Foto : David Kristiawan Irawan (magang)
Minggu, 19 April 2026Langit malam di sekitar Blok M memang begitu menawan, namun gejolak amarah dalam diri Nona Amalia (23) tak sanggup lagi dilawan. Semangkuk Bakmi Khas Jaksel yang dijanjikan akan tiba dalam waktu 30 menit ternyata molor hingga satu jam.
“Tetep aja aku kesal! Udah tempat duduknya harus nunggu dulu lagi, aku kayak minggir dulu (sambil) nungguin orang beres makan. Dobel-dobel ngantrinya itu. Terpaksa aku nungguin karena sistem (pembayaran) harus (kita) bayar dulu (pesanannya),” keluh Nona belum lama-lama ini kepada detikX.
Ketertarikannya pada Bakmi Khas Jaksel dan berbagai kuliner khas ‘negara’ Blok M bukan tanpa alasan. Customer relations officer sebuah perusahaan event organizer (EO) ini mengaku terpapar oleh tayangan sejumlah pemengaruh yang menyuguhkan aneka rekomendasi unik dan variatif. Entah itu kuliner beraneka rasa, fesyen, spot-spot estetik, maupun sekadar tempat untuk merenung.
Meski Blok M sudah menjadi destinasi favorit anak muda, antrean panjang di sejumlah tenant viral kerap menjadi keluhan. Tak jarang perantau asal Cimahi ini mengurungkan niatnya karena harus menunggu terlalu lama.
“Kalau di Blok M itu kayak stuck. Aku nggak ngerti orang-orang nggak maju-maju apa gimana?” ujarnya.
Joki Antrean Ramai Diincar
Antrean panjang di kawasan seperti Blok M seolah jadi ‘harga’ yang harus dibayar untuk menikmati sesuatu yang tengah viral. Mau makan, belanja, atau sekadar coba tempat viral, semuanya hampir pasti butuh waktu lebih untuk menunggu.
Dari situ, orang mulai mencari cara lain supaya Nona dan pengunjung Blok M tidak perlu ikut berdiri lama di antrean. Jasa joki antrean pun mulai dilirik sebagai solusi. Lewat bantuan teknologi digital, layanan ini mempertemukan pengguna dengan mitra yang bisa menggantikan antrean secara fisik. Antriin.id adalah salah satunya, platform berbasis aplikasi yang menghubungkan pengguna dengan mitra untuk menggantikan antrean secara fisik.

Pelanggan mengantre di sebuah Coffeebar
Foto : David Kristiawan Irawan (magang)
detikX berbincang dengan penggagas Antriin.id, Elan Setiawan (30). Ia bercerita bagaimana awal-mula merintis jasa joki antrean itu. Berawal dari keresahan pribadi dan lingkungan sekitar, Elan menyadari persoalan antrean panjang amat menguras waktu dan tenaga. Sementara, ada masyarakat yang dapat menyisihkan waktunya untuk dapat menolong sesama.
“Jadi, di situ lahirlah keinginan untuk matching (menyatukan) antara mitra yang memiliki waktu berlebih dan bisa menyisihkan waktunya dengan customer yang tidak memiliki banyak waktu,” ungkap Elan saat ditemui detikX di Pasaraya Blok M, Jakarta Selatan, Sabtu (11/04/2026).
Lambat-laun, keresahan tersebut berbuah ide brilian dengan menyediakan jasa antrean fisik berbasis aplikasi yang dikembangkan sendiri olehnya sebagai programmer. Antriin.id pun lantas diluncurkan ke publik sekitar bulan Agustus 2025. Pada saat itu, sekalipun telah dirumuskan tempat dan jenis-jenis antrean yang dapat ditangani, hal tersebut tidak serta-merta membuat Elan mulai menawarkan jasanya kepada pelanggan.
“Jadi, dari situ baru melebar ke mitra yang bisa diajak untuk (membantu menggantikan pelanggan di sebuah antrean lewat) kemitraan nanti, terus baru (turun) ke lapangan,” ujarnya.
Tak hanya berhenti di situ, Elan juga mengamati langsung kondisi antrean pada sejumlah layanan publik, fasilitas kesehatan, maupun tempat-tempat kuliner viral sebagai patokkan mitra Antriin.id menjalankan tugas. Menurutnya, SOP (Standar Operasional Prosedur) yang diterapkan pun cukup fleksibel menyesuaikan kondisi lapangan.
“Tapi, secara garis besarnya, (mitra) Antriin.id hanya akan bekerja sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan, jam yang telah ditentukan, dan deskripsi yang sudah di-input,” tegas Elan.

Seorang pelanggan sedang Chatingan dengan layanan Antriin.id
Foto : David Kristiawan Irawan (magang)
Ibarat palugada, Antriin.id menawarkan berbagai layanan yang bertujuan menggantikan keberadaan fisik pelanggan dalam antrean. Baik itu mengakses fasilitas kesehatan, layanan publik, tempat-tempat kekinian, sampai penukaran tiket konser. Selayaknya memesan ojek daring, layanan ini dapat diakses mudah oleh pelanggan melalui satu aplikasi, dan didukung pula oleh 200 mitra Antriin.id yang tersebar di seluruh Jabodetabek.
Elan menuturkan, pelanggan cukup memilih jenis antrean yang dipilih beserta deskripsi, lokasi, durasi layanan, serta lakukan pembayaran. Ketika telah terkonfirmasi, sistem akan mencarikan mitra terdekat dari lokasi permintaan. Pelanggan juga tak perlu khawatir, sebab terdapat fitur chatbox yang memudahkan komunikasi dengan mitra Antriin.id untuk mengetahui perkembangan antrean.
“Nah, durasi itu yang menentukan (berapa lama) mitra berada di antrean. Kalau misalkan dua jam di rumah sakit A, (maka) secara prosedural, SOP, seharusnya mitra akan berada di sana selama 2 jam sampai dia nanti selesaikan antrean,” jelasnya.
Layanan Antriin.id pun terbilang ramah di kantong. Apabila hendak memesan jasa antre di rumah sakit, pelanggan dikenakan tarif mulai dari Rp30 ribu per jam, sedangkan di luar itu Rp40 ribu per jam. Bahkan, terdapat potongan 50 persen bagi pelanggan pertama yang baru menggunakan layanan Antriin.id.
Apabila pesanan sudah selesai dan tervalidasi oleh sistem, mitra akan memperoleh hasil sebesar 80 persen yang dapat dipantau melalui aplikasi. Bahkan, terdapat insentif mingguan bagi mitra yang telah mengumpulkan total antre selama lebih dari 20 jam per minggu. Jika melanggar kesepakatan, Antriin.id memberi sanksi kepada mitra maupun pelanggan sebagai bentuk kedisiplinan.
“Kalau misalkan mitra Antriin telat datang lebih dari 15 menit, (maka) akan dipotong setengah jam dari komisi karena (sebagai bentuk) kedisiplinan. Dan, kalau customer-nya yang berlebih akan dikenakan charge (biaya tambahan) juga per setengah jam,” tambah Elan.
Terbukti Mudahkan Masyarakat
Meski belum satu tahun diluncurkan, keberadaan Antriin.id sangat membantu masyarakat untuk terhindar dari ‘horor’-nya antrean panjang. Seperti Kartika (35) yang sudah dua kali memanfaatkan Antriin untuk makan bersama keluarga di salah satu restoran daerah Bintaro, Tangerang Selatan.

Ada beberapa pelanggan yang menggunakan jasa Antriin.id di sebuah gerai makanan
Foto : David Kristiawan Irawan (magang)
“Ya, lumayan sih. Jadinya, nggak capek-capek ngantri ke restorannya. Nggak harus capek-capek nunggu,” ujar Kartika saat dihubungi detikX lewat sambungan telepon.
Kartika mengakui restoran keluarga tersebut selalu diincar para pengunjung, terutama saat di akhir pekan maupun libur panjang. Sedangkan Ia tidak bisa memastikan seberapa ramai pengunjung karena tidak ada sistem booking antrean secara daring. Alhasil, rasa kekesalan pun tidak dapat dihindarkan, dan terpaksa mencari restoran lain yang cenderung sepi.
“Pernah nyampe nanya (resepsionis), ‘Mbak, ini antreannya berapa lama?’ ‘Bisa lima atau sepuluh.’ Dan, itu satu antrean kan bisa buat lima orang, kadang tujuh orang. Jadinya, nunggu lama,” keluh Kartika.
Selain itu, Kartika khawatir jika sewaktu-waktu kedua buah hatinya yang masih duduk di bangku TK mengeluh karena lama menunggu antrean, sekaligus takut mengganggu banyak pengunjung. “Iya, entar nanya ‘Ini kapan makannya? Aku lapar’ gitu,” tambahnya.
Oleh sebab itu, Kartika mengapresiasi wujud pelayanan Antriin.id yang begitu maksimal, sigap, dan responsif. Ia pun juga tak sungkan merekomendasikan aplikasi tersebut kepada saudara, keluarga, hingga teman-temannya demi menyelamatkan mereka dari antrean panjang.
“Harapan untuk aplikasinya mungkin lebih diperbanyak mitranya lagi. Biar kalau kita mau order di mana, langsung ada (mitranya), gitu,” harap Kartika.
Senada dengan Kartika, Elan juga bersyukur atas jerih payahnya mendapat respon positif sekaligus menjawab solusi agar tidak lama mengantre. Bahkan, Ia tengah merancang inovasi Antriin.id yang menggabungkan teknologi robotik dengan kecerdasan buatan (AI) melalui robot-robot pelayan (serving robot).
“Nah, saya kepikiran untuk membuat satu device yang terintegrasi ke robot-robot tersebut untuk diletakkan di resto, rumah sakit, atau layanan klinik. Jadi, semoga bisa (membantu) tanpa menyentuh ranah (pribadi masyarakat),” pungkasnya.
Reporter/Penulis: David Kristian Irawan (magang)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim