Foto : Khatibul Azizy Alfairuz
Minggu, 4 Januari 2026Kebun Binatang Ragunan di Pasar Minggu, Jakarta Selatan, malam itu terasa berbeda. Saat matahari tenggelam, kawasan yang selama ini identik dengan wisata siang hari membuka wajah lain lewat program wisata malam bertajuk Night at Ragunan Zoo yang digelar Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
Saya turut mencoba salah satu pengalaman yang ditawarkan, yaitu berkeliling menggunakan buggy car bersama pemandu dan penjaga satwa. Kendaraan listrik berkapasitas lima orang itu menjadi satu-satunya moda yang diizinkan masuk ke area dalam Ragunan pada malam hari. Mobil pribadi hanya boleh sampai area parkir, selebihnya pengunjung harus berjalan kaki atau menyewa buggy car dengan tarif Rp250 ribu per jam.
Buggy car melaju perlahan menyusuri jalanan yang diterangi lampu-lampu temaram. Pemandu mulai membuka percakapan, menjelaskan rute yang akan dilewati. Tidak semua kandang dibuka. “Hanya satwa noktural. Ada mamalia kecil, harimau, terrarium reptilia, dan kudanil,” kata Wahyudi, Kepala Humas TMR.
Pemberhentian pertama adalah kawasan terarium reptil. Di sini suasana lebih hening. Pemandu meminta pengunjung untuk tidak berisik karena sebagian satwa merupakan hewan diurnal yang justru beristirahat di malam hari. Di balik kaca, labi-labi berukuran besar tampak diam. Petugas menjelaskan perbedaan labi-labi dengan kura-kura dan iguana, mulai dari jenis hingga makanannya. Sayuran seperti sawi dan toge serta buah-buahan seperti pisang dan pepaya diberikan dua kali sehari dengan porsi yang sudah diatur.
Di kandang lain, ular cincin emas menjadi perhatian. Ada yang memangsa sesama ular, ada pula yang memakan ikan. Usianya sekitar tiga tahun dan berasal dari penangkaran. “Yang ditangkap dari hutan alam enggak boleh,” jelas salah seorang petugas.
Buggy car kemudian bergerak menuju kandang kuda nil. Di sinilah interaksi paling dinanti terjadi. Yudi, petugas satwa, sudah menunggu. Ia memperkenalkan Anom, nama panjangnya Anomali, kuda nil jantan berusia 14 tahun yang didatangkan dari Surabaya. Anom masih tergolong kecil untuk ukuran kuda nil. Pengunjung dipersilakan memberi makan dengan cara menempelkan pakan di bibir atas. “Dia yang gerakin rahang bawah, jadi enggak bakal kejepit,” kata Yudi.

Pintu masuk Kebun Binatang Ragunan pada malam hari, titik awal pengalaman Night at Zoo bagi para pengunjung.
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz
Dion (46), karyawan swasta yang datang bersama istri dan kedua anaknya, terlihat antusias. Anak-anaknya maju bergantian memberi makan. “Seru,” kata salah satu anak Dion. Ketika ditanya apakah takut, ia menggeleng. “Enggak kehitung berapa kali,” ujarnya tentang jumlah pakan yang diberikan. Menurut Yudi, malam itu Anom sedang anteng dan lapar.
Perjalanan berlanjut ke kandang mamalia kecil. Ada walabi, spesies kanguru terkecil di dunia, jantan, dengan betina yang memiliki kantong di perut. Ada pula kucing mangrove yang semiakuatik, memiliki selaput di jari-jari kakinya, namun tidak boleh dipelihara karena dilindungi. Musang martin tampak lincah di dahan, trenggiling bersembunyi di antara gelondongan kayu tempat rayap hidup, dan musang pandan dikenal dari aroma khas feromonnya.
Buggy car berhenti di area harimau Sumatera. Rafa, harimau jantan berusia 11 tahun, baru saja selesai makan. Daging ayam dan sapi seberat lima hingga enam kilogram digantung agar ia melompat mengambilnya. Petugas menjelaskan bahwa harimau Sumatera memiliki loreng unik seperti sidik jari manusia dan merupakan perenang yang andal. Di Ragunan, total ada 18 ekor harimau Sumatera, dengan usia tertua mencapai 20 tahun.
Dion menyebut pengalaman malam itu berbeda dari kunjungan siang hari yang biasa ia lakukan. “Yang membedakannya itu ada interaksi dengan pengelola Ragunannya. Kalau ini ada pemandunya, jadi kita tau binatang apa, dari mana, makanannya apa,” katanya. Ia mengetahui program ini dari televisi sejak lama, namun baru datang sekarang. “Kesimpulannya sih kita puas ya. Senang, seru. Pelayanannya juga sangat bagus.”
Berbeda dengan Dion, Dewi Apriliana (30), karyawan swasta yang datang sendiri tanpa buggy car, merasakan pengalaman yang lebih sunyi. Informasi ia dapat dari media sosial. Ini kunjungan pertamanya ke Ragunan sejak tinggal di Jakarta pada 2017. “Kalau datang sendiri rasanya agak kurang,” ujarnya. Banyak area ditutup dan rute harus diikuti. Namun Dewi justru menikmati sisi tenangnya. “Kadang ya cuma berdiam diri, melamun di taman, ngelihat gedung-gedung tinggi Jakarta.”
Night at Ragunan Zoo merupakan uji coba wisata malam yang digelar sejak Sabtu, 11 Oktober 2025. Pada hari pertama, tercatat 2.299 pengunjung datang. Uji coba kedua pada Sabtu berikutnya mencatat peningkatan signifikan, dengan 4.713 pengunjung hingga pukul 21.00 WIB. Program ini dibuka reguler setiap Sabtu pukul 18.00–22.00 WIB dan tetap berlangsung saat libur Tahun Baru 2026.
Harga tiket masuk tetap sama seperti Ragunan regular, Rp3 ribu untuk anak usia 2–15 tahun dan Rp4 ribu untuk dewasa. Tarif parkir kendaraan juga diberlakukan, sementara mobil pribadi tidak diizinkan masuk ke area dalam saat wisata malam.
Kepala Dinas Pertamanan dan Hutan Kota DKI Jakarta, M. Fajar Sauri, menyebut pembukaan Ragunan di malam hari sebagai bagian dari upaya memperluas akses edukasi satwa dan menghadirkan ruang publik yang lebih inklusif. “Masyarakat kini dapat menikmati suasana hutan kota di malam hari sambil belajar mengenal perilaku hewan, khususnya satwa nokturnal,” ujarnya. Menurut Fajar, Ragunan diharapkan tak hanya menjadi destinasi wisata siang hari, tetapi juga ruang rekreasi malam yang edukatif, aman, dan nyaman.
Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz (magang)
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim