PDIP: Kalau Nyoblosnya Gambar, Kampanye Partai Nggak Perlu Duit

ADVERTISEMENT

PDIP: Kalau Nyoblosnya Gambar, Kampanye Partai Nggak Perlu Duit

Dwi Rahmawati - detikNews
Senin, 21 Nov 2022 17:20 WIB
Ketua Banggar DPR MH Said Abdullah
Said Abdullah (Foto: Dok Istimewa)
Jakarta -

Ketua DPP Partai PDI Perjuangan (PDIP) Said Abdullah mengusulkan agar sistem pemilihan legislatif (pileg) tertutup, jadi pencoblosan hanya dilakukan di gambar partai. Said menilai hal itu untuk meminimalisir biaya kampanye.

"Kami ingin Pemilu itu, selalu ingin mencoblos gambar. Karena itulah sesuai dengan kultur kita. Tapi kita dipaksa liberal betul melebihi Amerika, satu partai pun calonnya saling bunuh," kata Said di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (21/11/2022).

Said lantas mengungkap adanya persaingan antar caleg di internal partai terkait sistem pileg yang terbuka. Persaingan itu terkait nomor urut tiap caleg. Meski begitu, Said menyerahkan keputusan pencoblosan ke Mahkamah Konstitusi (MK).

"Jangankan dengan partai lain. Di nomor urut kami saja saya dengan Pak Rudi satu dapil, saya saling bunuh dengan Pak Rudi. Kan salah kaprah keputusan itu, tapi itu final dan binding yang harus dilaksanakan dan tidak bisa kami tolak. Dan itu keputusan MK," imbuhnya.

Said membeberkan keuntungan jika sistem pileg dilakukan tertutup. Salah satunya, rendahnya biaya kampanye.

"Tapi kalo pemilunya nyoblos tanda gambar, cost-nya tidak mahal, murah meriah. Dan anggota yang terpilih punya bobot. Karena apa? Dia pasti pengurus partai. Orang yang sudah di kader, yang sudah dapat penugasan, bukan ujug-ujug pedagang jadi politisi," ungkapnya.

"Kalau yang sekarang kan open, langsung, liberal betul. Kalau nyoblos tanda gambar ya sudah, kampanye partai, nggak perlu duit. Wong kampanye partai kok, tapi ketika 'eh rakyat tolong pilih Said' ya bagi sembako lah, bagi ini lah, itu kan nggak bisa dihindari," tutur Said.

Said menepis kekhawatiran partai yang makin berkuasa jika sistem pileg tertutup dilakukan. Dia mengatakan setiap partai berhak mengatur organisasinya masing-masing.

"Loh, kepentingan organisasi apa kalo kita masuk organisasi? Kita bersepakat di organisasi apa? Kita bersepakat oke keputusannya A. Semua kan harus A. Kan lucu masuk organisasi, tapi maunya sendiri. Ya kita jangan masuk organisasi dong," ujarnya.

(eva/eva)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT