Intermeso

Berpacu dengan Sampah Jakarta

Sampah adalah bom waktu yang meracuni bumi dan memicu wabah mematikan. Pilahlah sampah dan jagalah kebersihan untuk memperpanjang umur bumi kita.


Suatu hari, mantan Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin pernah berseteru dengan seorang pengemudi sedan yang kegep membuang sampah sembarangan di jalan. Ali memaki pengemudi itu dengan sebutan biadab sekalipun menaiki sedan yang mentereng.

Ali mengaku sangat membenci orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Makanya, pada era Ali Sadikin dilaksanakan kampanye besar-besaran perang terhadap sampah. Ali bahkan tidak segan memenjarakan orang-orang yang membuang sampah sembarangan. Hasilnya, banyak orang Jakarta ketika itu takut membuang sampah sembarangan.

Upaya Ali dilakukan juga oleh Gubernur-gubernur Jakarta setelahnya dengan cara yang berbeda-beda. Mantan Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, misalnya, membentuk petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) atau yang dikenal dengan pasukan oranye. Lalu Anies Baswedan yang menerbitkan Pergub 142/2019 tentang pelarangan kantong belanja plastik sekali pakai di pasar swalayan dan pasar rakyat. Heru Budi dengan pembangunan RDF Plant Rorotan, yang kini banyak diprotes. Lalu Pramono Anung dengan rencana pembangunan empat PLTSa, yang bakal mengubah sampah menjadi energi listrik.

Peran Gubernur Jakarta dalam Mengatasi Sampah di Satu Dekade Terakhir

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)

  • Perekrutan PPSU
    Membentuk Petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (Pasukan Oranye) yang sangat efektif menjaga kebersihan saluran air dan jalanan untuk mencegah banjir akibat sumbatan sampah.
  • Swakelola Sampah
    Memutuskan kontrak dengan pihak swasta pengelola TPST Bantargebang pada 2016 dan mengambil alih pengelolaannya di bawah Pemprov DKI.
  • Inisiasi ITF
    Mulai merencanakan pembangunan Intermediate Treatment Facility (ITF) Sunter sebagai solusi pengolahan sampah modern di dalam kota tetapi terhalang sengketa lahan.

Anies Baswedan

  • Pengelolaan Sampah Lingkup Rukun Warga
    Menerbitkan Pergub 77/2020 yang mewajibkan pengelolaan sampah lingkup RW melalui bidang pengelolaan sampah RW, yang mendorong warga memilah sampah dari rumah
  • Larangan Plastik Sekali Pakai
    Menerbitkan Pergub 142/2019 yang melarang penggunaan kantong belanja plastik sekali pakai di pasar swalayan dan pasar rakyat.
  • Pembangunan RDF Plant
    Memulai proyek Refuse Derived Fuel (RDF) di Bantargebang, yang mengubah sampah lama dan baru menjadi bahan bakar setara batu bara untuk pabrik semen

Heru Budi Hartono (PJ Gubernur)

  • Operasionalisasi RDF Plant
    Meresmikan dan mengoptimalkan fasilitas RDF Plant di Bantargebang sebagai fasilitas pengolahan sampah terbesar di Indonesia saat itu.
  • Pembatalan ITF Sunter
    Mengambil keputusan kontroversial untuk membatalkan proyek ITF Sunter karena biaya investasi dan tipping fee yang dianggap terlalu membebani APBD, lalu mengalihkan fokus ke sistem RDF yang lebih efisien secara biaya.
  • RDF Plant Rorotan
    Memulai pembangunan fasilitas pengolahan sampah baru di Rorotan (Jakarta Utara) untuk menambah kapasitas pengolahan sampah kota

Pramono Anung

  • Operasionalisasi RDF Plant Rorotan
    Pramono Anung berfokus pada penyelesaian dan optimalisasi fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar (RDF) di Rorotan
  • Inisiasi Pembangunan 4 PLTSa (Sampah Jadi Listrik)
    Proyek ini ditargetkan mulai konstruksi pada 2026, menggandeng Danantara, dan berlokasi di beberapa titik termasuk Sunter, dengan fokus pada konversi sampah menjadi listrik (waste-to-energy).
  • Penegakan Aturan Buang Sampah Sembarangan

Titik Pembuangan Sampah DKI Jakarta



Lokasi TPA Sekitar Jakarta

TPA Burangkeng

Kabupaten Bekasi

Bantargebang

DKI Jakarta

TPA Galuga

Kota Bogor

TPA Cipeucang

Kota Tangerang Selatan

TPA Rawa Kucing

Kota Tangerang

TPA Cipayung

Kota Depok

Durasi Sampah Terurai Secara Alami

Sampah Organik

±2 minggu – 6 bulan

Sampah organik mudah terurai karena berasal dari bahan alami yang bisa dipecah oleh mikroorganisme (bakteri dan jamur). Proses pembusukan berlangsung cepat jika ada oksigen, air, dan suhu yang mendukung. Namun di TPA tertutup, penguraiannya bisa melambat dan menghasilkan gas metana.

Kertas dan Kardus

±2 minggu – 5 bulan

Terbuat dari serat kayu (selulosa) yang masih bisa diurai mikroba. Namun, kertas berlapis tinta, plastik, atau bahan kimia akan lebih lama terurai dibanding kertas polos.

Kain Sintetis

±30–40 tahun atau lebih

Kain sintetis berasal dari plastik. Saat terurai, ia melepaskan serat mikro (microfiber) yang mencemari air dan sulit disaring. Inilah sebabnya industri fesyen cepat (fast fashion) disebut berkontribusi pada krisis lingkungan.

Ratusan Tahun Lebih

Kaleng Aluminium

±80–200 tahun

Logam tidak membusuk seperti bahan organik. Meski aluminium bisa teroksidasi, prosesnya sangat lambat. Namun, kaleng aluminium sebenarnya sangat potensial didaur ulang dan bisa mengurangi dampak lingkungan jika dikelola dengan baik.

Baterai

±100 tahun

Selain lama terurai, baterai mengandung logam berat dan zat kimia beracun. Jika bocor, zat ini bisa mencemari tanah dan air tanah. Karena itu baterai termasuk limbah B3 dan tidak boleh dibuang bersama sampah rumah tangga biasa.

Popok Sekali Pakai

±250–500 tahun

Popok terdiri dari campuran plastik, bahan sintetis superabsorben, dan lapisan anti air. Struktur berlapis ini membuat mikroorganisme sulit menembus dan menguraikannya. Selain lama terurai, popok juga menyimpan bakteri dan limbah biologis yang berisiko mencemari tanah dan air.

Ribuan Tahun hingga Tak Terhingga

Sampah Plastik

±200–1.000 tahun

Plastik dibuat dari polimer berbasis minyak bumi yang tidak dikenali oleh sistem alami pengurai. Plastik tidak benar-benar terurai, melainkan hancur menjadi mikroplastik yang tetap bertahan di lingkungan dan masuk ke rantai makanan.

Kaca

Ratusan ribu hingga jutaan tahun

Kaca berasal dari pasir silika yang dilelehkan. Secara alami, kaca nyaris tidak terurai karena strukturnya sangat stabil. Meski inert (tidak beracun), pecahan kaca tetap berbahaya dan menumpuk sangat lama di lingkungan.

Styrofoam

Hampir tidak terurai

Styrofoam sangat ringan dan rapuh, tetapi tidak dapat diuraikan mikroorganisme. Ia hanya pecah menjadi partikel kecil yang mencemari tanah dan laut. Karena volumenya besar dan nilai daur ulangnya rendah, styrofoam jadi masalah serius di TPA.

Penulis
Ani Mardatila, Fajar Yusuf Rasdianto, Ahmad Thovan Sugandi, Melisa Mailoa, Decylia Eghline Kalangit (magang), David Kristian Irawan (magang), Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Editor
Dieqy Hasbi Widhana
Code & Designer
Dedi Arief Wibisono
***Komentar***
SHARE