Tepis PDIP soal Depok Intoleran, PKS: Dulu Nangis Bombay Saat BBM Naik

ADVERTISEMENT

Tepis PDIP soal Depok Intoleran, PKS: Dulu Nangis Bombay Saat BBM Naik

Mochamad Zhacky - detikNews
Minggu, 18 Sep 2022 20:23 WIB
Jubi PKS Muhammad Kholid
Foto: Muhammad Kholid. (Dok. Istimewa)

Kembali ke Kholid. Dia mengklaim bahwa PKS mendukung atau tidak kenaikan harga BBM bukan karena oposisi atau koalisi dengan pemerintahan yang aktif.

"PKS pernah dukung kenaikan BBM di periode pertama SBY. Tetapi PKS juga pernah menolak kenaikan harga BBM di periode kedua SBY, meskipun PKS di koalisi. Jadi PKS objektif saja. Di luar atau di dalam pemerintahan PKS bisa menolak. PKS menolak bukan karena oposisi atau koalisi. PKS menolak karena suara hati rakyat dan nalar atau rasionalitas publik," terang Kholid.

Baru kemudian Kholid melontarkan sindiran ke PDIP. Dia mengungkit tangisan elite PDIP saat harga BBM era SBY naik dan kejutan selamat ulang tahun untuk Puan Maharani, yang diberikan dalam rapat paripurna DPR RI beberapa waktu lalu usai Presiden Jokowi menaikkan harga BBM.

"Lalu, bagaimana dengan PDIP? Dulu nangis bombay saat BBM naik. Sekarang? Rayakan ulang tahun di DPR saat BBM naik? Mana tangisan kalian dulu itu?" pungkas Kholid.

Sebelumnya, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menantang PKS untuk menyampaikan data prestasi Kota Depok selama dipimpin kader PKS. Hasto menyebut, yang meningkat di Depok justru intoleransi.

"Kota Depok lebih dari 17 tahun dipimpin PKS. Kalau memang PKS punya data keberhasilannya, tampilkan saja. Mengapa Kota Depok? Karena di situlah awalnya pucuk tertinggi PKS memimpin. Jadi itu bisa menjadi benchmark. Menurut penelitian para ahli, yang meningkat di Depok justru intoleransi," katanya.

"Karena itulah, sebelum mengkritik Pak Jokowi autokritik dulu. Mengapa? Sebab, mengelola negara itu jauh lebih kompleks dari pada kota," imbuh dia.


(zak/knv)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT