INTERMESO

Menunggu Magrib di Blok M

Di bulan Ramadan, Blok M berubah menjadi ruang berbuka penuh pilihan, dari yang viral dan nyaman hingga takjil sederhana, tempat setiap orang menemukan caranya sendiri menikmati Ramadan

Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

Jumat, 27 Februari 2026

Menjelang azan magrib, Blok M berubah menjadi ruang temu. Trotoar dipenuhi langkah yang dipercepat, layar ponsel menampilkan daftar restoran viral, dan percakapan yang sama terdengar berulang, “Mau makan apa?”

Pertanyaan itu sederhana. Namun di Blok M, jawabannya bisa bercabang ke puluhan kemungkinan. Kawasan ini tak lagi sekadar titik belanja atau nostalgia Jakarta lama. Ia telah menjelma menjadi simpul kuliner lintas segmen, tempat mahasiswa, pekerja kantoran, komunitas, hingga keluarga bertemu dalam satu ritme yang sama, yaitu menunggu waktu berbuka.

Blok M bekerja seperti ekosistem. Jika satu restoran penuh, yang lain menunggu. Jika satu menu terasa terlalu berat, ada opsi yang lebih ringan. Jika satu tempat terlalu ramai, cukup berjalan lima menit untuk menemukan alternatif. Fleksibilitas inilah yang membuat kawasan ini selalu relevan setiap Ramadan. Tidak perlu strategi matang. Cukup datang.

“Kalau Blok M kan sebenarnya banyak pilihan kan. Jadi kayak sebenernya mau makan apa… karena di sini banyak yang viral, otomatis banyak yang rame. Jadi kalau misalnya ini rame kita bisa pindah ke yang lain gitu sih. Jadi lebih ke banyak pilihan gitu,” ujar Alfi Nikmatika Syifa, perempuan berusia 27 tahun yang sore itu tengah menunggu waktu berbuka di salah satu sudut paling ramai di Blok M.

Di antara berbagai pilihan itu, Misoa Hoki menjadi titik singgah Alfi dan temannya Salma Hanifah. Restoran ini menyajikan misoa berkuah hangat dengan topping sederhana. Pilihan yang terasa aman setelah seharian menahan lapar.

Jajanan di depan Blok M Square

Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

Para pengunjung menunggu waktu magrib

Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

Misoa Hoki salah satu jajanan di sudut Blok M

Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

“Alasannya sih karena kita kalau main gitu ketemu seringnya di Blok M. Terus makan ini karena sebelumnya udah pernah makan juga di sini dan enak gitu sih, dan awalnya tau juga dari TikTok juga,” kata Salma. Keputusan mereka bahkan lahir dari kebingungan yang spontan. “Awalnya sih clueless ya, kita nggak ngerti apa. Terus kita kayak keliling-keliling, yaudahlah misoa ini aja,” ujarnya.

Di Blok M, rencana sering kali kalah oleh keadaan. Orang datang dengan niat mau makan ini atau itu, tapi begitu melihat antrean mengular atau meja penuh, pilihan bisa berubah dalam hitungan menit. Di sini, keputusan lahir dari situasi, melihat barisan yang terlalu panjang, menimbang waktu berbuka yang tinggal sebentar, lalu akhirnya berkata, “ya sudah, pindah saja.”

Menu berkuah hangat jadi salah satu yang paling dicari. Setelah seharian menahan lapar dan haus, semangkuk makanan berkuah terasa menenangkan. Hangatnya seperti memberi jeda pada tubuh sebelum benar-benar makan besar. Dengan kisaran harga Rp50 ribu hingga Rp100 ribu per orang, pilihan seperti ini masih terasa masuk akal untuk kalangan muda yang ingin berbuka tanpa merasa terlalu berat di kantong.

Tapi di Blok M, satu nama hampir selalu disusul nama lain. Rekomendasi muncul sambil lalu, seperti percakapan yang tak pernah benar-benar selesai.

“Ramen Jiroku ya kalau mau yang kuah-kuah. Sebenernya banyak sih,” kata Salma.

Alfi langsung menambahkan pilihan lain di Blok M Square. Menurutnya enak, asal siap antre. “Iya, kalau di sini PR-nya adalah ngantri.” Antrean pun seolah sudah jadi bagian dari cerita berbuka di kawasan ini. Bukan cuma soal menunggu, tapi juga tanda bahwa tempat itu sedang digemari.

Yakiniku salah satu tempat jajan untuk santai

Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

Seorang pengunjung sedang menunggu pesanan

Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

Para pengunjung sedang menunggu pesanan

Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

Tak jauh dari sana, restoran bernama Koi No Yokan punya cerita berbeda. Kalau yang satu dipilih karena hangatnya kuah, yang ini ramai karena namanya sering lewat di linimasa. Carlo Toorop Johanes Jehezkiel Pangaribuan, laki-laki berusia 24 tahun ini datang membawa rasa penasaran yang tumbuh dari media sosial.

“Alasan utama kenapa mau coba Koi No Yokan, karena liat di media sosial kalau viral, itu yang katanya enak juga. Jadi penasaran dan pengen coba,” tuturnya.

Sekarang, banyak orang mengenal tempat makan bukan dari papan nama di jalan, melainkan dari FYP dan reels. Sesuatu yang sering muncul di layar terasa sayang untuk dilewatkan.

Carlo memesan rice bowl dengan tambahan daging dan memberinya nilai 9 dari 10. “Karena oke banget rasanya dan dagingnya empuk banget,” katanya. Cara ia menilai pun terdengar seperti ulasan daring, lengkap dengan angka dan pembanding. Menurutnya, Misoa Hoki layak di angka 8,5, sementara Obihiro Nikudon cocok untuk berbuka karena porsinya mengenyangkan.

Begitulah biasanya malam berjalan di Blok M. Makan utama di satu tempat, lalu berpindah untuk minum atau pencuci mulut di tempat lain. Seolah-olah satu kunjungan saja belum cukup.Kalau ada yang datang karena viral, ada juga yang mencari kenyamanan. Jessica Marvella Irianto, perempuan berusia 23 tahun ini memilih Uma Kopi karena suasananya.

Pengunjung Uma Kopi sedang berbincang sambil menunggu pesanan.
Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)

“Menurut aku Uma Kopi tuh tempatnya kayak PW, nyaman, bersih. Terus di sini nggak ada asap rokoknya juga sih, dan indoor, ada AC-nya, jadi nggak gerah dan makanannya juga makanan Nusantara, yang menurut aku cocok sih untuk berbuka puasa,” ujarnya.

Bagi sebagian orang, berbuka bukan cuma soal rasa, tapi juga soal ruang. Duduk lebih lama, mengobrol tanpa tergesa, menikmati pendingin ruangan setelah seharian beraktivitas. Untuk makan dan minum, Jessica memperkirakan perlu sekitar Rp100 ribu hingga Rp200 ribu, pilihan yang masih jadi pertimbangan banyak orang yang ingin suasana lebih nyaman.

Namun tidak semua orang ingin duduk lama. Di depan Blok M Square, suasananya berbeda. Meja-meja panjang dipenuhi gorengan, risol, pastel, lemper, kue lapis, dan dadar gulung. Aroma minyak panas bercampur manis gula cair menguar di udara menjelang azan. Orang datang, memilih cepat, lalu membayar tanpa banyak basa-basi.

Dengan Rp10 ribu, beberapa potong takjil sudah bisa dibawa pulang. Di kisaran Rp25 ribu hingga Rp50 ribu, pilihan makin lengkap, gorengan, minuman segar, sampai kue basah untuk keluarga di rumah.

Di sini, tak ada daftar tunggu atau rebutan meja. Hanya percakapan singkat antara pembeli dan penjual, plastik kresek yang diikat, lalu langkah yang kembali dipercepat sebelum azan berkumandang. Pilihan ini mungkin yang paling sederhana, tapi justru terasa akrab. Manis di awal, ringan, lalu dilanjutkan dengan makan besar di tempat lain atau mungkin cukup sampai di situ saja.


Reporter: Decylia Eghline Kalangit (magang)
Penulis: Decylia Eghline Kalangit (magang) 
Editor: Irwan Nugroho dan Melisa Mailoa
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE