METROPOP

Dari Makanan, Stephanie Menabur Mimpi

Anak-anak jalanan perlu diajari bermimpi. Dari makanan, mereka akan mengenali karier masa depan.

Foto-foto: dok. pribadi Stephanie Djaya

Kamis, 12 Agustus 2016

Stephanie Djaya tidak mengira makanan Korea akan mengubah kariernya. Ia sudah punya karier yang mapan di perusahaan ekspor-impor. Impian masa kecilnya untuk berkeliling dunia juga sudah terlaksana.

Nah, suatu ketika, Stephanie berkunjung ke Korea. Ia masuk ke sebuah restoran di Negeri Ginseng. Saat disuguhi sajian makanan, ia dibuat kagum. Makanan yang dia pesan itu ternyata sama persis dengan foto menu yang dipajang. Ia pun penasaran siapa yang membikin foto-foto tersebut, dan mendapat jawaban: food stylist.

Lulusan fashion design di Beijing, Cina, ini lantas menyadari itulah profesi yang sebenarnya ia idamkan. Ia pun mantap meninggalkan karier di bidang ekspor-impor karena mulai kehilangan minat.

“Menurut aku, food stylist itu art. Tidak ada beda dengan orang yang melukis di kanvas,” kata Stephanie kepada detikX.

Dua tahun menjadi food stylist, Stephanie paham sejumlah trik untuk mempercantik makanan. Misalnya ia tidak akan merebus sayuran terlalu matang biar terlihat tetap hijau dan segar ketika difoto. Agar makanan terlihat mengkilap, ia memberinya lem. Supaya saus keju di pizza terlihat menggoda, ia mencampurnya dengan tepung terigu.

Namun, di atas semua itu, yang terpenting adalah kesabaran. Sebab, banyak hal detail yang harus dilakukan saat mendandani makanan agar terlihat menggoda. Ditambah lagi pemotretan ataupun syuting sering kali harus diulang-ulang.

Stephanie merasa masih perlu terus belajar dan memperbarui ilmunya. Ia pun membagikan ilmunya dengan menjadi relawan di Flux Lifeground Bali, yayasan nirlaba di bidang pendidikan. Sebab, menurut dia, belajar yang baik bisa dilakukan dengan menyebarkan ilmu. Ia mengajar anak-anak, termasuk anak jalanan, tentang makanan sehat. Ia pun memberi pemahaman, banyak pekerjaan tersedia berkaitan dengan makanan. Tidak hanya dengan membuka kafe atau jadi koki, tapi juga menjadi penulis resep atau food stylist.

Kelas dibuka untuk anak usia 14-18 tahun. Dalam dua tahun, mereka boleh ikut semua kelas. Mulai kelas seni rupa, musik, hingga seni memasak. Kalau mereka ambil kuliner, di semester terakhir mendapat kesempatan bekerja di hotel ternama di Bali.

“Kalau enggak dikasih edukasi ini, kemungkinan besar mereka akan terus minta-minta di jalan. Melalui ini, kita mau memulihkan mimpi mereka.”

Bersama Flux Lifeground, Stephanie meluncurkan buku The Little Book of Big Dreams & Delightful Dishes. Isinya tentang aneka resep masakan sehat yang mudah dipraktekkan. Di buku itu, Stephanie menulis resep dan food styling.


Kepada para muridnya, Stephanie mewanti-wanti agar tidak pernah takut mencoba hal baru. Ia mencontohkan, ia pernah berpikir bahwa food styling susah diterapkan pada makanan Indonesia. Ternyata, setelah mencobanya, ia tidak menemukan kesulitan berarti.

“Jadi, menurut aku, jangan pernah takut mencoba hal baru.”


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.

SHARE