolitik yang mempengaruhi harga plastik, ia percaya inovasi yang dicetuskan Alner bakal menguntungkan seluruh pihak, sekaligus ikut menyelamatkan alam dari ancaman sampah plastik.

“Dengan value proposition seperti itu, konsumen juga lebih tertarik untuk beli produk di Alner, (maka) bisnis kami jalan, dampak lingkungannya minim atau nol, produsen juga tetap bisa melakukan produksi dengan harga yang masuk akal,” harapnya.

Menyulap Sampah Low-Value Jadi Barang Guna
Masalah plastik tak melulu soal harga, melainkan juga soal nasib limbahnya. Hal ini yang mendorong lahirnya Repair Project, sebuah proyek kolaborasi antara Waste4Change dan River Recycle yang dibentuk sejak 2021. Mulanya, Repair Project resah saat melakukan bersih-bersih di bantaran Sungai Citarum. Satu tahun berlalu, mereka pun tercengang karena sampah-sampah yang dikumpulkan merupakan jenis plastik bernilai rendah atau low-value plastic, seperti kemasan saset, bungkus makanan, kantong kresek, dan lain sebagainya.

“Itulah sebabnya kayak secara daur ulang (sampah low-value plastic) juga susah. Jadi, masalahnya pengumpulan dan pengolahan karena nggak ada yang ngumpulin dan karena nggak ada yang (mau) daur ulang (sebab) nggak ada nilainya. Akhirnya, kalau nggak ada nilainya, orang (pasti akan) membuang sembarangan,” ujar Sales and Fundraising Lead Repair Project, Carissa Eukairin kepada detikX, Kamis (30/4/2026).

Usut punya usut, Repair Project juga mengajak partisipasi masyarakat sekitar yang ingin mengumpulkan sampah low-value plastic. “Dan, itu dengan bayaran yang abnormal, gitu. Karena, di luar sana nggak akan ada orang yang mau ngebayar untuk low-value plastic, tapi kita bayar,” tambahnya.

Meja dan kursi berbahan RR Board  menjadi alternatif bahan ramah lingkungan untuk berbagai kebutuhan furnitur.
lue)

Foto : Dok Repair Project

Carissa menambahkan, Repair Project sempat kebingungan dengan sampah-sampah low-value plastic, dan memutuskan untuk mencari inovasi dan pendanaan. Lambat-laun, di tahun 2024, mereka membangun pabrik di Desa Mekarjaya, Kecamatan Cihampelas, Kabupaten Bandung Barat, bekerja sama dengan Bening Saguling Foundation (BSF). Sebanyak 23 orang dikerahkan untuk membersihkan, mencuci, memotong bahan baku, hingga dikempa (press) sehingga menghasilkan papan—bernama River Recycle (RR) Board—tanpa memakai bahan campuran lainnya.

Adapun RR Board memiliki ukuran sebesar 1,2 x 2,4 meter dengan tiga jenis ketebalan, mulai dari 10 mm, 12 mm, 16 mm, dan juga dapat diolah menjadi berbagai produk olahan. Mulai dari meja, kursi, stool (kursi tanpa sandaran), phone holder, plakat, podium, sampai cinderamata menarik. Secara harga, RR Board menyesuaikan tingkat kesulitan dan proses produksi, yakni dibanderol dari Rp405.500 per lembar, sementara produk-produk olahannya mulai dari Rp50.000 per satuan.

Menariknya, RR Board sudah lulus uji laboratorium dari Sucofindo yang aman digunakan untuk keperluan konstruksi bangunan. Papan itu juga terbukti tahan air-rayap, dan mudah dimodifikasi pengguna sesuai keinginan. Alhasil, RR Board dapat menjadi alternatif bagi masyarakat memilih bahan daur ulang dengan harga terjangkau, serta memiliki tampilan yang estetik.

“Ini tuh kalau orang sadar, dibanding kita nebang pohon (untuk) bikin triplek, kenapa nggak kita manfaatin (sampah plastik low-value) ini, gitu?” ungkap Carissa.

Repair Project sudah menjalin kolaborasi dengan sejumlah brand ternama, serta turut berpartisipasi dalam kegiatan-kegiatan seputar lingkungan. Meski begitu, Carissa mengungkapkan keberlangsungan ekonomi sirkular hanya akan ‘jalan di tempat’ apabila masyarakat belum sepenuhnya beralih menggunakan produk daur ulang. Sehingga, Ia pun berharap kenaikan harga plastik menjadi titik balik masyarakat agar semakin peduli terhadap kondisi lingkungan yang kian terancam.

“Menurut aku sih (kenaikan harga plastik) ini adalah momentum yang baik untuk keseluruhan lingkungan. Jadi, kita punya insentif tambahan bahwa memang sebaiknya tuh pilihan kita sehari-hari itu mengurangi kemasan plastik,” pungkasnya.


Reporter/Penulis: David Kristian Irawan (magang)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE