Foto : Rifkianto Nugroho/detikFoto
Minggu, 12 April 2026Di tengah hiruk pikuk Jakarta, sebuah zebra cross di kawasan Tebet tiba-tiba menjadi sorotan. Garis-garis putihnya tak lagi seragam, melainkan membentuk pola tak biasa yang oleh warganet dijuluki ‘Pac-Man’, karakter animasi gim khas 90-an. Lokasi zebra cross tak jauh dari Monumen Patung Dirgantara, yakni berada tepat di Jalan Prof. Dr. Soepomo, Tebet, Jakarta Selatan. Keberadaan marka penyeberangan jalan ini berhasil memikat perhatian luas.
Usut punya usut, pembuatan zebra cross itu berangkat dari keresahan warga terhadap sejumlah marka penyeberangan yang rusak dan hilang, telah dilaporkan namun belum kunjung ditindaklanjuti.
Sayangnya, rasa terkesima masyarakat perlahan berubah menjadi kekhawatiran setelah muncul wacana pembongkaran zebra cross tersebut. Wacana ini mencuat dari pernyataan Gubernur Jakarta Pramono Anung yang berencana mengembalikan zebra cross ‘Pac-Man’ agar sesuai dengan standar yang berlaku. Sekalipun demikian, Pramono tetap mengapresiasi inisiatif warga yang secara swadaya membuat markah penyeberangan tersebut.
“Ini kreativitas yang positif, tapi zebra cross itu ada aturan mainnya. Maka kami kembalikan sesuai aturan yang berlaku,” ungkap Pramono saat ditemui Selasa (31/03/2026), dilansir detikcom.
Ia juga menyampaikan permohonan maaf atas banyaknya keluhan warga terkait zebra cross yang belum tertangani dengan baik. Ke depan, Pemerintah Provinsi Jakarta berencana mengevaluasi sistem pengaduan Jakarta Kini (JAKI) agar lebih efektif dalam menampung dan menindaklanjuti berbagai laporan masyarakat terkait fasilitas publik.
Meski menuai pro-kontra di masyarakat, kemunculan zebra cross itu merupakan hasil buah pikir serta kepedulian seorang warga Jakarta terhadap tanah kelahirannya. Sosok ini juga getol menyuarakan aspirasi masyarakat untuk bisa menikmati fasilitas atau layanan publik dengan layak.
Ia adalah Rafli Zulkarnaen (30), pemuda asli Betawi yang saban hari bekerja sebagai Brand Campaign salah satu agensi Jakarta. Rafli belakangan ini aktif menyuarakan berbagai keluhan warga tentang persoalan Ibu Kota melalui media sosial. Aktivitas tersebut berangkat dari pengalaman pribadinya sebagai korban kecelakaan lalu lintas.

Zebra cross buatan warga di Pancoran dikabarkan akan dibongkar, memicu kritik terhadap kondisi fasilitas penyeberangan di Jakarta.
Foto : Rifkianto Nugroho/detikFoto
Kepada detikX, pria yang akrab disapa Ijoel ini mengenang peristiwa yang menimpanya pada 2016, di sekitar Flyover Pancoran. Malam itu, jalanan gelap usai diguyur hujan. Tanpa disadari, ia melintasi lubang besar di tengah jalan.
Kecelakaan tersebut membuatnya mengalami cedera kaki hingga sempat tidak bisa berjalan selama dua minggu. Namun, alih-alih larut dalam luka, pengalaman itu justru menjadi titik balik baginya untuk bergerak agar orang lain tak mengalami hal serupa.
“Itu adalah bentuk nazar ‘dendam’ saya ke arah positif (yang) sampai saat ini dijaga terus. Supaya orang lain di Jakarta, siapapun (itu) bisa tinggal dan hidup nyaman di Jakarta,” ungkap Ijoel.
Sejak saat itulah, Ijoel mewujudkan nazarnya dengan rutin menandai jalan-jalan rusak di Ibu kota sebagai antisipasi bagi pengendara yang melintas. Tak hanya itu, Ia gencar menyuarakan keluhan-keluhan warga terhadap fasilitas dan layanan publik, termasuk pungutan liar (pungli), paku liar, serta kesulitan mengakses mobil ambulans. Baginya, masyarakat tidak hanya sekadar menikmati, namun juga dapat memberikan umpan positif demi menjamin fasilitas dan layanan publik yang layak.
“Tempat yang private property (milik swasta) atau tempat-tempat yang istilahnya tertutup saya nggak (menjangkau itu), tapi lebih ke fasilitas publik. Tempat yang ramai digunakan orang. Karena kalau di situ kan semua warga punya hak untuk menikmati dan mempunyai fasilitas yang bagus,” tegasnya.
Di samping itu, melalui tagar #Sadardiriaje Ijoel menyebut banyak warganet ikut terdorong untuk melaporkan kondisi jalan rusak di sekitarnya. Bahkan, ia melihat platform media sosialnya kini berkembang menjadi ruang bagi siapa saja untuk menyampaikan keluh kesah terkait berbagai persoalan Ibu Kota.
“Alhamdulillah-nya banyak (menjadi perhatian publik) karena tadi dibilang (saya) menampung (aspirasi) warga (yang) merasa curhatannya itu tertampung dan merasa curhatan ini diberikan solusi, lah,” tambahnya.

Zebra Cross Pac Man yang viral
Foto : Rifkianto Nugroho/detikFoto
Ijoel tidak menampik adanya cibiran hingga ancaman yang ia terima. Meski demikian, dalam empat tahun terakhir, ia tetap memilih bersikap bijak dan melanjutkan langkahnya, selama apa yang ia lakukan tidak melampaui batas.
“Jadi, hal-hal kayak gitu menurut saya menjadi masukan juga buat saya, buat pengingat juga. Tapi, kita nggak boleh sakit hati, nggak boleh baper juga, tetap terima masukan orang,” ungkap Ijoel.
Dari Jalan Rusak ke ‘Ruang Curhat’ Warga
detikX berkesempatan untuk mengikuti langsung bagaimana keseharian Ijoel menjadi ‘pahlawan’ di jalan raya. Kami mendatangi salah satu lokasi jalan rusak di belakang Mall Setiabudi One, Jalan H.R. Rasuna Said, Kecamatan Setiabudi, Jakarta Selatan, Kamis (02/04/2026) malam. Lokasi ini pernah menjadi titik penggalian saluran air serta kabel sebagai antisipasi terjadinya banjir di kawasan tersebut.
Sayangnya, satu bulan pasca perbaikan, kondisi aspal jalan justru dibiarkan berlubang, mengelupas, hingga timbul gundukan berukuran sejengkal tangan orang dewasa yang dibatasi oleh traffic cone. Ketika diguyur hujan, titik-titik itu seringkali menjadi kubangan dadakan yang menutupi setengah ruas jalan. Ditambah lagi, minimnya lampu penerangan juga mengancam keselamatan pengendara, serta meningkatkan risiko kecelakaan.
Ijoel menyebut, laporan kerusakan jalan itu ia terima dari warganet melalui direct message Instagram. Sebelumnya, baik ia maupun warga telah berulang kali melaporkan kondisi Jalan Rasuna Said kepada pihak berwenang, termasuk lewat aplikasi JAKI. Namun, hingga kini, perbaikan tak kunjung dilakukan.
Berbagai laporan masyarakat silih berganti menghampiri pesan media sosial Ijoel. Ia memiliki skala prioritas untuk menyaring setiap laporan sebelum terjun ke lapangan. “Kalau ada korban, itu yang paling saya prioritaskan. Sisanya, tergantung seberapa permasalahan itu (apakah) sudah lama atau baru terjadi. Kalau misalnya sudah lama, sudah kayak gini (parah kondisinya) sudah sebulan lebih, itu jadi prioritas saya juga,” ujarnya.
Usai memetakan titik-titik kerusakan jalan, Ijoel langsung tancap gas menyambangi setiap lokasi tanpa ragu. Alat dan kelengkapan yang dibawa pun terbilang sederhana, yakni hanya pilox, cone reflektor, tongkat lalu lintas (traffic baton), serta mengenakan rompi keselamatan (safety vest). Aktivitasnya pun rutin dilakukan setiap hari, utamanya saat kondisi jalanan lengang.

Judul Foto
Foto : Rifkianto Nugroho/detikFoto
Meski begitu, tak jarang rasa lelah dan kantuk kerap menghantuinya, sekaligus kesiapsiagaan saat berada di jalan. “Tantangan kalau di lapangan ini kita mesti bisa baca momen. (Ketika) kendaraan lewat, kita (berusaha untuk) nggak ganggu orang (yang melintas). Terus, kapan kita mesti nyebrang, kapan kita mesti berhenti dulu,” tambahnya.
Menumbuhkan Sadar Diri di Jalanan
Sembari menyemprotkan pilox di titik-titik kerusakan, Ijoel menuturkan asal mula pembuatan zebra cross “Pac-Man”. Ia mencermati sedikitnya lima zebra cross di Jalan Prof. Dr. Soepomo yang hilang atau tidak lagi utuh, namun belum juga diperbaiki. Padahal, lalu lintas di kawasan itu tergolong padat, sehingga keberadaan markah penyeberangan menjadi penting bagi keselamatan pejalan kaki.
“Karena di Jakarta ini ada zebra cross aja orang (suka) nerobos, apalagi nggak ada,” tegasnya.
Dari situ, muncul gagasan untuk menggambar ulang zebra cross tersebut. Namun, alih-alih sekadar meluapkan protes, Ijoel menggandeng sejumlah seniman mural untuk berkolaborasi. Sentuhan karakter gim Pac-Man pun hadir di atas marka jalan itu dan tak lama kemudian viral di berbagai lini masa.
Ketika wacana pembongkaran mengemuka, Ijoel memilih menyikapinya dengan legawa. Baginya, yang lebih penting adalah bagaimana pemerintah dapat lebih tanggap terhadap keresahan publik dan menjawabnya dengan solusi nyata.
“(Kalau keputusannya) udah nggak dibongkar, saya anggap sebagai bentuk apresiasi. Kalau dibongkar (dan) diganti yang lebih proper juga nggak masalah,” ungkapnya.
Karena itu, kerja-kerja sosialnya menjadi upaya untuk mendorong kesadaran publik terhadap lingkungan sekitar. Ia menilai, perubahan tidak perlu menunggu satu orang bertindak, melainkan bertumpu pada kesadaran yang tumbuh dalam diri masing-masing.
“Itu berlaku untuk siapapun, mau itu warga atau pemerintah. Karena warga aja bisa usaha untuk sadar diri, kenapa nggak semuanya bisa sadar diri juga. Karena dengan adanya budaya itu, menurut saya Jakarta ini akan lebih maju dan lebih bagus lagi,” pungkasnya.
Reporter dan Penulis: David Kristian Irawan (magang)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim