INTERMESO

Perjalanan Kedua Pakaian Bekas di MRT

Dropbox pakaian bekas di stasiun MRT Jakarta mengajak penumpang menyumbangkan baju lama agar tidak dibuang, melainkan diolah kembali

Foto : Khatibul Azizy Alfairuz

Minggu, 21 Desember 2025

Di sudut Stasiun MRT Blok M, sebuah kotak besar berdiri di antara arus penumpang yang sedang hilir mudik. Dari kejauhan, bentuknya mungkin nampak seperti tempat sampah. Beberapa penumpang terlihat hendak membuang wadah kopi di sana. Namun niat itu urung dilakukan ketika menyadari, kotak berwarna putih dengan corak warna-warni tersebut bukanlah tempat pembuangan sampah.

‘Yuk Donasi Pakaian Bekas!’ begitu mendekat, sebuah ajakan singkat tercetak jelas di permukaan kotak. Di dalamnya terdapat seragam kerja yang sudah usang, maupun celana yang sudah tidak lagi muat. Kotak drop box ini merupakan bagian dari program ‘Menjahit Perjalanan’, inisiatif MRT Jakarta dengan menggandeng Yayasan Teman Hebat Berkarya. Dari kotak ini, limbah tekstil yang biasanya berakhir di tempat pembuangan, dikumpulkan untuk diolah kembali.

Banyak orang kerap menganggap sampah tekstil tidak memberi dampak berarti bagi lingkungan. Padahal, berdasarkan data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN), limbah tekstil atau kain merupakan salah satu fraksi sampah yang secara konsisten muncul dalam komposisi sampah nasional. Meski persentasenya tercatat sekitar 2–3 persen dari total timbulan sampah, jumlah tersebut setara dengan jutaan ton limbah pakaian setiap tahunnya.

Sosok di balik kolaborasi ini adalah Aisyah Winna Putri, pendiri Yayasan Teman Hebat Berkarya. Perempuan berusia 27 tahun ini memulai langkahnya pada 2020, ketika pandemi COVID-19 mengungkap semakin mendesaknya persoalan lingkungan. Awalnya, Teman Hebat Berkarya belum berbentuk yayasan, melainkan sebuah komunitas bernama Bersih-Bersih Lemari yang fokus mengumpulkan dan mengelola pakaian bekas agar tidak berakhir sebagai sampah.

Penumpang MRT Jakarta melintas di dekat drop box pakaian bekas yang disediakan di area stasiun
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz

Ketertarikan Aisyah pada isu sampah tekstil berangkat dari pengalaman personalnya. Ia menyadari kebiasaan konsumtif dirinya terhadap pakaian dan kemudian bertanya ke mana baju-baju tersebut akan berakhir setelah tak lagi digunakan.

“Awalnya memang pandemi itu, saya sadar kan bahwa lingkungan sudah nggak baik-baik saja. Saya mulai mengumpulkan sampah dan belajar gimana caranya mengolah sampah. Terus saya tertarik pada sampah fashion. Karena memang saya sebetulnya orang yang konsumtif juga ya, dari situ akhirnya saya sadar bahwa baju-baju ini kalau ditumpuk sebenarnya ini bisa jadi karya,” tutur Aisyah.

Latar belakang Aisyah sebagai lulusan pendidikan luar biasa, serta pengalamannya mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus, mempertemukannya dengan dunia disabilitas. Dua hal yang kerap dipandang sebelah mata, pakaian bekas dan disabilitas, ia satukan dalam satu gagasan. Dalam misi mengurangi limbah tekstil ini, Aisyah memulainya dengan hanya melibatkan sedikit anggota.

“Di awal berdiri, timnya cuma bertiga. Untuk teman-teman disabilitas juga sekitar lima orang. Karena kebanyakan tetangga sekitar, rumahnya dekat dari sini,” kata Aisyah. Kini, jumlahnya jauh lebih banyak, dengan pembagian peran yang jelas. Setiap individu menjalani assessment sebelum terlibat dalam produksi. “Kita ingin tunjukin ke masyarakat bahwa disabilitasnya bisa berkarya, dan pakaian bekas itu bisa jadi suatu karya.”

Yayasan ini membagi fokus pada dua hal, pendidikan dan pemberdayaan. Mereka yang masih belajar mengikuti pelatihan terjadwal layaknya kelas, sementara yang sudah siap terlibat dalam proyek produksi upcycle tetap didampingi mentor dan quality control. Dalam satu bulan, Yayasan Teman Hebat Berkarya menerima sekitar 2 hingga 4 ton pakaian. Seluruh pakaian tersebut kemudian diproses melalui tiga alur utama, yaitu upcycling, penyaluran kembali ke masyarakat yang membutuhkan, seperti korban bencana atau panti asuhan, serta penjualan melalui pasar tradisional. Melalui upcycling, pakaian-pakaian bekas diubah menjadi berbagai produk menarik seperti lanyard, case laptop, pouch, tas, topi, dan berbagai kreasi lain yang unik.

Tahap perbaikan pakaian bekas dilakukan di workshop Yayasan Teman Hebat Berkarya melalui proses menjahit
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz

Kolaborasi dengan MRT Jakarta membuka babak baru. Menurut Rendy Primantantyo, Kepala Divisi Corporate Secretary PT MRT Jakarta, persoalan limbah tekstil menjadi perhatian serius perusahaan. “Salah satu concern MRT Jakarta adalah persoalan sampah tekstil, salah satunya berasal dari seragam insan MRT Jakarta,” kata Rendy. Setiap periode, sekitar seribu seragam MRT harus diganti. Tanpa pengelolaan, jumlah itu berpotensi menjadi limbah.

“Dalam perjalanannya, kami mencoba mengeksplorasi solusi dan bertemu dengan komunitas yang memiliki perhatian serupa, khususnya dalam pemanfaatan limbah tekstil. Dari situ kami bertemu dengan Yayasan Teman Hebat Berkarya,” ujarnya.

Melalui program Menjahit Perjalanan, seragam-seragam bekas MRT diolah menjadi tas, tempat laptop, lanyard, hingga tempat tumbler. Pada fase awal, sekitar 400 seragam berhasil dikumpulkan melalui dropbox yang ditempatkan di kantor MRT Jakarta.

Program ini kemudian diperluas. Dropbox mulai ditempatkan di stasiun-stasiun strategis seperti Lebak Bulus, Blok M, Bundaran HI, dan Bendungan Hilir, agar masyarakat umum bisa ikut berpartisipasi.

“Dengan demikian, masyarakat, khususnya penumpang MRT Jakarta, memiliki kesempatan yang sama untuk menyumbangkan pakaian bekas mereka,” kata Rendy.

Pakaian bekas yang telah dikumpulkan, kemudian akan dimanfaatkan ulang
Foto : Khatibul Azizy Alfairuz

Dalam pelaksanaannya, program ini melibatkan lebih dari satu kelompok. Selain teman-teman disabilitas, ada ibu-ibu di sekitar jalur MRT, hingga mahasiswa.

“Ada sekitar 15 ibu-ibu yang terlibat, serta sekitar lima orang dari kelompok disabilitas,” pungkas Rendy. Mereka terlibat dalam berbagai tahapan, dari memotong, mencuci, menjahit, hingga menyulam.

Bagi Aisyah, kolaborasi lintas kelompok ini bukan tanpa tantangan. Ritme kerja setiap orang berbeda. “Tantangan utamanya adalah penyesuaian dengan teman-teman disabilitas, terutama soal waktu pengerjaan. Kita harus mengikuti flow atau mood mereka,” katanya.

Quality control juga menjadi pekerjaan serius, terutama soal kebersihan. “Kalau tidak dicuci dan dirawat dengan baik, pasti akan terlihat tidak layak,” ujarnya.

Namun dampaknya terasa nyata. Bukan hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan orang-orang yang terlibat. “Yang dulu jarang keluar rumah, sekarang senang keluar, lebih percaya diri. Bahkan bisa beli skincare atau jajan dari uang sendiri itu dampaknya besar buat mereka,” kata Aisyah.


Reporter: Khatibul Azizy Alfairuz

Penulis: Khatibul Azizy Alfairuz, Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho
Desainer: Fuad Hasim

***Komentar***
[Widget:Baca Juga]
SHARE