Foto-foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)
Rabu, 18 Maret 2026Menjelang Idulfitri, suasana di kawasan permukiman Kelurahan Larangan Utara, Kota Tangerang, berubah drastis. Di rumah-rumah warga, oven menyala hampir tanpa henti. Aroma mentega bercampur selai nanas menguar dari dapur-dapur kecil yang menjadi pusat produksi kue kering.
Di tempat inilah masyarakat mengenalnya sebagai Kampung Nastar, sebuah kawasan yang dikenal sebagai sentra produksi kue kering rumahan, terutama nastar, yang ramai dipesan menjelang Lebaran.
Bagi warga sekitar, aktivitas ini bukan sekadar rutinitas musiman. Produksi kue kering telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari sekaligus sumber penghidupan bagi banyak keluarga. Sri Kusmiati merupakan salah satu pelaku usaha di kawasan tersebut. Usaha yang bermula dari kebutuhan membantu ekonomi keluarga itu kini menjadi bagian dari ekosistem usaha rumahan di Kampung Nastar.
“Saya produksi dari tahun 1997,” kata Sri saat ditemui detikX di rumah produksinya. Awalnya, usaha tersebut muncul dari kebutuhan sederhana. Saat itu ia mencoba mencari tambahan penghasilan dengan menjual kue. “Awalnya karena kepepet di Jakarta. Buat tambahan nyari, buat ngebantu suami, saya akhirnya jual-jual kue.”
Sri mengaku pada awalnya ia hanya mencoba membuat kue sederhana dengan resep yang dipelajari secara mandiri. Namun seiring meningkatnya permintaan dan persaingan, ia mulai mengembangkan variasi dan kualitas produknya. “Awalnya cuma yang simpel-simpel aja, yang jadul gitu. Cuma lama-lama persaingan, saya harus lebih bagus, lebih kualitas, lebih enak lah. Akhirnya saya cari-cari resep itulah,” kata Sri. Kini, dapur rumahnya menjadi salah satu titik produksi yang cukup sibuk di kawasan tersebut.
Menjelang Lebaran, aktivitas produksi di Kampung Nastar meningkat tajam. Di Indonesia, kue kering seperti nastar hampir selalu hadir di meja ruang tamu saat Idulfitri. Kue kering dengan isian selai nanas ini menjadi bagian dari tradisi Lebaran yang sulit dipisahkan.
Di rumah Sri, proses pembuatan kue dimulai dari menyiapkan selai nanas hingga mencetak adonan sebelum dipanggang. Menurut Sri, dalam kondisi normal ia bisa memproduksi ratusan toples nastar setiap hari.
“Kalau patokannya sekitar nastar aja bisa 200–300 toples. Kan nastar ada dua di sini, nastar keju sama nastar biasa. Itu sekitar 300-an,” katanya. Selain nastar, beberapa jenis kue kering lain juga diproduksi, seperti putri salju dan kastengel. Namun nastar tetap menjadi produk yang paling banyak diminati. “Karena yang viralnya nastar. Yang best seller-nya nastar itu.”
Produksi biasanya dimulai jauh sebelum Ramadan. Namun lonjakan pesanan biasanya terjadi ketika bulan puasa sudah berjalan. Tingginya permintaan membuat beberapa pelaku usaha bahkan harus menutup pemesanan lebih cepat. Sri sendiri sudah menutup pemesanan dengan sistem Pre- Order sejak seminggu lalu.
Harga kue pun bervariasi tergantung ukuran dan jenisnya. Satu toples kue kering dijual dengan harga Rp55 ribu sampai Rp140 ribu. Sementara toples dengan harga tertinggi biasanya berisi kombinasi beberapa jenis kue. “Yang Rp140.000 itu kombinasi. Isinya lima macam: nastar, salju, keju, sama cokelat mede,” ujarnya.

Para pekerja sedang menyiapkan pesanan kue kering yang biasanya melonjak di bulan Ramadan
Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)
Dari Permukiman Warga Menjadi Sentra UMKM
Julukan Kampung Nastar tidak muncul secara tiba-tiba. Menurut Lurah Larangan Utara, Iwan Bambang Subekti, awalnya hanya ada satu warga yang memproduksi nastar di kawasan tersebut. Namun karena produknya diminati masyarakat, usaha tersebut berkembang dan ditiru oleh warga lain.
Dari situ, beberapa pekerja yang sebelumnya membantu produksi mulai membuka usaha sendiri di rumah masing-masing. “Jadi berkembang, jadi ada sekitar 12 pelaku usaha UMKM,” ujarnya. Secara resmi, kawasan tersebut mulai dikenal sebagai Kampung Nastar sekitar tahun 2021. Sejak saat itu, kawasan tersebut mulai mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah maupun media.
Seiring meningkatnya popularitas Kampung Nastar, permintaan produk juga semakin luas. Menurut Iwan, pesanan tidak hanya datang dari masyarakat sekitar, tetapi juga dari berbagai instansi hingga luar negeri.
“Pesanan ada dari hotel, dari online, dari kedutaan, dari perusahaan-perusahaan,” ujarnya. Ia bahkan menyebut beberapa produk kue dari kampung tersebut pernah sampai ke Eropa. “Sekarang sudah sampai ke Eropa. Sampai ke Belanda, sekarang sampai ke Jerman.” Menjelang Lebaran, pesanan biasanya sudah penuh bahkan dua bulan sebelumnya. Aktivitas produksi pun berlangsung hampir sepanjang hari.
“Pegawai Kampung Nastar dari pagi sampai pagi lagi, dua shift. Dari pagi sampai sore, dari buka sampai mau sahur,” pungkasnya.

Aneka kue kering produksi rumahan andalan Kampung Nastar
Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)
Keberadaan industri rumahan di Kampung Nastar juga memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Menurut Iwan, satu usaha rumahan biasanya mempekerjakan beberapa orang dari lingkungan sekitar. Satu UMKM bisa menampung pekerja sebanyak delapan hingga sepuluh orang. Jika dihitung secara keseluruhan, usaha kue kering di kawasan tersebut mampu menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
“Alhamdulillah berarti sudah merangkul warga sekitar saja lebih dari seratus orang,” ujarnya. Para pelaku usaha juga saling bekerja sama ketika menerima pesanan dalam jumlah besar. “Order A ini kelebihan, kita bagi ke order B. Jadi saling membantu, saling mengingatkan juga.”
Warga kampung nastar berharap mereka dapat terus berkembang sebagai sentra UMKM sekaligus destinasi kuliner lokal. Menurut Iwan, dukungan dari berbagai pihak masih dibutuhkan untuk mengembangkan potensi kampung tersebut.
“Saya ingin Indonesia punya satu-satunya kampung inovatif nastar di Kota Tangerang,” katanya.
Ia ingin keberadaan kampung ini tidak hanya membantu perekonomian warga, tetapi juga menjadi inspirasi bagi wilayah lain. “Saya berharap kampung nastar ini tetap lebih maju lagi dan menjadi daya tarik wilayah,” ujarnya.
Reporter/Penulis: Decylia Eghline Kalangit (magang)
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim