INTERMESO

Menikmati Senja Sambil Berburu Pesawat di Rumah Oren

“Yang punya akses lihat pesawat itu orang-orang yang tinggal di area bandara. Sementara, lebih banyak masyarakat umum itu tinggal jauh dari bandara"

Foto : David Kristian Irawan (magang)

Minggu, 26 April 2026

Pemandangan tak biasa muncul dari salah satu sudut pinggiran Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Senin (20/04/2026) sore. Ketika sang surya kembali ke peraduan, tampak sejumlah warga duduk berjajar menggenggam gawai maupun kamera di balkon salah satu rumah berwarna jingga. Ada pula yang menikmati pertunjukkan istimewa ketika satu-persatu pesawat dari berbagai maskapai tengah melintasi landasan pacu.

Meski terdengar asing, kegemaran untuk mengamati, melacak, dan memotret pesawat terbang alias planespotting belakangan ini ramai digeluti sebagian orang. Mereka rela menghabiskan separuh waktu hanya demi meluapkan hasrat terhadap dunia aviasi tanpa perlu merogoh kocek dalam-dalam. Alhasil, lokasi sekitar bandara mendadak ramai didatangi oleh planespotter, salah satunya Rumah Oren CGK Planespotter.

Berlokasi di Jalan Perimeter Utara, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang, Banten, para pengunjung bisa secara lebih dekat menyaksikan lalu-lalang pesawat di Bandara Soekarno-Hatta. Pengunjung pun hanya dikenakan tarif masuk sebesar Rp20ribu—sebagai biaya retribusi kebersihan dan perawatan, dilengkapi tempat duduk yang luas dan nyaman.

Usut punya usut, Rumah Oren muncul dari rasa heran masyarakat sekitar menyaksikan sejumlah planespotter setiap hari berbondong-bondong membawa kamera. Sadar mereka adalah penggemar berat pesawat, sang pemilik lantas membangun area planespotting baru dekat kediamannya. Lambat-laun, area tersebut kemudian tumbuh pesat menjadi destinasi wisata yang memikat banyak atensi masyarakat.

Memancing Rasa Penasaran Warga
Ketenaran Rumah Oren jelas memancing rasa penasaran berbagai kalangan. Seperti Ahmad Shovi dan Maharani, pasangan keluarga asal Depok, Jawa Barat yang baru kali pertama berkunjung. Lewat cuplikan video salah satu pemengaruh di media sosial, jarak hampir 50 KM pun mereka tempuh sebagai ‘kado’ bagi anaknya yang menggemari dunia aviasi.

“Karena dia (anak kami) belum pernah naik pesawat, dia pengin lihat real-nya pesawat tuh gimana dari dekat. Ya udah, ayahnya cari-cari, (dan) ketemulah nama tempat ini,” ujar Rani saat ditemui detikX.

Sejumlah warga menunggu senja sambil duduk santai di Rumah Oren, menikmati pemandangan lalu-lalang pesawat yang melintas di Bandara Soekarno-Hatta.
Foto : David Kristian Irawan (magang)

Meski sempat terkejut dengan penampakan awal Rumah Oren—yang berupa warung sederhana—dan menyaksikan aksi sejumlah planespotter, Rani tetap merasa puas menghabiskan waktu bersama keluarga dengan pemandangan indah Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Tak hanya sebagai wisata edukasi maupun tempat nongkrong muda-mudi, Ia pun dapat menikmati berbagai aneka kuliner dengan harga yang terjangkau.

“Nggak crowded (penuh) juga soalnya kalau lihat foto di medsos itu kelihatannya kan kayak penuh, gitu. Ternyata, hari ini alhamdulillah-nya nggak terlalu penuh. Jadi, anak kita bisa puas gitu ngelihatnya,” tambah Rani.

Mereka berharap agar Rumah Oren tetap mempertahankan orisinalitasnya sebagai tempat menikmati pesawat, serta memperluas area pengunjung agar lebih leluasa. “Ini majuin nih biar bisa melihat pesawat (lebih dekat). Kalau misalnya mau lihat ke situ kan harus di ujung sini, (sementara) sebelah situ nggak kena (melihat pesawat) ketika landing-nya banget, gitu,” ucap Shovi.

Markas Pemburu Pesawat
Tak hanya masyarakat awam, Rumah Oren juga memuaskan banyak hasrat planespotter, termasuk Robin Eztevateh (34). Sedari tahun 2023, tempat ini jadi saksi perjalanan hidupnya mengais pundi-pundi Rupiah dengan menjadi seorang live streamer. Berbekal rasa cinta terhadap dunia pesawat, Ia rutin menceritakan segala aktivitas di landasan pacu bandara.

“Akhirnya, saya nonton-nonton pesawat di Youtube itu kreator luar negeri yang (sering) live streaming. Saya lihat (menjadi seorang livestreamer tentang aviasi) ini menyenangkan dan menghasilkan. Saya coba (karena) terinspirasi dari streamer luar seperti Airline Videos, LHR Flights, dan JFK Flights,” ucap pria yang akrab disapa Robin kepada detikX.

Robin menuturkan perjalanan karirnya sebagai live streamer justru dimulai dengan mengamati aktivitas di Bandara Internasional Yogyakarta. Meski begitu, Ia menyadari lalu-lalang pesawat di sana cenderung sepi, sekaligus khawatir akan membuat penonton jenuh. Tanpa berpikir panjang, Robin akhirnya pindah lokasi pengamatan ke Bandara Soekarno-Hatta sekaligus turut mengantarkannya ke Rumah Oren.

Papan informasi tarif masuk Rumah Oren terpasang di area lokasi, dengan biaya retribusi sebesar Rp20 ribu bagi pengunjung.
Foto : David Kristian Irawan (magang)

Owner Rumah Oren itu cukup aktif dan peduli dengan tempat ini. Fasilitas selalu dijaga dan di-upgrade. Terus, karena sudah (menganggap) seperti rumah kedua, saya penginnya tetap disini,” tambahnya.

Berbekal alat-alat seperti handycam, laptop, kabel HDMI, hingga handy talkie—untuk mendengar percakapan pilot dan petugas ATC (Air Traffic Controller)—Robin menjalankan aktivitas live streaming rutin setiap Senin hingga Sabtu, mulai pukul 15.00 WIB. Nilai perlengkapan yang dibawa jika ditotal bisa mencapai Rp20 juta. Porsi terbesar dari modal itu berasal dari handycam, karena menurut Robin, perangkat tersebut harus memiliki kemampuan zoom jarak jauh dengan gambar tetap jelas serta mudah dioperasikan saat digunakan di lapangan.

Selama kurang lebih tiga jam, Robin menyapa satu per satu penonton dan fasih menampilkan kedatangan maupun keberangkatan pesawat, kondisi cuaca, hingga informasi menarik seputar dunia aviasi. Robin menjelaskan, kemampuan mendeteksi pesawat yang melintas atau tertangkap kamera itu datang dari kebiasaan yang terus diasah. Ia dan rekan-rekannya menggunakan aplikasi pelacak radar yang menampilkan seluruh pergerakan pesawat di langit secara real time. Karena sudah terbiasa membaca arah gerak pesawat, mengenali pola lintasan, hingga sedikit banyak hafal nomor penerbangan beserta jadwalnya, Robin bisa dengan cepat memberi informasi setiap kali ada pesawat yang melintas.

Baginya, platform media sosial punya andil besar untuk mendekatkan warganet yang ingin melihat pesawat dari kejauhan.

“Yang punya akses lihat pesawat itu orang-orang yang tinggal di area bandara. Sementara, lebih banyak masyarakat umum itu tinggal jauh dari bandara,” kata Robin.

Rata-rata dalam setahun, aktivitas live streaming Robin bisa ditonton oleh 50 ribu orang. Namun, di bulan-bulan tertentu, terutama musim liburan, penikmat siaran langsungnya bisa tembus hingga 200 ribu viewers. Ramainya penonton itu ikut membawa pemasukan yang cukup menjanjikan. Robin mengaku hasil dari live streaming membuatnya bisa hidup cukup sejahtera. Ia merasa tidak kekurangan, bahkan memiliki dana cadangan untuk memperbaiki peralatan jika sewaktu-waktu rusak tanpa harus pusing mencari pinjaman. Menurutnya, sebagian penonton merupakan kalangan yang kerap bepergian dengan pesawat, termasuk penumpang kelas bisnis maupun first class.

“Mereka ngasih-ngasih Rp200ribu, Rp300ribu udah hal yang kecil,” ungkapnya.

Robin menyiapkan perlengkapan sebelum memulai siaran langsung aktivitas planespotting 
Foto : David Kristian Irawan (magang)

Entah berapa banyak jenis pesawat dari berbagai maskapai yang berhasil direkam olehnya. Bahkan, tak hanya sekadar memperoleh keuntungan materi, Robin mengakui profesi sebagai live streamer telah mengantarkannya dengan berbagai kesempatan emas. Salah satunya, dukungan dari pilot Singapore Airlines yang selalu menjadi penonton setianya.

“Saya punya impian pengin naik Singapore Airlines karena (termasuk kategori) kelas atas airlines, (serta) ingin merasakan kenyamanan dan servisnya. Terus, dia langsung bilang, ‘Ya udah, malam saya kirim tiket.’ Udah deh langsung berangkat,” ucapnya dengan penuh riang.

Selain itu, Robin memperoleh banyak kawan sesama planespotter dari lintas generasi. Walaupun tujuan mereka hanya sekadar ingin meningkatkan kemampuan fotografi ataupun memotret pesawat-pesawat incarannya. Meski begitu, Ia selalu mewanti-wanti para planespotter agar tetap menjaga etika dan aturan ketika mengamati pesawat.

“Tetapi, ketika ada insiden (kecelakaan dan sebagainya) itu sebaiknya (bagi) planespotter yang punya footage ataupun meng-capture jangan langsung di-share ke publik untuk mencegah asumsi liar di masyarakat,” tegas Robin yang saat pandemi Covid-19 pernah banting stir menjadi pedagang aksesoris handphone di ecommerce.

Robin juga tak menampik keberadaan Rumah Oren kini dinikmati oleh segala kalangan. Termasuk ketika viral berkat pengaruh sejumlah konten kreator yang turut mempromosikan. Akan tetapi, konten-konten tersebut justru tak jarang menjadi salah kaprah di mata masyarakat.

“Nah, mereka (planespotter) datang sambil makan di sini, sementara mereka (para) food vlogger (kebalikannya). Jadi, masyarakat setelah menonton video mereka tuh berpikir kalau ini adalah fasilitas dari suatu tempat makan. Padahal, real-nya ini adalah spot (mengamati pesawat) dan naiknya itu berbayar memang hanya untuk memfoto,” tegas Robin.

Atas dasar itulah, Ia menekankan kepada konten kreator maupun masyarakat luas bahwa Rumah Oren adalah tempat untuk mengamati pesawat. Entah mereka benar-benar merupakan penggemar dunia aviasi, maupun sekadar ingin menikmati senja yang berbeda. “Mereka cuma (ingin) menikmati dengan mata dan (menjadikan tempat ini) seperti wisata sederhana (namun) terasa mewah,” pungkasnya.


Reporter/Penulis: David Kristian Irawan (magang)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE