SAINS

Selamat Datang, ‘Tentara’ Robot

“Militer Amerika akan bertempur dengan cara-cara yang jauh beda dengan cara kita berperang di Irak dan Afganistan.”

Robot Talon dengan pelontar mortir dipamerkan di New York, September 2004.

Foto: Spencer Platt/Getty Images

Jumat, 15 Juli 2016

Dua tahun lalu, Jenderal Robert Cone membikin terperangah ratusan peserta Simposium Penerbangan Militer di Arlington, Virginia. Komandan Pusat Pelatihan dan Doktrin Angkatan Darat Amerika itu menyampaikan rencana Pentagon memangkas jumlah prajurit di satu kesatuan brigade dalam beberapa tahun mendatang.

Jumlah prajurit yang dipangkas tak kira-kira banyaknya. Dalam satu brigade nanti, menurut Jenderal Cone, cukup diperkuat 3.000 prajurit, dari semula 4.000 tentara. Dia menjamin, kekuatan “pukul” 3.000 prajurit ini tak akan kalah dengan 4.000 tentara. Bagaimana cara militer Amerika menggantikan kekuatan 1.000 prajurit yang dipangkas?

Jenderal Cone punya hitung-hitungannya. Satu brigade, menurut dia, terdiri atas dua bagian, yakni komponen “gigi” dan bagian “ekor”. Prajurit bagian “gigi” bertugas “menggigit” musuh di medan perang. Bagian “ekor” berfungsi sebagai pasukan pendukung. Prajurit bagian “ekor” inilah yang bertugas memasok logistik, amunisi, sarana komunikasi, dan transportasi. Tapi justru prajurit bagian “ekor” inilah yang jumlahnya lebih banyak, meliputi hampir dua pertiga kekuatan brigade.

Kita harus siap untuk menghadapi musuh-musuh dengan teknologi canggih…. Sekarang yang menentukan adalah siapa yang mampu berinovasi lebih cepat dari musuh-musuhnya."

“Angkatan Laut sudah berhasil mengurangi jumlah personelnya di atas kapal,” kata Jenderal Cone, dikutip Defense News, memberi contoh. Supaya brigade di Angkatan Darat lebih ramping, Jenderal Cone sudah ada calon penggantinya: robot.

“Prajurit-prajurit” robot, dia berharap, bisa menggantikan sebagian fungsi bagian “ekor” dalam brigade, misalnya untuk mengangkut logistik dan amunisi. Satu robot, dalam banyak hal, terang lebih kuat daripada satu orang prajurit. Jika “prajurit” robot sudah bergabung, menurut Jenderal Cone, komposisi tentara dalam brigade akan berimbang. Separuh kekuatan brigade di bagian “gigi”, setengah lagi menjadi “ekor”.

Pasukan Amerika di Bagdad, Irak, menggunakan robot untuk menjinakkan bom pada 2005.
Foto: John Moore/Getty Images

Keterlibatan robot dalam perang sebenarnya tak benar-benar barang anyar. Sudah lebih dari 20 tahun militer Amerika Serikat, dan diikuti negara-negara lain, mempekerjakan “robot” dalam kesatuannya.

Bukan cuma robot penakluk ranjau darat dan penjinak bom, seperti Digger, mereka juga mengoperasikan “robot-robot” terbang tanpa awak alias drone, seperti keluarga Reaper dan Predator. Ada pesawat nirawak pengintai seperti RQ-4 Global Hawk dan RQ-7 Shadow, ada pula drone pembunuh seperti MQ-1 Predator dan MQ-9 Reaper. Robot-robot itu telah mengubah wajah medan perang hari ini.

Dalam beberapa tahun mendatang, porsi robot-robot ini di medan tempur sepertinya bakal makin besar. Jauh-jauh hari, Pentagon, markas Kementerian Pertahanan Amerika, sudah bersiap menghadapi perang gaya baru di masa depan. Sejak beberapa tahun lalu, Ashton Carter, Menteri Pertahanan Amerika, terus menggenjot anggaran riset militer.

Tahun depan, Pentagon akan menganggarkan US$ 71,4 miliar atau hampir Rp 935 triliun dari total anggaran pertahanan US$ 582,7 miliar untuk riset teknologi militer. “Kita harus siap untuk menghadapi musuh-musuh dengan teknologi canggih…. Sekarang yang menentukan adalah siapa yang mampu berinovasi lebih cepat dari musuh-musuhnya,” kata Menteri Carter, beberapa bulan lalu, dikutip Financial Times.

Teknologi nuklir dan siluman alias stealth, yang selama ini jadi andalan Amerika, sudah ketinggalan zaman, tak bisa lagi bikin ciut nyali dua lawan utama Amerika hari ini, yakni Cina dan Rusia. Amerika harus punya keunggulan baru di medan perang. “Militer Amerika akan bertempur dengan cara-cara yang jauh beda dengan cara kita berperang di Irak dan Afganistan,” kata Menteri Carter.

* * *

Pasukan penjinak ranjau di Stanley, Kepulauan Malvinas, menggunakan robot Red Fire pada 2007.
Foto: Peter Macdiarmid/Getty Images

Persis tiga tahun lalu, pesawat tanpa awak X-47B buatan Northrop Grumman terbang dari pangkalan Angkatan Laut di Patuxent River dan beberapa saat kemudian mendarat di atas dek kapal USS George H.W. Bush. Yang istimewa dari operasi ini, X-47B berhasil mendarat di dek USS Bush tanpa bantuan operator seperti lazimnya drone. Robot terbang ini mendarat sendiri, seolah-olah ada pilot yang menerbangkannya.

Robot atau setengah robot, seperti Terminator, Robocop, atau Iron Man, di dunia nyata memang masih belum terbayangkan. Tapi mesin atau robot yang bisa beroperasi secara otonom—mengenali, mempelajari target, dan memutuskan apa yang akan dilakukan terhadap target itu—sepertinya hanya tinggal berjarak beberapa tahun dari hari ini.

Beberapa bulan lalu, Insurge Intelligence membocorkan satu dokumen Pentagon bertajuk “Human Systems Roadmap Review”. Dokumen tersebut memuat rencana Pentagon mengembangkan robot-robot militer pintar dengan kecerdasan buatan yang bisa beroperasi secara otonom alias tanpa perlu operator, mirip dengan yang sering ditampilkan oleh sutradara-sutradara Hollywood.

Jauh-jauh hari, Pentagon memang sudah bersiap menghadapi perang robot. Paling tidak, ada tiga lembaga riset militer tempat pasukan robot itu dipersiapkan: Defense Advanced Research Projects Agency (DARPA), Office of Naval Research (ONR), dan Strategic Capabilities Office (SCO). Tentu saja, sebagian besar riset robot militer di tiga lembaga ini ditutup rapat-rapat supaya tak diintip musuh.


Pesawat tanpa awak X-47B siap mendarat secara semi-otonom di kapal USS George H.W. Bush pada 2013.
Foto: Alan Radecki/Northrop Grumman via Getty Images

“Kami akan membocorkan sebagian untuk membuat musuh gentar, dan kami akan menyimpan bagian lainnya untuk memberi kejutan dan keuntungan di medan perang,” kata Robert O. Work, Wakil Menteri Pertahanan Amerika, kepada Boston Globe.

Beberapa waktu lalu, misalnya, DARPA dan ONR mendapat tugas mengembangkan kapal tanpa awak ASW Continuous Trail Unmanned Vessel (ACTUV). Rencananya, ACTUV dapat beroperasi hampir sepenuhnya otonom untuk memata-matai dan terus “membuntuti” kapal-kapal selam milik musuh selama paling tidak 90 hari.

Seperti apa kemampuan dan ke mana arah pengembangan robot-robot perang Pentagon memang masih sulit diraba. Tapi, jika dokumen yang diperoleh Insurge Intelligence jadi rujukan, pada 2030 Pentagon pasang target sudah bisa membuat robot bersenjata, bukan sekadar robot mata-mata, yang bisa bekerja nyaris otonom. Dus tanpa campur tangan operator.

Pengembangan robot pintar yang dipersenjatai dan bisa mengambil keputusan sendiri, termasuk saat akan menembakkan senapan, ditentang sebagian ilmuwan. Setahun lalu, lebih dari 1.000 ilmuwan meneken surat penolakan terbuka terhadap pengembangan killer robot, sebutan mereka untuk robot otonom bersenjata tersebut. Di antara ilmuwan yang turut membubuhkan tanda tangan adalah Elon Musk, pendiri SpaceX dan Tesla Motors, Stephen Wozniak, pendiri Apple, fisikawan kondang Stephen Hawking, Noam Chomsky, profesor di Massachusetts Institute of Technology (MIT), dan Demis Hassabis, pendiri Google Deep Mind.

Tentara Amerika di Qiqay, Afganistan, memakai robot untuk mendeteksi ranjau pada Juli 2002.
Foto : Wally Santana-Pool/Getty Images

Mereka memberikan argumentasi, pengembangan robot otonom bersenjata itu bakal memicu perlombaan senjata baru. “Robot ini akan menjadi senapan Kalashnikov masa depan,” mereka menulis. Lantaran materialnya gampang diperoleh dan ongkos produksinya jauh lebih murah ketimbang senjata konvensional, seperti bom nuklir atau pesawat tempur F-16 atau F-35, hanya tinggal menghitung waktu saja, robot bersenjata ini akan beredar di pasar gelap, tak beda dengan bedil AK-47. Asalkan punya duit, siapa saja bisa membelinya.

Pada awal April lalu, sejumlah ilmuwan bertemu di Jenewa, Swiss, membahas soal dilema robot otonom bersenjata ini. Walaupun semua sepakat bahwa robot juga mesti tunduk pada hukum humaniter internasional, misalnya robot juga mesti bisa membedakan antara warga sipil dan kombatan, terjadi silang pendapat sengit soal “robot pembunuh” ini dalam banyak hal.

Dalam pertemuan informal ini, para ahli juga bersepakat bahwa sang komandan, yang bukan robot, mesti bertanggung jawab atas semua tindakan “prajurit-prajurit” robotnya. Tapi, dalam soal otoritas robot, sikap para ahli terbelah. Wakil dari Vatikan dan 13 negara ngotot bahwa harus ada intervensi manusia dalam setiap tindakan yang diambil robot, tapi negara-negara lain bersikap terbuka soal kemungkinan memberikan otoritas penuh kepada robot.

Pentagon, menurut Robert Work, Wakil Menteri Pertahanan Amerika, belum memutuskan akan ke mana pengembangan robot otonom bersenjata mereka. Namun negara-negara lain, kata Robert, bisa jadi tak akan perlu banyak pertimbangan untuk mengembangkan dan mengoperasikan “robot pembunuh” ini.

“Saat ini kita tak akan memberikan otoritas kepada robot untuk mengambil tindakan mematikan,” kata Robert kepada Washington Post. “Tapi suatu saat mungkin kita akan memberikannya ketika mesin bereaksi lebih cepat ketimbang manusia, misalnya dalam perang cyber.”


Penulis/Editor: Sapto Pradityo
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Sains mengulik penemuan-penemuan baru serta seluk-beluk sains dan teknologi.