Ilustrasi : Fuad Hasim
Jumat, 20 Maret 2026Malam takbiran biasanya identik dengan rumah yang ramai. Suara takbir terdengar dari luar, orang-orang sibuk di dapur, dan keluarga mulai berkumpul setelah perjalanan mudik. Suasananya hangat, kadang juga sedikit riuh, tapi justru itu yang ditunggu-tunggu setiap tahun. Namun, bagi Gani, suasana seperti itu tidak selalu bisa ia nikmati dari rumah.
Sudah tiga tahun terakhir, sejak ia lulus dan langsung bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di Jakarta, ritme Lebaran berubah menjadi sesuatu yang lebih sunyi atau berbeda. Tahun ini pun tak banyak berubah. Ia tetap masuk kerja sepanjang periode Lebaran, dengan jatah libur yang baru datang pada tanggal 22, hanya satu hari.
Saat banyak orang berkumpul, hari-hari Gani tetap berjalan seperti biasa, mengikuti jadwal shift yang sudah ditentukan. “Kalau tenaga kesehatan memang biasanya tidak ikut cuti bersama seperti pekerjaan lain, karena rumah sakit harus tetap beroperasi dan tetap ada tenaga yang berjaga,” ujarnya.
Di rumah sakit tempatnya bekerja, sistem shift membagi waktu menjadi tiga bagian: pagi, sore, dan malam. Shift pagi dimulai pukul 08.00 hingga 14.00, disusul shift sore hingga pukul 20.00, dan shift malam yang panjang, dari pukul 20.00 sampai 08.00 keesokan harinya. Pola ini terus berputar, tanpa mengenal hari libur, termasuk saat Lebaran.
Pada tahun-tahun awal, terutama ketika pertama kali harus menjalani malam takbiran di rumah sakit, ada rasa yang sulit dijelaskan. Sebuah jeda yang terasa janggal di tengah kebiasaan yang selama ini ia kenal. “Waktu pertama kali kerja dan harus menjalani malam takbiran di rumah sakit itu sempat merasa kaget juga sih, karena biasanya kan malam takbiran identik dengan kumpul keluarga atau suasana di rumah,” ungkapnya.
Namun seperti banyak hal dalam pekerjaan, rasa itu perlahan berubah menjadi kebiasaan. Rutinitas menggantikan kerinduan, dan tugas-tugas harian menjadi cara untuk tetap berjalan.

Para Suster di rumah sakit Jakarta, para petugas masih bekerja di hari raya.
Foto : Detikcom
Sehari-hari, Gani bertanggung jawab merawat pasien, memantau kondisi mereka, memastikan tanda-tanda vital stabil, serta memberikan obat sesuai instruksi dokter. Ia juga membantu berbagai kebutuhan pasien selama dirawat, hal-hal yang sering kali tak terlihat, tapi menentukan kenyamanan dan keselamatan seseorang.
Di sela-sela tugas itu, Lebaran tetap hadir dalam bentuk yang lebih kecil, lebih sederhana. Kadang datang dari rekan kerja, atau dari seseorang yang rumahnya tak jauh dari rumah sakit.
“Kadang juga suasana Lebaran masih terasa di rumah sakit, misalnya ada senior atau teman satu ruangan yang rumahnya dekat dari RS suka mengirimkan kue-kue kering Lebaran atau makanan khas seperti ketupat, opor, atau rendang,” tutur perempuan berusia 24 tahun itu.
Momen-momen kecil itu menjadi pengganti suasana rumah yang tak sepenuhnya bisa ia nikmati. Meski begitu, Gani masih beruntung. Ia tidak merantau. Ia masih tinggal bersama orang tuanya.
Karena itu, jika jadwal mengizinkan, misalnya mendapat shift sore atau malam, ia menyempatkan diri pulang sejenak. Duduk bersama keluarga, makan, atau sekadar berbincang sebelum kembali mengenakan seragam dan berangkat ke rumah sakit.
Namun ada satu hal yang masih terasa tertinggal setiap Lebaran. “Paling pengen salat Id bareng keluarga, terus menikmati vibes Lebaran di rumah sambil kumpul keluarga,” pungkas Gani.

Ruang UGD dimana para perawat siaga pada hari raya lebaran.
Foto : dok. Rumah Sakit Islam Bogor
Di sisi lain, Brahmatya menjalani Lebaran dengan cara yang tak kalah berbeda. Ia bukan tenaga kesehatan, tapi pekerjaannya tak kalah krusial. Sejak 2021, ia bekerja sebagai teknisi maintenance pesawat, memastikan setiap pesawat yang akan terbang berada dalam kondisi aman dan layak.
Di industri itu, pekerjaannya dikenal sebagai bagian dari MRO (Maintenance, Repair, Operation). Ia berada di lini maintenance, bekerja di area base maintenance, tempat di mana pesawat diperiksa secara lebih mendalam.
Berbeda dengan perawatan cepat di apron yang hanya berlangsung sekitar satu jam sebelum keberangkatan, pekerjaan di base maintenance bisa berlangsung berhari-hari hingga berbulan-bulan. Ada A-check yang memakan waktu kurang dari seminggu, B-check sekitar dua minggu, hingga C-check yang bisa berlangsung 4 sampai 8 minggu. Bahkan overhaul bisa mencapai enam bulan. Semua itu membuat pekerjaannya tidak bisa berhenti begitu saja.
“Kalau gue libur, maintenance berhenti dan nggak ada progress. Soalnya ada target waktu, TAT (Turn Around Time). Kalau gue nggak masuk, man hours hilang dan itu ngaruh ke jadwal release pesawat,” jelasnya.
Karena itu, konsep cuti bersama hampir tidak berlaku di tempatnya bekerja. Sistem kerja berbasis produksi membuat kehadiran setiap orang menjadi bagian penting dari rantai pekerjaan yang lebih besar. Tahun ini, seperti beberapa tahun sebelumnya, Brahmatya tetap bekerja saat Lebaran. Bukan karena tidak punya pilihan, tapi karena jatah cutinya sudah habis.
Ia mengakui, selama ini cutinya sering digunakan untuk hal-hal sederhana, istirahat di rumah, menjaga kesehatan mental, atau sekadar mengambil jeda dari rutinitas yang terasa monoton.“Kadang kerjaan kan capek dan monoton, jadi butuh jeda juga walaupun cuma buat rebahan,” ungkapnya.

Pekerja dari Garuda Maintenance Facility (GMF) melakukan perawatan ruang kemudi pesawat Garuda Indonesia di Hanggar II GMF, Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten.
Foto : Muhammad/ANTARA
Namun dari situ ia belajar sesuatu. Bahwa cuti bukan hanya soal istirahat, tapi juga soal memilih momen. “Ke depan pengen lebih hemat dan direncanakan, biar bisa dipakai buat pulang kampung atau momen yang lebih berarti,” ujarnya.
Sebagai non-Muslim yang besar di Bali, Lebaran bagi Brahmatya bukanlah momen yang sejak kecil ia tunggu-tunggu. Ia justru baru merasakan atmosfer Lebaran ketika merantau ke Jawa saat kuliah. Karena itu, ia merasa tidak memiliki urgensi yang sama untuk pulang saat hari raya ini. Ia justru lebih memilih pulang saat Nyepi, hari raya yang lebih dekat dengan dirinya.
Namun bekerja saat Lebaran tetap memberikan pengalaman tersendiri. Hanggar tempat ia bekerja terasa lebih lengang. Banyak rekan kerja, terutama yang berasal dari luar Jawa, pulang kampung. “Banyak senior yang libur atau pulang kampung, jadi kondisi di hanggar juga lebih lengang,” katanya.
Dalam kondisi seperti itu, ritme kerja berubah. Tanpa kehadiran senior yang biasanya mengatur alur pekerjaan, ia dan timnya memiliki ruang lebih untuk mengatur ritme sendiri. “Kalau lagi nggak ada, kita yang lebih pegang kendali buat ngatur ritme kerja sendiri. Jadi lebih fleksibel, lebih santai juga secara suasana,” ujarnya.
Namun santai di sini bukan berarti tanpa tanggung jawab. Di balik suasana yang lebih lengang, pekerjaan yang ia lakukan tetap menyimpan konsekuensi besar. Setiap baut yang dikencangkan, setiap komponen yang diperiksa, semuanya berkaitan langsung dengan keselamatan.
“Kadang orang-orang yang naik pesawat atau mudik itu kan nggak kepikiran ya, di balik itu semua ada teknisi yang kerja di belakang layar. Kita memastikan setiap komponen itu aman, sesuai standar, dan pesawatnya benar-benar layak terbang,” katanya. Di hanggar, Brahmatya memastikan pesawat tetap aman membawa orang-orang pulang ke kampung halaman mereka. Diam-diam, pekerjaannya menjadi bagian dari Lebaran orang lain.
Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz(magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim