Musra Relawan Jokowi Digelar di Makassar 2 Oktober, Begini Mekanismenya

ADVERTISEMENT

Musra Relawan Jokowi Digelar di Makassar 2 Oktober, Begini Mekanismenya

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Minggu, 25 Sep 2022 21:51 WIB
Presiden Jokowi
Presiden Jokowi (Foto: Biro Pers Setpres)
Jakarta -

Musyawarah rakyat (musra) menjaring capres-cawapres 2024 bakal digelar oleh gabungan relawan Joko Widodo (Jokowi) di Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) pada 2 Oktober mendatang. Ketua Panitia Nasional Musra Panel Barus mengatakan nantinya hanya warga ber-KTP Sulawesi Selatan saja yang bisa mengikuti agenda Musra 2 Oktober mendatang.

"Jadi semua masyarakat yang ber-KTP Sulawesi Selatan boleh ikut hadir terlibat dalam musra," kata Panel Barus saat ditemui di Jl Warung Jati Timur, Jakarta Selatan, Minggu (25/9/2022).

Secara keseluruhan, target jumlah massa yang terlibat dalam agenda musra sebanyak 25 ribu orang, sehingga seluruh masyarakat di 24 kabupaten atau kota di Provinsi Sulawesi Selatan bisa mengikuti agenda musra ini.

"Ya asal di Sulawesi Selatan, 24 kota kabupaten yang ada di Sulsel boleh terlibat di situ," ucapnya.

Panel menjelaskan nantinya agenda musra dibagi menjadi tiga sesi. Rinciannya, sesi pertama adalah diskusi kebangsaan dan pemaparan program prioritas harapan rakyat. Kemudian sesi kedua membahas kriteria pemimpin harapan rakyat.

Di sesi ketiga menentukan kandidat capres dan cawapres yang dipilih oleh masyarakat Sulawesi Selatan. Panel menyampaikan peserta yang hadir akan menjalani voting memutuskan capres dan cawapres untuk diusung pada Pilpres 2024 mendatang.

"Ini sama dengan apa yang kami lakukan di Bandung secara tata cara acaranya, ada sesi 1-2-3, yang dibahas sama, agenda pembahasan program prioritas, terus karakter sama kriteria serta nama capres atau cawapres," jelasnya.

Panitia juga memastikan tak akan membatasi masyarakat memilih kandidat Capres maupun Cawapres dengan nama-nama tertentu semata. Sekalipun, nama Jokowi kembali keluar sebagai kandidat Capres seperti halnya musra di Bandung beberapa waktu lalu.

"Kalau multiple choice, saya tentuin nama-nama Capresnya siapa itu jadi tidak demokratis. underestimate terhadap apa yang dipikirkan rakyat. Kita jangan curiga tentang apa yang dipikirkan oleh rakyat di bawah. Itulah ekspresi keinginan rakyat," ujarnya.

(taa/isa)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT