METROPOP
Stefano Romano, fotografer Italia, menghadirkan kebaikan Islam dari hal-hal bersahaja di kampung-kampung Indonesia.
Foto-foto: Stefano Romano
Kamis, 4 Agustus 2016Di bawah cahaya yang redup, tangan keriput seorang kakek dengan jari menggenggam pensil menunjuk selarik huruf Arab. Di seberang tangan sang kakek, ada tangan seorang bocah yang menunjuk huruf yang sama. Kedua tangan itu bertemu di sebuah meja kayu kecil nan kusam.
Foto tersebut merupakan salah satu foto yang dihadirkan Stefano Romano, fotografer asal Italia, dalam bukunya, Kampungku Indonesia, yang diluncurkan penerbit Mizan awal Agustus 2016 ini.
Stefano memotret momen tersebut ketika berjalan-jalan di gang-gang sempit di kampung Slipi, Jakarta. Ia merasa tergetar ketika tidak sengaja melihat kakek sepuh itu mengajarkan buku Iqro’ di sebuah rumah kecil, dengan ruangan yang hanya diterangi sebuah lampu yang redup.
Hatinya langsung tersentuh karena ia, yang merupakan seorang mualaf, pernah memakai buku Iqro’ yang sama ketika belajar membaca Al-Quran selama lima tahun di Roma, Italia.
Menyaksikan momen itu, Stefano menangkap makna Islam, agama pilihannya, yakni bahwa muslim senantiasa mencari cahaya. “Ada keagungan tak terkira yang terkandung di dalam ruang sempit itu. Segenap arti Islam seolah terangkum di dalam semesta kecil itu; senantiasa mencari cahaya,” tulis Stefano dalam buku tersebut.
Foto yang bagus adalah foto yang memiliki pesan yang kuat. Dan bila melihat foto-foto dalam buku foto Kampungku Indonesia, terutama bab 3, yang berjudul “Cahaya Manis di Kampung”, kita akan menemukan pesan yang kuat tentang kebaikan-kebaikan Islam di Indonesia.
Stefano antara lain menghadirkan wajah Islam yang penuh kasih dalam foto mengenai hubungan ayah dan anak. Ada sebuah foto seorang anak naik ke punggung ayahnya, ada pula foto bocah laki-laki yang menyender manja pada lengan bapaknya yang sedang berdoa di masjid. Atau seorang bocah yang tiduran di paha ayahnya yang sedang khusyuk berzikir.
Islam yang tulus juga bisa kita jumpai pada foto ibu-ibu berjilbab yang sedang menggendong, menyuapi, menyusui, mengajar mengaji anaknya, ataupun menemani putrinya ikut lomba mewarnai. Islam yang damai dan ramah hadir pada senyum bocah-bocah perempuan berwajah polos bermukena warna-warni, juga pada senyum gadis penjual kerudung. Pun pada foto perempuan berjilbab yang mengunjungi Candi Borobudur di Jawa Tengah.
Stefano juga menegaskan pesan bahwa muslim tidak pernah berputus asa lewat foto seorang gadis muda yang mengajar lima muridnya di sebuah kelas yang sangat minim fasilitas. Kelas itu hanyalah sebuah ruangan, tidak ada papan tulis di sana. Maka si gadis berkerudung cokelat muda itu menuliskan huruf-huruf Hijaiyah pada lantai yang terhampar.
Si guru di kelas Iqro’ di Kampung Walang Sanga, Pandeglang, Banten, itu seolah ingin berkata, “Kami tidak punya apa-apa, tapi kami akan lakukan apa pun untuk mengajar murid-murid kecil kami.”
* * *
Seorang bocah bersandar pada bapaknya saat mengikuti salat berjemaah di masjid.
Stefano mulai menekuni dunia fotografi dengan memotret komunitas Bangladesh di Roma pada 2009. Ia kemudian mengkhususkan diri memotret komunitas Asia Tenggara, terutama komunitas muslim.
Sejak sering memotret komunitas muslim itulah muncul keinginan Stefano untuk mempelajari Islam. Ia menyimpulkan, Islam dan fotografi memiliki kesamaan, punya titik temu dalam dua hal: cahaya dan kontrol.
“Saya selalu mengatakan fotografi itu seperti iman, sama-sama soal kontrol atas cahaya, tidak terlalu banyak agar jangan sampai terbakar, tapi juga jangan terlalu sedikit sehingga terbenam dalam kegelapan,” ujarnya.
Pergaulannya dengan komunitas muslim Indonesia dirasa istimewa. Bukan hanya karena ia bertemu dengan perempuan yang kemudian menjadi istrinya, tapi baginya Indonesia juga menghadirkan wajah Islam yang berbeda, wajah Islam yang lembut dan penuh persahabatan.
“Muslim Indonesia muslim yang ramah. Dari muslim Indonesia, saya pertama kali melihat ketulusan dan hubungan erat antara apa yang saya baca di dalam teks-teks religius dan perilaku orang beriman,” katanya kepada detikX.
Seorang kakek mengajari cucunya membaca Iqro'
Remaja berjilbab penjual kerudung di toko busana muslimnya
Kelas Iqro' di Pandeglang, Banten, dengan segala keterbatasannya.
Gadis-gadis bermukena warna-warni
Ketika akhirnya Stefano mengunjungi Indonesia, ia sangat takjub melihat di setiap kampung seorang ibu mengajarkan Iqro’ kepada anak-anak. Pengajaran itu tidak hanya di dalam musala, tetapi tidak jarang di dalam ruangan sempit di rumah-rumah pribadi.
Stefano seperti menemukan hidayah atau yang disebutnya sebagai “cahaya manis” dalam hal-hal bersahaja di kampung-kampung yang dikunjunginya.
“Di jalan, di musala, di kelas-kelas kecil pelajaran mengaji. Di sanalah saya senantiasa menemukan cahaya manis yang merupakan jiwa dari seluruh fotografi saya dan iman saya.”
Lewat puisi Rumi yang dia pasang di atas foto empat bocah perempuan mengenakan mukena berwarna-warni, Stefano seperti mengingatkan agar kita tidak lagi mencari-cari 'cahaya', karena 'cahaya' itu sudah ada bersama kita.
“Mereka bilang, Cahaya Tuhan ada di mana-mana. Tapi orang-orang bertanya: Di manakah cahaya itu? Orang yang tidak peduli mencari ke kiri dan ke kanan, tetapi sebuah suara berkata: Lihat saja, tanpa menoleh ke kiri dan ke kanan.” (Rumi)
Perempuan berkerudung di Candi Borobudur, Jawa Tengah
Stefano sedang memperlihatkan hasil jepretannya kepada seorang ibu.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom
Reporter/Penulis: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.