Bermanuver di “Jalan Tikus” Perkotaan
Bermanuver di “Jalan Tikus” Perkotaan
Fenomena penggunaan “jalan tikus” kian marak di sejumlah kota besar di Indonesia. Jalur alternatif berupa gang sempit hingga akses lingkungan permukiman ini menjadi pilihan pengendara untuk menghindari kemacetan di ruas jalan utama, terutama pada jam sibuk.
Pertumbuhan jumlah kendaraan yang tidak sebanding dengan kapasitas jalan disebut menjadi salah satu pemicu utama. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), total kendaraan di Indonesia pada tahun 2025 diperkirakan mencapai sekitar 172,9 juta unit, naik dari 166,5 juta unit pada tahun sebelumnya. Sepeda Motor mendominasi dengan jumlah lebih dari 139 juta unit pada tahun 2024. Sejak 2018 (106 juta unit), terjadi penambahan sekitar 26-30 juta unit sepeda motor dalam kurun waktu 6-7 tahun.
Di Tangerang Selatan, tepatnya Kecamatan Setu, terdapat jalur sempit yang dijuluki “pintu Doraemon”. Akses ini bahkan dilengkapi sistem lampu lalu lintas sederhana untuk mengatur arus kendaraan dari dan menuju kawasan Serpong. Meski hanya cukup dilalui satu sepeda motor, jalur ini tetap ramai dimanfaatkan pengendara.
Situasi serupa juga terjadi di Jakarta. Sejumlah pengendara nekat melintasi area TPU Tanah Kusir guna menghindari kemacetan di kawasan Cipulir dan Ulujami. Sementara itu, di Pasar Minggu, sepeda motor memadati jalan sempit di perbatasan Jakarta Selatan dan Jakarta Timur saat jam sibuk.
Kondisi padat juga terlihat di sekitar Sungai Ciliwung. Di beberapa titik, seperti jembatan gantung yang menghubungkan permukiman warga, pengendara harus berbagi ruang dengan pejalan kaki. Praktik ini menciptakan dinamika lalu lintas yang unik, namun juga berisiko tinggi terhadap keselamatan.
Tidak jauh dari Stasiun Pasar Minggu, tepatnya di Jalan Swadaya Dalam, Pejaten Timur, terdapat tanjakan sempit yang menjadi jalur penghubung menuju Jalan Poltangan Raya. Di lokasi ini, warga setempat seperti Heri, Arifin, dan Novan secara sukarela mengatur arus kendaraan siang dan malam untuk mencegah kemacetan dan potensi kecelakaan.
Namun, penggunaan jalan tikus tidak lepas dari berbagai persoalan. Selain berpotensi menimbulkan konflik antara pengendara dan warga, kondisi jalan yang sempit dan tidak dirancang untuk lalu lintas padat meningkatkan risiko kecelakaan.
Pada akhirnya, jalan tikus hanyalah solusi sementara. Tanpa kesadaran pengendara untuk berbagi ruang dan tanpa perbaikan sistem transportasi yang lebih luas, jalur alternatif ini justru berpotensi menjadi sumber masalah baru di tengah kehidupan perkotaan.
Pengendara sepeda motor melintasi jalan alternatif di Jalan Swadaya Dalam, Pejaten Timur, Pasar Minggu. Jalur seperti gang, jalan kecil, hingga tembusan kerap dipilih untuk menghindari kemacetan di jalan protokol perkotaan.
Jalan alternatif yang populer disebut 'jalan tikus' ini identik dengan ruas sempit di permukiman warga, bahkan pada beberapa segmen hanya cukup dilalui satu sepeda motor. Demi keamanan, kaca cembung dipasang di tikungan menuju Tanjakan Lengkong Kampung Jawa, Pejaten Timur, Pasar Minggu, Jakarta.
Di Tangerang Selatan, Banten, terdapat 'jalan tikus' yang dikenal sebagai Pintu Doraemon. Jalur ini menghubungkan perkampungan di Kecamatan Setu dengan Pergudangan Taman Tekno, dilengkapi sistem lampu merah untuk menjaga ketertiban lalu lintas.
Lalu lintas di jalan alternatif perkotaan kerap padat, terutama saat jam berangkat dan pulang kerja. Di sekitar Stasiun Pasar Minggu, pengendara motor dan warga harus berbagi ruang di jalur yang terbatas.
Pengemudi ojek daring tampak memadati Jalan Masjid Jami’ Al-Makmur, Pasar Minggu. Lokasi 'jalan tikus' ini berada dekat dengan Stasiun Pasar Minggu sehingga ramai dilintasi.
Bermanuver di 'jalan tikus' bukan tanpa risiko. Pengendara dituntut ekstra hati-hati saat melintasi gang sempit atau 'gang senggol', seperti di Gang Haji Taip, Jakarta.
Banyak warga perkampungan di Jakarta merasa tidak nyaman karena lingkungannya berubah semakin bising dan padat akibat arus kendaraan yang melintas. Kenyamanan yang dulu mereka rasakan perlahan harus dikorbankan demi kepentingan bersama.
Refleksi pengendara sepeda motor terlihat di depan rumah makan di kawasan permukiman Kramat Jati, Jakarta Timur. Penggunaan jalan tikus tidak selalu bebas hambatan; keterbatasan jalan dan tingginya volume kendaraan kerap memicu konflik serta meningkatkan risiko keselamatan, terutama bagi warga sekitar.
Selain melintasi permukiman, pengendara juga kerap mengambil jalan alternatif melalui area pemakaman, seperti di kawasan Tanah Kusir yang menghubungkan Ulujami dan Bintaro.
Pada jam sibuk, berbagi ruang menjadi hal yang tak terhindarkan. Pengendara dan pejalan kaki harus bergantian melintas di jembatan gantung Sungai Ciliwung, menciptakan dinamika lalu lintas yang unik sekaligus rawan. Jembatan ini juga menjadi batas antara Jakarta Selatan dan Jakarta Timur.



