INTERMESO

Jadi Incaran Perusahaan Berkat Fasih bahasa Mandarin

Di tengah derasnya investasi dan ekspansi perusahaan Tiongkok di Indonesia, profesi penerjemah bahasa Mandarin menawarkan peluang yang sangat menjanjikan

Foto : dok pribadi

Kamis, 12 Februari 2026

Agam Rizky Prasatio bukan keturunan Tionghoa. Ia tidak tumbuh dengan percakapan Mandarin di rumah. Namun hari ini, bahasa itu telah menjadi senjata utamanya dalam bekerja. Setiap malam, ketika sebagian besar kota mulai terlelap, pria berusia 26 tahun ini justru bersiap turun ke jalur rel. Di proyek Kereta Cepat Indonesia China, ia berdiri di antara dua tim, tenaga kerja dari Tiongkok dan pekerja Indonesia. Agam, begitu pria itu disapa, menjadi penghubung yang memastikan setiap instruksi teknis dapat dipahami dengan tepat.

Di jalur yang gelap, di antara kilometer-kilometer yang sudah ditentukan dalam jadwal patroli, percakapan berlangsung cepat. Ada laporan tentang kondisi rel, ada pembahasan alat, ada evaluasi target. Agam mendengarkan dalam bahasa Mandarin, lalu mengalihkannya ke bahasa Indonesia, atau sebaliknya. Dalam hitungan detik, ia harus memastikan tidak ada makna yang meleset.

“Saat ini bekerja di PT KCIC. PT Kereta Cepat Indonesia Cina sebagai Mandarin Translator. Ini sejak bulan Mei, berarti hampir sembilan bulan ya,” ungkapnya saat dihubungi detikX. Di divisinya, Relflow, ia lebih sering bekerja di lapangan dalam shift malam.

Perkenalannya dengan bahasa itu dimulai dari SMK. Kebetulan di sekolah kejuruan perkantoran itu, ada mata pelajaran bahasa Mandarin. Awalnya, ia bahkan tidak sepenuhnya yakin ingin menekuni bahasa tersebut. Ia bimbang menentukan jurusan kuliah. Pilihannya justru lahir dari keisengan yang berubah menjadi peluang.

“Jadi iseng-iseng deh, aku tanya sama guru Mandarin aku, ada nggak sih kira-kira beasiswa gitu untuk kami. Kebetulan saat itu Al-Azhar memang membuka beasiswa untuk calon mahasiswa yang kurang mampu. Jadi sebenarnya aku iseng-iseng untuk daftar,” kata Agam.

Dua bulan sebelum masuk kuliah, ia mendapat matrikulasi dari sang Laoshi, guru Mandarin yang ia sebut berulang kali dengan penuh hormat.

“Kita teman-teman yang akan memutuskan untuk kuliah atau lanjut di bidang Mandarin ini, dikasih selama 2 bulan matrikulasi, bekal lah untuk minimal kita bisa survive sampai semester 2. Kalau dari Laoshi aku bilang biar kesannya gak malu-maluin,” pungkasnya.

Mandarin, yang semula hanya ia pelajari sebatas “basic conversation”, berubah menjadi medan tempur akademik semenjak ia menjadi mahasiswa Sastra Tiongkok Universitas Al-Azhar. Nada yang berbeda berarti arti yang berbeda. Karakter yang ribuan jumlahnya harus dihafal. Tugas menumpuk, pelafalan menuntut presisi.

Agam Rizky Prasatio bersama tim tenaga kerja Tiongkok sedang melakukan patroli malam
Foto : dok pribadi

“Karena memang untuk awal-awal kuliah itu survive sekali, bahasa Mandarin khususnya di bidang pelafalannya beda, beda nada, beda arti. Terus karakternya banyak banget, kita juga dapet PR banyak banget dari Laoshinya. Jadi ya kita terbiasa untuk bekerja keras dari dunia perkuliahan.”

Selepas lulus kuliah, ia sempat menjadi translator di Ternate selama tiga bulan. Di sana, ia merangkap dua peran sekaligus, sebagai translator dan juru bicara karena keterbatasan tenaga kerja. Namun rasa penasaran membawanya mencoba dunia lain. Ia menjadi reporter hampir dua tahun. Sampai suatu titik, ia merasa ilmu Mandarinnya tak terpakai.

“Aku rasa tuh sayang banget ya kalau nggak dipakai ilmu yang ada di dunia perkuliahan. Karena di TV One ini kan Mandarin aku nggak kepake,” tutur Agam. Ia kembali melamar sebagai translator di KCIC dan mulai bekerja di sana hingga kini.

Pekerjaannya dimulai dari jadwal yang dikirim tiap hari, kilometer mana yang harus dipatroli, rel mana yang perlu dicek. Ia berdiskusi dengan atasan dari Tiongkok mengenai perlengkapan, pengisian daya alat, bahkan hal-hal teknis seperti tambahan oli. Setelah briefing safety, tim menuju lokasi. Di jalur rel, setiap laporan dari tim Indonesia disampaikan kepadanya, lalu ia teruskan dalam bahasa Mandarin kepada tenaga kerja asing. Jawaban dan instruksi dari mereka ia terjemahkan kembali.

“Misalnya untuk deteksi cacat rail di kilometer 51 sampai kilometer 56 gitu kan. Nah dari situ saya juga harus tahu apa saja alat yang harus dibawa, persiapannya apa saja,” ungkapnya. Perannya adalah sebagai penjembatan, dan seperti semua jembatan, ia harus kokoh di tengah arus perbedaan budaya kerja.

“Yang saya sadari selama saya kerja bersama orang Cina, mereka sangat dinamis. Jadi ada kalanya kita bekerja sangat keras, untuk mengejar target segala macam, memang kita harus benar-benar serius. Dan ada kalanya melonggarkan pekerjaan,” katanya.

Ia melihat perbedaan orientasi yang cukup kontras. Orang-orang Tiongkok yang ia temui tidak hanya ingin memenuhi target, tetapi melampauinya. Bekerja keras sekarang agar bisa lebih santai nanti. Sementara banyak pekerja lokal merasa cukup jika target tercapai. “Aku malah culture shock mereka pertama melihat orang-orang Indonesia terlihat santai untuk bekerja. Sedangkan mereka ini, mereka itu dikelilingi dengan rasa by target. Jadi kayak mereka harus mengerjakan ini dengan target yang segini malam ini. Kalau bisa, harus melebihi.”

Di tengah derasnya investasi dan ekspansi perusahaan Tiongkok di Indonesia, profesi penerjemah bahasa Mandarin menawarkan peluang yang, menurutnya, tidak kecil. Bagi Agam, menguasai bahasa Mandarin di era ini merupakan sebuah privilege.

Penerjemah bahasa Mandarin menjadi jembatan komunikasi di tengah dinamika bisnis global
Foto : dok pribadi

“Untuk mendapatkan pekerjaan pada mahasiswa atau pelajar yang belajar bahasa mandarin sangat tidak sulit. Karena selama kita bisa berkomunikasi dengan mereka, mereka sangat welcome dengan masyarakat atau warga asing yang bisa bahasa mereka,” katanya. Sebelum lulus kuliah, Agam sendiri sudah mendapatkan pekerjaan di dunia penerjemah Mandarin.

Bukan cuma peluang kerja yang tinggi, ketika seseorang menguasai bahasa Mandarin, gajinya pun amat menjanjikan. Itulah yang membuat Agam meninggalkan profesi reporter dan kembali bekerja sebagai penerjemah.

“Aku suka banget sama dunia jurnalistik. Karena itu salah satu cita-cita aku dari kecil. Cuma in this economy aku melihat dari karir pertama aku gitu fresh graduate aja itu hampir menyentuh ya kisaran aja ya hampir menyentuh angka Rp10 juta,” kata Agam. Menurutnya, kini bisa hampir menyentuh dua digit untuk fresh graduate. Sementara bagi yang berpengalaman, bisa lebih tinggi lagi. “Kalau untuk berpengalaman itu udah rata-rata 2 digit ke atas. Bahkan temanku yang 3 tahunan itu udah 2 digit.”

Baginya, kunci keberhasilannya bukan sekadar skor HSK, sertifikasi kemahiran Mandarin yang minimal level 4 untuk banyak perusahaan, tetapi kepercayaan diri dalam komunikasi dan kemauan belajar.

“Semakin kita lancar komunikasi kepada mereka dan semakin kita banyak bertanya itu membuktikan bahwa kita ingin banyak belajar dari mereka. Mereka tuh suka banget kalau dari orang-orang yang nggak bisa berbahasa mandarin ini banyak belajar dari mereka gitu,” tutur Agam. Ia meyakini prospek masa depan cerah untuk mereka yang mahir bahasa Mandarin.

“Cina adalah negara super power ke-2, otw (on the way) ke-1 mungkin ya. Jadi untuk generasi muda yang masih bingung memutuskan karir kemana, jangan ragu-ragu untuk melanjutkan pendidikan di dunia Mandarin, karena skill kalian di masa depan ini sangat dibutuhkan.”

Menjembatani Dua Bahasa di Dunia Perkapalan

Di sebuah kantor kawasan Jakarta Utara yang berhadapan dengan deretan pelabuhan dan lalu-lalang truk kontainer, Fany Suwandi duduk dengan ponsel yang tak pernah benar-benar bisa ia jauhkan dari genggaman. Jam kantor memang tertera jelas, 08.30 hingga 17.30. Namun baginya, pekerjaan tak berhenti ketika jarum jam menunjuk pukul lima sore. “Kalau kerja, kalau jam kantor selalu dari jam 8.30 sampai jam 5.30 sore, tapi setelah itu, pasti akan tetap dihubungi sama klien, atau sama atasan-atasan mengenai kerjaan. Jadi, tetap harus standby by phone, nggak boleh hilang,” kata Fany. Dalam dunia perkapalan yang ritmenya mengikuti arus kapal dan kargo, bahasa menjadi penghubung yang tak mengenal jeda.

Perempuan berusia 24 tahun ini bukan sekadar karyawan administrasi di perusahaan maritim. Sejak April 2023 hingga Februari 2026, ia bekerja sebagai translator Mandarin di perusahaan asal Tiongkok yang bergerak di bidang perkapalan. Atasan langsungnya orang Cina, begitu pula bos besarnya. Setiap hari, ia berada di antara dua dunia bahasa, klien dan pimpinan, yang harus ia sambungkan tanpa celah makna. “Kalau sebagai translator, saya harus selalu gercep dan harus paham bagaimana supaya bos saya paham arti maksud klien tersebut.”

Fany suwandi, penerjemah Bahasa Mandarin
Foto : dok pribadi

Tiga tahun sudah ia menekuni profesi ini, sejak lulus kuliah. Bahkan perusahaan yang kini membesarkannya adalah tempat ia memulai karier. Saat pertama kali melamar, perusahaan itu masih berstatus startup dengan sembilan karyawan. Ia bahkan belum resmi wisuda. Ijazahnya belum terbit karena skripsi masih dalam proses. Namun ia datang dengan satu modal kuat, pengalaman kuliah di Cina dan keberanian berbicara dalam dua bahasa sekaligus. Wawancara dilakukan langsung oleh bosnya, dalam campuran Inggris dan Mandarin.

Ketertarikannya pada Mandarin bermula dari hal yang terdengar sederhana, yaitu sebuah film. Saat SMA, ia menonton drama Cina berjudul Our Times. “Saat itu saya tertarik sekali untuk kuliah di Cina. Dan saya akhirnya kuliah di Cina,” katanya. Ia mengaku menangis menonton film itu. Dialog-dialognya terasa begitu dekat dan membekas. “Soalnya ceritanya seru banget dan kata-kata yang dalam movie tersebut menurut saya tuh sangat bagus. Kayak cocok sekali gitu. Sangat... kayak singgah dalam hati.” Dari layar kaca, mimpinya menyeberang menjadi keputusan nyata, kuliah di negeri Tirai Bambu.

Sebelum berangkat, ia sempat mengikuti kursus Mandarin di Indonesia. Namun menurutnya, pembelajaran di kelas tak cukup. “Kalau misalnya kursus Mandarin di Indonesia, tidak bisa langsung praktek ya. Banyak kan kita hanya menulis-menulis, kerjain PR, dikte gitu-gitu saja terus hafalin,” tuturnya. Pengalaman tinggal langsung di Cina mengubah segalanya. Ia dipaksa membaca hanzi tanpa pinyin, memahami papan petunjuk kereta, memesan makanan, dan bercakap dengan penjual.

Kini, di kantor, kemampuan itu diuji setiap hari. Selain menerjemahkan percakapan, Fany juga menyusun kontrak shipment dalam dua bahasa, memastikan redaksinya setara dan tak melenceng makna. Banyak komunikasi dilakukan secara tertulis, melalui WeChat dan WhatsApp karena atasannya tak selalu berada di kantor. Namun ketika bertemu langsung, ia harus sigap menyampaikan laporan lisan tentang pergerakan kapal dan rencana berikutnya.

Tantangan tentu ada. Ia mengakui kemampuan Mandarinnya belum sepenuhnya setara penutur asli. “Saya mengakui agak ada kesulitan berkomunikasi dalam Bahasa Mandarin dengan full, soalnya kemampuan Bahasa Mandarin saya belum sehebat orang-orang Cina,” pungkasnya. Dalam situasi tertentu, ia mencampur bahasa Inggris atau Indonesia agar pesan tetap tersampaikan. Adaptif menjadi kunci.

Di tengah persaingan yang kian ketat, banyak anak muda kini kuliah di Cina dan kembali dengan bekal bahasa, Fany melihat profesi ini tetap menjanjikan. Namun ia menekankan bahwa gaji tak datang begitu saja. “Bukan berarti fresh graduate, yang penting bisa bahasa Mandarin, langsung dapet dua digit, gitu ya. Bukan begitu ya,” katanya.

Pengalaman kerja dan kefasihan berbahasa menjadi pertimbangan utama. Meski begitu, ia memastikan satu hal. “Sudah pasti di atas UMR, kalau misalnya bisa berbahasa mandarin. Karena selalu perusahaan-perusahaan itu memprioritaskan yang bisa bahasa mandarin.” Baginya, prospek ke depan masih terbuka lebar. Banyak perusahaan di Indonesia bekerja sama dengan perusahaan Cina. Bahkan peluang dinas ke luar kota atau luar negeri pun terbuka, tergantung kebutuhan perusahaan.


Reporter: Decylia Eghline Kalangit (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE