Foto : dok pribadi Winda Astariyah Fatimah
Minggu, 22 Februari 2026Di banyak ruang perawatan, kehadiran keluarga sering kali tidak selalu utuh. Ada yang harus bekerja, ada yang tinggal jauh, ada pula yang hanya bisa datang sesekali di sela kesibukan. Di sela kekosongan itulah, sosok pendamping pasien hadir. Bukan sebagai pengganti keluarga, tetapi sebagai seseorang yang menjaga, menunggu, dan memastikan pasien tidak merasa sendirian dalam masa paling rentan dalam hidupnya. Najwa Salsabila, yang akrab disapa Najwa, menjalani peran sebagai caregiver sejak November 2024.
Keputusan menjadi caregiver bukan datang tanpa alasan. Saat itu, ia sedang cuti dan belum melanjutkan kuliah, sementara latar belakangnya berada di bidang keperawatan dan pernah menjalani dinas di beberapa rumah sakit. Kebingungan mencari pekerjaan yang tetap relevan dengan bidangnya justru membawanya pada pilihan yang kini menjadi keseharian. “Aku juga bingung, aku mau kerja apa ya yang berkaitan dengan keperawatan, akhirnya aku menjadi caregiver, karena caregiver itu banyak dibutuhkan sama pasien. Jadi itu juga sebidang sama jurusanku.”
Di balik keputusan itu, ada dorongan yang lebih personal. Ia tidak sekadar ingin bekerja, tetapi ingin hadir sebagai sosok yang membantu pasien seperti keluarga sendiri. “Yang melatar belakangi aku membuka jasa ini karena pertama aku mau membantu banyak masyarakat, kedua aku pengen mendapatkan pengalaman menjaga pasien selayaknya keluarga,” katanya. Pengalaman dinas di rumah sakit yang pernah ia jalani menjadi bekal yang kemudian ia terapkan dalam pekerjaannya sebagai pendamping pasien freelance yang ia promosikan melalui TikTok, dengan area layanan Jakarta Barat, Jakarta Selatan, dan Jakarta Pusat.
Hari-hari Najwa diisi dengan tugas-tugas yang tidak ringan, namun sering kali tidak terlihat oleh orang luar. Ia menyuapi pasien, mengganti popok, memandikan, membantu pasien makan, membersihkan luka-luka pasien, bahkan membantu pasien berbicara ketika kesulitan berkomunikasi. Dalam banyak situasi, ia juga menemani pasien berobat, mengurus pendaftaran, mengambil obat, hingga membantu kebutuhan kecil seperti membeli sesuatu di minimarket ketika pasien membutuhkannya.

Najwa Salsabila, seorang caregiver, pendamping Pasien yang mempunyai latar belakang studi Keperawatan
Foto : Decylia Eghline Kalangit (magang)
Namun, yang paling ia tekankan bukan hanya tindakan fisik, melainkan kehadiran emosional. Bagi Najwa, menjadi caregiver berarti memastikan pasien tidak merasa sendirian menghadapi sakitnya. Bagi Najwa, rasa kesepian pasien adalah bagian dari sakit yang tak terlihat. “Aku juga membuka pelayanan jasa menceritakan keluh kesah pasien jika ada penyakit. Jadi dia tidak merasa sendirian, dia punya aku. Jadi dia bisa menceritakan apapun keluh kesah di hati dia,” ucapnya. Dari sini, hubungan antara caregiver dan pasien perlahan berubah dari sekadar relasi jasa menjadi relasi yang lebih personal.
Kedekatan itu bahkan berlanjut setelah layanan selesai. Najwa mengakui bahwa salah satu pengalaman paling berkesan dalam pekerjaannya adalah hubungan yang tetap terjaga dengan pasien dan keluarga mereka. “Pengalaman terbesar aku, aku jadi punya banyak keluarga karena banyak orang yang selama memakai jasaku sampai sekarang masih menganggap aku seperti keluarga.” Setelah masa pendampingan berakhir, komunikasi tidak selalu putus. “Masih, masih berhubungan baik,” ujarnya ketika ditanya apakah relasi itu tetap terjalin.
Meski demikian, perjalanan menjadi caregiver tidak selalu dipenuhi penerimaan. Najwa sering menghadapi keraguan, terutama karena usianya yang masih muda. “Terus pernah diremehkan juga oleh keluarga pasien, kayak ‘Kamu beneran bisa merawat ibu saya sampai sembuh?” Tidak jarang pula ia harus menghadapi pasien yang marah atau meluapkan emosi. “Terus tantangan dari pasiennya pernah diudahin, pernah di caci maki, terus pasiennya juga pernah ngata-ngatain kita, tapi kita harus sabar, balik lagi harus sabar.” Baginya, kunci dari pekerjaan ini bukan semata keterampilan teknis, melainkan kesabaran dan keikhlasan.
Prinsip kerja itu juga tercermin dalam sistem layanannya. Najwa tidak meminta pembayaran di awal dan memilih dibayar setelah pekerjaan selesai. “Jadi aku kerja dulu baru nanti aku diminta transfer. Kadang ada yang dari awal udah transfer aku balikin, karena aku belum dapatkan hak aku, aku belum kerja. Jadi aku nggak mau nerima uang kalau aku belum kerja.” Baginya, menjadi caregiver bukan pekerjaan yang bisa semata-mata berorientasi pada nominal. “Jasa caregiver itu bukan sekedar jasa yang bisa mengharapkan punya banyak uang… Buka jasa caregiver itu harus sabar, harus ikhlas, dan kita enggak mengharapkan nominal kita yang kita dapat setiap harinya itu besar.”

Pintu keluar masuk rumah sakit Pelni
Foto : dok pribadi Winda Astariyah Fatimah
Dalam sebulan, pendapatannya tidak selalu stabil, bahkan bergantung pada jumlah permintaan. “Tergantung, tapi paling besar itu Rp2,5 juta,” katanya jujur. Ia juga menekankan bahwa tarif yang ia tetapkan sudah termasuk uang makan dan transportasi, sehingga pasien tidak perlu menanggung biaya tambahan.
Jam kerjanya tidak pernah benar-benar tetap. Ia menyesuaikan diri dengan kebutuhan pasien, bahkan jika harus datang subuh atau berjaga hingga belasan jam. Untuk rawat inap, ia biasanya bekerja minimal 12 jam hingga maksimal 20 jam karena tetap membutuhkan waktu istirahat. Sementara untuk pendampingan berobat, durasi bisa hanya sekitar tiga jam. “Jam kerjanya itu sesuai yang ditentuin pasiennya. Misalnya kayak mau menemani berobat itu tergantung dari pasiennya, pasiennya maunya di jam berapa,” jelasnya.
Jika Najwa datang dari latar belakang kesehatan, kisah berbeda dijalani oleh Winda Astariyah Fatimah, mahasiswi tingkat akhir berusia 22 tahun yang menjalankan jasa caregiver di tengah kesibukan menyelesaikan skripsi. “Untuk saat ini saya kesibukannya itu lagi skripsian karena akhir semester, terus mengambil job freelance kayak gini,” Ia baru benar-benar aktif menjalankan jasa pendamping pasien sejak Januari 2026, meski akunnya sudah dibuat sejak Oktober sebelumnya.
Keputusan Winda terjun ke dunia caregiver berawal dari pengamatannya terhadap situasi di rumah sakit tempat ibunya bekerja sebagai perawat. Ia melihat banyak pasien atau keluarga pasien yang harus mengurus administrasi dan kebutuhan lain sendirian. Dari situ, ia melihat adanya kebutuhan nyata akan pendamping yang bisa membantu proses-proses yang sering kali memakan waktu lama.

Seorang perawat sedang membersihkan di area ruang perawatan
Foto : dok pribadi Najwa Salsabila
Berbeda dengan Najwa yang memiliki latar belakang pendidikan kesehatan, Winda mengaku tidak memiliki pendidikan formal di bidang tersebut. “Tapi aku waktu kecil tuh kan sering banget ke rumah sakit, karena kan aku punya penyakit bawaan,” ungkapnya. Pengalaman pribadi sering bolak-balik ke rumah sakit dan kebiasaan membaca buku kesehatan yang diberikan ibunya menjadi bekal awal yang membentuk pemahamannya tentang dunia perawatan.
Dalam praktiknya, Winda banyak menangani kebutuhan administratif dan pendampingan praktis pasien. Ia mengambil surat, mengambil obat, hingga mengantar obat melalui layanan pengiriman jika nomor obat sudah tersedia. “Kalau jenis-jenisnya, biasanya tuh aku kayak ngambil surat. Terus ada juga yang ngambil obat, kalau misalnya nomor obat udah dikasih, paling kayak aku ngambil terus ngantar ke Gojek,” katanya. Selain itu, ia juga menemani rawat inap, membantu makan, hingga mendampingi pasien menunggu kamar di IGD. “Terus kan di IGD itu kan suka nunggu kamarnya, Kak. Nah, jadi itu nunggu seharian gitu.”
Sebagai freelancer, Winda juga harus fleksibel dengan jam kerja dan kondisi klien. Ia menyesuaikan durasi pendampingan dengan kebutuhan pasien, mulai dari beberapa jam hingga 24 jam. “Kalau misalnya pasiennya nggak sampai 7 jam… yasudah, nanti kita temeninnya 4 jam aja. Tapi rata-rata mereka mau 7 jam… Justru bahkan lebih,” pungkasnya. Selain caregiver, ia juga membuka jasa lain seperti jasa foto, jasa teman atau tour guide, serta pengurusan visa, sebagai bentuk upaya membuka lapangan pekerjaan sekaligus menyesuaikan diri dengan kebutuhan finansial sebagai mahasiswa.
Soal tarif, Winda menetapkan harga yang fleksibel dan mempertimbangkan kondisi klien. Ia menyebutkan tarif 24 jam sekitar Rp500 ribu, 7 jam Rp180 ribu, dan layanan melahirkan Rp45 ribu, dengan sistem per jam maupun per hari tergantung kebutuhan. “Kadang-kadang kan harganya minta diturunkan juga. Jadi kayak aku melihat kondisi kliennya juga,” ujarnya. Dalam kondisi ramai, pendapatannya bisa mencapai sekitar Rp3.000.000 per bulan, meski tidak selalu stabil karena dipengaruhi jumlah job dan situasi seperti cuaca yang membuat permintaan sepi. Bahkan faktor cuaca seperti hujan pun sempat membuat pekerjaannya sepi selama dua minggu di awal tahun.
Reporter: Decylia Eghline Kalangit (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim