METROPOP

Ia Dijuluki
Tukang Tipu Makanan

Kaki pernah tersiram air panas. Pernah diusir pak RT saat syuting makanan tinggal satu adegan.

Puji Purnama tengah menata makanan sebelum memfotonya.

Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Jumat, 12 Agustus 2016

Profesi food stylist belum digeluti banyak orang di negeri ini. Padahal, secara pendapatan, profesi ini sungguh menjanjikan.

Dari sedikit food stylist Tanah Air yang ada, Puji Purnama termasuk salah satunya yang terkenal dan menjadi panutan. Ia dijuluki sebagai tukang tipu makanan karena saking piawainya menyulap makanan jadi begitu terlihat menggoda.

Puji memulai karier sebagai food stylist pada 1997. Saat itu, perekonomian Indonesia sedang krisis, sehingga memaksa sejumlah perusahaan lebih berhemat, di antaranya dengan tidak lagi memakai food stylist dari luar negeri.

Puji sedang "merias" mi goreng sebelum difoto.
Foto: dok. pribadi

Puji, yang saat itu masih bekerja di majalah Primarasa, melihat peluang bagus baginya untuk lebih berfokus menjadi food stylist. “Tahun 1997 saya resign. Jadi bisa dibilang saya masuk (menjadi food stylist) di momen yang pas,” kata Puji kepada detikX.

Sebagai food stylist, Puji menangani produk merek besar, seperti Indofood, Unilever, dan Wings. Ia juga mengerjakan food stylist untuk video yang dibuat sutradara asing, mulai Thailand, India, hingga Dubai.

Puji menjelaskan, food stylist berbeda dengan chef, yang membuat makanan terasa enak dimakan. Food stylist bukan soal rasa, melainkan penampilan. Dibandingkan chef, kerja food stylist lebih mirip dengan makeup artist. Bedanya, makeup artist menata muka artis, sedangkan food stylist menata makanan.

“Bagaimana mengakali supaya makanan bisa terlihat segar dan menggiurkan. Bagaimana membuat makanan supaya bisa stabil dan tahan dalam suatu kondisi waktu saat sesi pengambilan gambar,” ujar Puji.

Bagi Puji, kesuksesan seorang food stylist bisa dilihat saat hasil kreasinya bisa membangkitkan selera makan seseorang. Ia mencontohkan, food stylist mampu membelokkan niat orang yang ingin beli sepatu jadi makan bakpao.

Dijuluki sebagai tukang tipu makanan, Puji menyatakan sebenarnya tidak pernah melakukan penipuan. Kepada restoran yang memakai jasanya, ia selalu mewanti-wanti agar menyajikan makanan sesuai dengan fotonya, tanpa mengurangi porsinya.

Video: 20detik.com

Puji menata es krim
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

“Kita enggak boleh menipu konten yang ada di dalamnya. Misalkan kita styling bakso isinya ada tujuh, jangan yang disajikan ke konsumen cuma lima,” tuturnya.

Bagi yang tidak mengerti, ada yang menganggap pekerjaan food stylist mudah. Tapi, bagi Puji, profesi ini menuntut tanggung jawab dan komitmen yang sangat tinggi. Ia sering harus bangun pukul 03.00 WIB untuk menyiapkan peralatan dan perlengkapan. Kemudian harus tiba di lokasi pemotretan atau syuting pukul 05.00 WIB. Belum lagi harus pintar-pintar mengelola emosi bila menghadapi klien yang bawel.

“Kalau ketemu klien cerewet, bukan berarti harus marah. Kita harus bisa menjelaskan. Kan kadang klien tidak mengerti tentang makanan,” ujar Puji.

Vania Samperuru menyiapkan kue untuk difoto.
Foto: dok. pribadi Vania Samperuru

Vania Samperuru, food stylist yang pernah ikut kursus kepada Puji, mengakui juga sering mendapat komentar yang menganggap pekerjaannya gampang.

“’Eh gila lo, cuma styling begini saja dibayar mahal.’ Saya jawab saja, ‘Jangan lihat nilai nominalnya, karena saya bisa kerja sampai midnight.’ Pernah motret sampai malnya tutup,” kata Vania kepada detikX.

Permintaan akan jasa food stylist saat ini memang tinggi karena restoran baru yang membutuhkan jasa mereka terus bermunculan. Sedangkan jumlah food stylist masih sedikit. Tidak aneh bila gaji seorang food stylist sangat tinggi. Misalnya sekali menggarap proyek untuk video iklan bisa dihargai sampai ratusan juta rupiah.

Vania mengingatkan, melihat profesi food stylist jangan cuma dari angka uang yang didapatkan karena pekerjaannya tidak ringan. Pekerjaan yang sepertinya terlihat selesai dalam satu hari itu sebenarnya butuh persiapan berhari-hari sebelumnya.

“Saya harus muter-muter Jakarta selama dua hari untuk mencari perlengkapan yang dibutuhkan,” kata Vania, yang membuat video tutorial resep untuk produk Wedang Bajigur.

“Untuk bikin food styling nasi goreng, saya sampai pilih satu per satu bulir berasnya sebelum dimasak. Ibaratnya, bulir beras harus dihitung ya dihitung. Jadi pekerjaan ini tidak sesederhana yang dibayangkan,” kata Puji.


Puji dikelilingi peralatan fotografi demi menghasilkan hasil foto maksimal.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Dia bahkan pernah diusir ketua RT karena syutingnya melewati perkiraan waktu. Ia harus pindah, padahal adegan tinggal menyobek daging ayam. Kaki Puji bahkan sampai tersiram air panas. “Ayam yang mau diangkat air panasnya tumpah ke kaki saya. Pelan-pelan kaki saya itu melepuh dan mengembang kayak bakpao.”

Pernah juga Puji bereksperimen dengan teknik baru syuting telur yang dijatuhkan ke terigu, dengan harapan bulir terigu akan beterbangan. Puji sudah mencobanya di rumah dan berhasil. Anehnya, sewaktu di lokasi, teknik syuting tersebut gagal.

Haruskah food stylist pintar memasak makanan lezat? Ternyata tidak. Vania tidak bisa memasak hingga usia 25 tahun. Ia pertama kali memasak nasi setelah menikah. Ia harus memasak setelah mengikuti sang suami pindah ke Amerika.

Setelah suka memasak, Vania pun menjadi food blogger. Ia rajin mengunggah resep-resep yang dicobanya di blog v-recipes.blogspot.co.id dan bergabung ke Indonesian Food Blogger.

Foto hasil food styling Vania
Foto: dok. pribadi Vania Samperuru

Dari blog, Vania belajar food photography dan food stylist secara otodidak karena ia ingin tampilan blognya terlihat apik. Selain kepada Puji Purnama, ia mengikuti kursus online dari Amerika Serikat.

Vania sepakat dengan Puji bahwa food stylist beda dengan chef, yang harus membuat makanan enak. “Food stylist benar-benar fokus di makanan supaya terlihat cantik di depan kamera,” kata Vania.

Bagaimana? Minat menjadi food stylist?


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

SHARE