Foto: Ilustrasi traveler (Thinkstock)
Minggu, 10 Desember 2023Nasib mujur dialami Haryadi Yansyah dan adiknya saat jalan-jalan mengelilingi Benua Eropa. Tak hanya mendapatkan tiket pesawat pulang pergi dari Jakarta ke London dan sebaliknya secara cuma-cuma, mereka bahkan hampir tidak mengeluarkan uang sepeserpun untuk penginapan. Padahal akomodasi perjalanan di Eropa cukup membuat jiper para traveler karena sangat menguras kantong.
“Di Eropa kami 1 bulan nggak pulang-pulang. Di sana bisa dibilang 95% penginapan gratis,” kata Haryadi kepada detikX sambil menceritakan pengalamannya melancong di tahun 2018. Dari 12 negara yang mereka sambangi di Benua Biru, hanya 2 negara yang dilewati dengan menginap di hotel. Beberapa negara yang Haryadi kunjungi seperti Belanda, Jerman, Belgia, Prancis, Hungaria, Slovakia dan masih banyak lagi.
Meskipun gratis, jangan bayangkan kamar yang diinapi Haryadi seperti penginapan reyot serba minim fasilitas. Di London, misalnya, laki-laki asal Palembang ini mendapat tumpangan di sebuah flat yang berlokasi di Imperial Wharf. Pemilik flat dua kamar tidur itu bernama James, seorang laki-laki tajir asal Hongkong yang tengah kuliah di Inggris.
Tak terbayang di benak Haryadi jika suatu hari ia bisa bermalam di salah-satu daerah elit di Kota London. Kalau disuruh bayar, rasanya Haryadi tak akan sanggup. “Budget saya, kan, masih minim. Tiket pun saya dapat berkat rajin ikutan kompetisi menulis,” kata Haryadi, yang juga rajin menulis di blog omnduut.com ini. Eropa adalah destinasi impiannya sejak lama. Entah sudah berapa banyak perlombaan yang ia ikuti demi mendapatkan tiket emas.
Pengalaman Haryadi menginap gratis bukan hanya sekali dua kali. Laki-laki yang hobi jalan-jalan ini juga sempat mencicipi tumpangan tanpa biaya saat melakukan perjalanan ke India. Ia memanfaatkan situs jejaring sosial bernama CouchSurfing. Wadah dalam bentuk website maupun aplikasi ini mempertemukan seluruh orang di dunia yang punya hobi jalan-jalan.
Didirikan pada tahun 2004, CouchSurfing memperkenalkan konsep hospitality exchange. Para anggota dapat saling memberikan tumpangan tempat tinggal kepada sesama anggota dari kota atau negara lain. Saat ini anggota CouchSurfing sudah mencapai angka 14 juta pengguna dan sudah ada 200 ribu kota dan negara yang terdaftar dalam situs ini. Haryadi dan para pelancong lain menggunakan CouchSurfing sebagai sarana untuk menumpang di rumah warga lokal.

Haryadi Yansyah (kanan) saat berada di rumah sahabatnya di luar negeri
Foto: Dok Pribadi
Tidak hanya menekan pengeluaran akomodasi saat traveling, pengguna Couchsurfing dapat saling memperkenalkan budaya negara masing-masing. Laki-laki berusia 35 tahun ini mengetahui CouchSurfing dari buku karya Marina Silvia K berjudul ‘Back “Europe” Pack : Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar’.
Siapa sangka Haryadi dan adiknya bakal masak di dapur laki-laki asal Luksemburg Bernama Ray. Seakan tahu isi hati Haryadi dan saudaranya yang tengah kelaparan, sewaktu tiba di apartemen, Ray langsung menyambut mereka dengan hangat. “Kalian pasti lapar, bukan? Saya memasak sesuatu untuk kalian,” tutur Ray. Betapa senangnya Haryadi dan adiknya saat mendengar kalimat itu. Seharian berkeliling di kota kecil itu, mereka hanya mengisi perut dengan roti.
Setelah meletakkan barang, ia langsung bergabung dengan Ray di dapur. Sementara Ray mengaduk nampan berisi kentang dan wortel, Haryadi bertugas memasak nasi dengan panci. Nasi itu kemudian ia masak menjadi nasi goreng. Selama melancong ke luar negeri, laki-laki yang dulu sempat bekerja kantoran dan kini membuka usaha toko kelontong di Palembang ini selalu membawa bumbu instan masakan Indonesia.
“Nah, tips lain buat kamu yang mau nyobain CS(CouchSurfing). Bawalah beberapa bumbu instan masakah khas Indonesia. Paling gampang, ya, bumbu nasi goreng,” katanya. Haryadi memberikan satu bungkus bumbu nasi goreng kepada Ray. “Siapa tahu nanti kamu mau masak nasi goreng lagi.”
Haryadi beruntung bertemu pemilik tumpangan seperti Ray. Laki-laki ramah yang menyambut tamu dengan ramah. Lain cerita saat Haryadi bertolak ke Kota Amsterdam di Belanda. Jangankan mendapatkan kamar sendiri, Haryadi harus tidur di lantai area dapur tanpa alas apa pun kecuali pakaian yang melekat. Sebelum Haryadi tiba di sebuah apartemen di sana, rupanya seorang pria asal Argentina sudah lebih dulu menginap. Sementara pemilik penginapan di Belanda saat itu merupakan warga Eropa keturunan Arab.
“Padahal harusnya dia (pemilik apartemen) hanya menerima maksimal 2 tamu dalam satu waktu. Dia cuma punya satu kamar dan satu sofa. Karena orang Argentina itu duluan di sofa, saya dan adik saya kebagian tidur di samping meja makan sama dikasih satu sleeping bag,” cerita Haryadi.
Saat menginap di apartemen milik orang Arab itu, Haryadi dan adiknya terpaksa tidur sambil menghirup asap pembakaran ganja. Sebelum mereka berdua tidur, orang Arab itu sempat menawarkan lintingan ganja kepada Haryadi, namun ia menolaknya halus.“Secara, ya, jarak kami hanya 2 sampai 3 meter saja, hanya terpisah meja makan, mau nggak mau asapnya kecium juga. Untung saja ada jendela dan saya buka agar anginnya dapat masuk,” kata lulusan Teknik Informatika di sebuah universitas swasta di Palembang, Sumatera Selatan, ini.

Keluarga Haryadi Yansyah (kiri) bersama sahabatnya dari luar negeri yang sedang meginap di rumahnya
Foto: Dok Pribadi
Selain berperan sebagai guest di sebuah negara, Haryadi juga memberi kesempatan untuk dirinya menjadi host alias tuan rumah. Selama menjadi host itulah rumah orangtua yang ditinggali Haryadi kerap menerima tamu lokal maupun mancanegara. Tempat tinggalnya pernah didatangi para turis dari berbagai negara seperti Jerman, Rusia, Belarus, Vietnam, Belanda maupun Australia.
“Alhamdulillah orang tua support karena rumah kami sering jadi basecamp kalau ada keluarga ke Palembang. Emang orang tua senang kalau rumahnya didatangin orang,” ungkapnya. Haryadi menjamu para tamunya dengan makanan khas Palembang seperti ikan pindang maupun pempek.
Salah satu pengalaman paling berkesan saat menjadi host adalah ketika Haryadi menjamu Ekatrina dan Dmitry, sepasang suami istri asal Rusia. Mereka adalah pelatih acroyoga yang datang ke Palembang atas undangan sebuah club olahraga. Di rumah Haryadi, mereka menginap selama sepuluh hari.
Suatu hari, saat menginap, mereka terang-terangan bilang ingin meminjam dapur dan ingin memasak sesuatu untuk kami. Awalnya mereka meminjam dapur hanya untuk memasak nasi goreng. Lalu mereka memasak dumpling dengan isian daging ayam dan sayuran. Eka juga pernah membuat kue dengan toping buah-buahan.
“Saya nggak tahu nama masakannya apa tapi ternyata rasanya enak banget. Saya suka kue bikinan si Eka,” ujar Haryadi.
Selama para tamu ini menginap di rumahnya, kesempatan itu ia manfaatkan sebagai ajang pertukaran budaya. “Makanya saya nge-push adik-adik dan keponakan saya buat beraniin nyapa dan ngobrol sama mereka. Supaya wawasan budaya mereka jadi lebih luas,” ungkapnya.
Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Irwan Nugroho