Intermeso
Antara Rindu dan Risiko: Ketika Mudik Motor Tetap Jadi Pilihan
Sumber Gambar: AI Generative
Setiap Lebaran, ada satu pemandangan yang hampir pasti muncul di jalan raya: jutaan motor yang dimuati separuh rumah. Di jok belakang duduk istri atau anak kecil, di antara kaki terselip tas plastik, di belakang tergantung ransel besar, kadang ditambah kardus oleh-oleh yang diikat tali rafia.
Mereka berangkat dari kota sebelum Subuh, berharap tiba di kampung saat sore belum terlalu gelap. Pulang, berkumpul dengan keluarga besar, makan bersama setelah setahun sibuk di kota.
Sepeda motor jadi pilihan yang paling masuk akal bagi banyak orang. Ongkosnya lebih ringan, waktunya fleksibel, dan tidak perlu berebut tiket kereta atau bus yang sering habis jauh hari sebelum Lebaran. Karena itu, jumlahnya selalu besar.
Survei Kementerian Perhubungan memperkirakan sekitar 24 juta orang akan mudik menggunakan sepeda motor pada 2026. Angka ini melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, yang sekitar 12,7 juta pengendara.
Tak hanya itu, yang mengkhawatirkan, dalam beberapa tahun terakhir, sekitar 75,9 persen kecelakaan selama periode mudik melibatkan sepeda motor, jauh melampaui mobil pribadi, bus antarkota, maupun truk logistik, yang sama-sama memenuhi jalur mudik.
Banyak faktor yang membuat perjalanan ini jadi rawan, antara lain muatan berlebih, jarak tempuh ratusan kilometer, tubuh yang kelelahan setelah berjam-jam di jalan, sampai cuaca dan kondisi jalan yang tidak selalu ramah.
Tradisi pulang kampung tetap berjalan setiap tahun, dan bagi pengendara motor, perjalanan itu kerap kali menjadi taruhan antara rindu dan risiko.