Tirai Toleransi di Bulan Suci
Ramadan dan Langkah Anak Muda Membangun Peradaban dari Masjid
Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda di banyak masjid, tempat umat berkumpul untuk beribadah sekaligus mempererat kebersamaan. Di ruang-ruang ini, generasi muda, warga sekitar, hingga para musafir bertemu dalam satu tujuan, yaitu mengisi waktu dengan kegiatan yang menumbuhkan iman serta menumbuhkan peradaban.
Di Masjid Sejuta Pemuda, suasana itu terasa hidup sepanjang hari. Masjid yang diresmikan pada 2024 di Sukabumi, Jawa Barat, ini tidak hanya membuka pintunya saat waktu salat, tetapi beroperasi selama 24 jam dan menjadi tempat singgah bagi banyak orang, terutama kalangan muda dari berbagai daerah.
Selama Ramadan, berbagai kegiatan keagamaan digelar secara rutin untuk menghidupkan suasana ibadah. Seusai salat fardu, jemaah berkumpul membaca satu juz Al-Qur’an bersama, sementara program berbagi makanan menyiapkan hingga puluhan ribu porsi untuk berbuka dan sahur. Ada pula hadiah bagi mereka yang rutin melaksanakan salat Tarawih di Masjid Sejuta Pemuda.
Program masjid antilapar juga berjalan setiap hari dengan membagikan makanan kepada warga yang membutuhkan di lingkungan sekitar. Inisiatif ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan masjid sebagai ruang kepedulian sosial yang terbuka bagi siapa pun.
Bagi sebagian orang, masjid ini juga menjadi tempat berlabuh sementara. Para musafir yang datang dari luar kota dapat beristirahat di area yang telah disediakan, lengkap dengan alas tidur dan bantal agar mereka dapat beristirahat dengan lebih nyaman.
Di sela-sela aktivitas ibadah, suasana santai juga tercipta pada malam hari. Sebuah coffee bar sederhana dikelola oleh marbut yang meracik kopi secara cuma-cuma bagi para pengunjung, menemani obrolan ringan jemaah setelah rangkaian ibadah.
Hasan Haidara (25), mahasiswa asal Mali yang telah menghafal 30 juz Al-Qur’an, menjadi salah satu yang rutin datang ke masjid ini selama Ramadan. Ia memanfaatkan waktunya untuk mengulang hafalan sekaligus mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh pengurus masjid. Bagi Hasan, suasana yang diciptakan pengelola membuatnya merasa nyaman. Banyak yang datang merupakan anak muda seusianya sehingga ia merasa mudah berbaur dan menemukan teman baru selama berada di Indonesia.
Hal serupa dirasakan Nader Sadek (23), mahasiswa asal Libya yang sedang menempuh pendidikan di Indonesia. Jauh dari kampung halaman, ia mengaku merasa terbantu oleh fasilitas yang tersedia di masjid ini. Baginya, kehadiran masjid yang terbuka sepanjang waktu, menyediakan tempat beribadah, makanan, serta ruang berkumpul bagi anak muda, membuat Ramadan terasa lebih hangat meski berada jauh dari tanah kelahiran.
Konsep yang diusung pengelola berangkat dari gagasan dakwah yang melibatkan generasi muda sebagai penggerak. Melalui pendekatan yang lebih terbuka, masjid diharapkan menjadi ruang pertemuan yang akrab bagi anak muda untuk belajar, beribadah, bersosialisasi, dan membangun peradaban.
Para jemaah membaca Al-Qur’an di selasar masjid.
Sejumlah pengurus Masjid mengikuti kegiatan belajar keagamaan di dalam kelas.
Para jemaah mengikuti program satu hari satu juz setelah melaksanakan salat.
Pengurus masjid mempersiapkan makanan berbuka puasa bagi para musafir.
Pengurus menjalankan program Masjid Mustahil Lapar kepada kaum duafa.
Para musafir berbuka puasa bersama di Masjid Sejuta Pemuda.
Sejumlah jemaah menikmati pemandangan di selasar masjid.
Pengurus masjid meracik kopi untuk para jemaah.
Hasan Haidara (kiri) dan Nader Sadek (kanan).
Foto bersama pengurus Masjid Sejuta Pemuda



