Bahlil Analogikan RI Seperti Jalan: Sopir Baru Belajar Bisa Masuk Lubang

ADVERTISEMENT

Bahlil Analogikan RI Seperti Jalan: Sopir Baru Belajar Bisa Masuk Lubang

Adrial Akbar - detikNews
Kamis, 08 Des 2022 18:28 WIB
Bahlil Lahadalia
Bahlil Lahadalia (Foto: YouTube Setpres)
Jakarta -

Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia menganalogikan kondisi Indonesia saat ini seperti sebuah jalan berlubang sedangkan pemimpinnya sebagai sopir. Bahlil lantas mewanti-wanti bagi sopir yang baru belajar bisa masuk ke dalam lubang.

Hal itu diungkap Bahlil dalam rilis survei Poltracking, Kamis (8/12/2022). Awalnya Bahlil menyebut dulu Indonesia seperti jalan yang mulus, sehingga sopir baru dapat melalui jalan dengan baik. Namun kini Indonesia bagaikan jalan yang berlubang.

"Saya menganalogikan sekarang Indonesia itu seperti jalan. Kalau dulu jalannya smooth, maka ibarat mobil Innova, sopir yang baru mau belajar pun dengan jalan yang licin itu akan berjalan baik. Tapi kondisi hari ini jalan sedang berlubang," ujar Bahlil.

Bahlil juga menyebut kini Indonesia sedang dihadapkan oleh dua tikungan. Ketika sopirnya tidak memilih tikungan yang benar, maka Indonesia akan terperosok dalam jurang.

"Dan Ketika sopirnya tidak lagi baik untuk membuat intuisi untuk memilih tikungan yang mana, apakah tikungan yang lurus selamat atau tikungan yang sebelah kiri untuk kita masuk jurang, hati-hati," ujar Bahlil.

Untuk itu, Bahlil berharap sopir yang handal untuk menghindari lubang yang ada. Jika mobil dibawa oleh sopir yang baru belajar, menurutnya penumpang siap siap akan menderita.

"Nah mobil Innova ini kalau dibawa oleh sopir yang baru belajar, maka hati-hati penumpang semua akan pinggang sakit karena dia tidak bisa menghindari lubang," ujarnya.

"Nah pertanyaannya sekarang meminimalisirnya bagaimana, agar mobilnya selamat, agar penumpangnya selamat, dan sopirnya juga bisa selamat. Pertanyakan lagi pada rumput yang bergoyang," tambahnya.

Meski begitu, Bahlil tetap optimis dengan keadaan Indonesia ke depannya. Namun jika pemimpin ke depan tidak memiliki sikap kepemimpinan yang baik, maka menurutnya tidak bisa menyelamatkan Indonesia.

"Saya optimis Indonesia ke depan akan dalam kondisi yang baik. Tapi dengan catatan, tahun depan itu tahun politik. Saya tidak menjamin kalau pemimpin ke depan tidak yang tidak memiliki leadership baik, tidak bisa menyelamatkan ekonomi nasional kita," ujar dia.

Bahlil mengingatkan bila ingin menyelamatkan ekonomi nasional, maka dibutuhkan stabilitas. Untuk mencapai itu, diperlukan pemimpin yang tepat.

"Terus bagaimana bisa menyelamatkan ekonomi nasional kita. Hanya dibutuhkan stabilitas, stabilitas dibutuhkan pemimpin yang teruji, yang kuat, kalau mau coba-coba silahkan saja," ujarnya.

(eva/eva)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT