ADVERTISEMENT

Gaya PKS Dinilai Jadi Kendala Segera Terwujudnya Koalisi dengan NasDem-PD

Firda Cynthia Anggrainy - detikNews
Selasa, 20 Sep 2022 15:37 WIB
Hendri Satrio
Hendri Satrio (Foto: Karin Nur Secha/detikcom)
Jakarta -

NasDem menyatakan koalisi dengan Partai Demokrat (PD) dan PKS sudah hampir terwujud, namun masih menemui sejumlah kendala. Founder lembaga survei KedaiKOPI Hendri Satrio menilai salah satu kendalanya adalah gaya PKS yang berbeda dengan NasDem dan Demokrat.

"PKS sebelum masuk dalam perhelatan Pilpres harus lebih serius memerankan diri sebagai oposisi yang membela rakyat," kata Hensat kepada wartawan, Selasa (20/9/2022).

Hensat mengatakan PKS kerap kebanyakan drama. Contohnya, aksi walkout PKS saar rapat paripurna kenaikan BBM.

"PKS sering kebanyakan drama saat membela rakyat dan tidak tuntas. Contoh PKS malah walkout saat paripurna membahas kenaikan BBM. Lah kalau cuma mau walkout, siapa aja bisa," ujarnya.

Dia mengatakan koalisi PKS dengan NasDem dan Demokrat harus serius jika ingin mengusung pasangan capres dan cawapres pada Pilpres 2024. Dia mengatakan hal itu harus ditunjukkan dengan pasang badan untuk rakyat.

"Nah, berkoalisi untuk memenangkan Anies membutuhkan keseriusan, ketulusan untuk bela rakyat. Nggak boleh kebanyakan drama, ngomong oposisi bela rakyat tapi tidak terlihat pasang badan untuk rakyat," kata dia.

Hensat lalu menyinggung 'gaya' PKS. Menurut Hensat, PKS punya gaya berbeda dengan Demokrat dan NasDem.

"Gaya PKS berbeda dengan Demokrat dan Nasdem yang mengambil jalur nasionalis sementara PKS religius, maka kematangan PKS untuk negeri harus lebih sering dimunculkan di muka rakyat. Tidak kebanyakan drama," ujarnya.

"Contoh lain, membandingkan angka kemiskinan Depok dengan Solo, ini partai level nasional atau partai kelas kabupaten/kota aja? Bila memang partai kelas kabupaten kota saja ya pantas gampang ngacir atau walkout saat paripurna DPR," sambungnya.

NasDem Bicara Tak Mau Kawin Paksa

Partai NasDem, Partai Demokrat, dan PKS yang kini cukup akrab dan nyaman berkomunikasi belum mendeklarasikan koalisi menjelang Pilpres 2024. NasDem mengungkapkan salah satu kendala belum menemukan kesepakatan karena tak bisa 'kawin paksa'.

Dalam catatan detikcom, Selasa (20/9), sejumlah kendala belum terbentuk dan deklarasinya NasDem, Demokrat, dan PKS diungkap oleh Ketua DPP NasDem Willy Aditya. Ketiga partai belum pernah dalam satu perahu koalisi sehingga tak bisa kawin paksa.

"Satu, kami belum pernah bekerja sama sebelumnya, tentu ini nggak bisa kawin paksa kan," kata Willy di gedung DPR/MPR, Jakarta, Senin (19/9).

Membangun kecocokan dengan PKS dan Demokrat, menurut Willy, harus berangkat dari ranah antarpartai. Kemudian, menuju ke ranah kandidat capres-cawapres di 2024.

"Tentu proses pembangunan chemistry di 2 ranah, ranah antarpartai, ranah antara kandidat dengan partai, itu tidak sederhana itu. 2 layer ini harus berjalan secara simultan, itu yang beratnya itu," ujar dia.

"Ada orang yang kadang-kadang misal kita contoh, tetangga, langsung partainya saja. Itu kan 1 layer, sementara ini bekerja dalam 2 ranah lah, 2 dunia, 2 alam, capres-cawapresnya dan partainya," lanjutnya.

Willy mengakui kendala utama NasDem, PKS, dan Demokrat bukanlah pada ranah sosok di 2024. Melainkan, kata Willy, menyamakan persepsi terkait persoalan-persoalan yang akan diselesaikan ke depannya.

Simak juga video 'AHY Umumkan Intens Komunikasi dengan 2 Partai, Demokrat: NasDem-PKS':

[Gambas:Video 20detik]



(fca/haf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT