METROPOP
“Sudah kerjaan sosial, keringetan, kena teror juga.”
Foto: dok. iMural
Kamis, 21 Juli 2016Kawasan Kali Opak, Penjaringan, Jakarta Utara, sangat sepi saat sore menjelang malam. Tidak aneh bila lokasi itu menjadi daerah yang rawan tindak kriminal.
Tapi itu dulu. Kondisi seram mulai berubah sejak ada mural The Popo dengan kritiknya, "Jakarta Kelebihan Beban". Mural sepanjang 250 meter itu kini ramai didatangi orang untuk berfoto selfie.
Orang-orang terpesona pada The Popo, karakter gundul bermata belok, yang menyuarakan kritik tentang kondisi lingkungan di Kali Opak. Beberapa pejabat pun menyempatkan diri untuk datang melihat mural itu.
Tak seperti grafiti, goresan, atau tulisan-tulisan dengan cat semprot, yang sering dikeluhkan “mengotori” kota, mural justru mempercantik kota karena disertai lukisan yang menarik."
“Baru tiga minggu mural jadi, di media sosial ramai banget sama foto selfie di Kali Opak. Para pejabat juga datang, bahkan nanya berapa biaya untuk membuat mural di rumahnya,” cerita Johns Patriatik Karlah, pendiri Trotoart.
Trotoart merupakan komunitas seniman pelukis jalanan. Mural Kali Opak merupakan proyek Trotoart bersama Riyan Riyadi alias The Popo.
Sementara di Kali Opak mural mengurangi kriminalitas, mural di rumah Teletubbies atau rumah Domes di Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta, membantu meningkatkan jumlah pengunjung ke kampung wisata itu.
Mural Kali Opak, Penjaringan, Jakarta Utara.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom
Mural di rumah Domes itu juga menghadirkan The Popo karena dibuat oleh Riyan Riyadi. Di situ, The Popo tampil bermain gitar dari sayuran dan buah. Ia menyitir pesan "Berjuang Adalah Berkebun".
Riyan membuat mural itu karena terinspirasi kondisi sosial-ekonomi warga. Warga yang tinggal di rumah Domes atau rumah berbentuk setengah lingkaran mirip rumah Teletubbies itu adalah para petani. Mereka merupakan korban gempa Yogyakarta pada 2006.
“Setelah mural itu di-posting di media sosial, makin banyak wisatawan yang datang,” kata Riyan kepada detikX.
Riyan baru menyelesaikan mural untuk satu rumah di kampung wisata itu. Di kampung itu sendiri ada 80 bangunan, yang terdiri atas 71 rumah, sebuah masjid, aula, klinik kesehatan, dan fasilitas MCK. Semua berbentuk setengah lingkaran.
Foto: dok. iMural
Foto: dok. iMural
Karang Taruna di kompleks rumah Teletubbies itu lantas meminta Riyan membuat mural untuk semua bangunan di kawasan tersebut. Bukan cuma bangunan yang akan dilukis, tapi juga nama jalan dan tanda jalan. “Saya akan ajak 30 pelukis jalanan,” kata Riyan.
Mural memang memiliki banyak manfaat bagi sebuah kota. Sejumlah kota besar di negara maju mengaplikasikan banyak mural. Philadelphia, Amerika Serikat, kota yang paling banyak berhias mural, misalnya. Di setiap tikungan di blok-blok di kota itu ada mural, sehingga orang mudah menghafalnya sebagai penanda agar tidak salah jalan. Mural itu menonjolkan nilai yang khas dari wilayah tersebut.
Pendek kata, mural bisa membantu sebuah kota menjadi kota yang lebih baik. Tidak seperti grafiti, goresan, atau tulisan-tulisan dengan cat semprot, yang sering dikeluhkan “mengotori” kota, mural justru mempercantik kota karena disertai lukisan yang menarik.
Mural juga bisa diaplikasikan di tembok indoor, bukan cuma tembok outdoor.
Foto: dok. iMural
Mural juga berguna untuk mengisi kekosongan spiritual warga kota karena sering kali berisi harapan, suasana hati, atau bahkan pesan-pesan yang mendalam meskipun disampaikan secara nyeleneh dan lucu.
Mural yang dibuat Riyan berjudul “D.O.A”, misalnya. Dia menulis “Tuhan Memberikan Surga-Nya Lebih Dulu di Dunia kepada Saya, yaitu Anak-anak Saya—Ayah”.
Kadang mural juga menjadi pengingat akan keadilan. Contohnya mural tentang aktivis hak asasi manusia Munir (almarhum). Mural itu bertulisan “10 Tahun Dibunuh, 10 Tahun tanpa Keadilan, 10 Tahun Kami Menolak Lupa”.
Namun meyakinkan bahwa mural bisa membantu sebuah kota menjadi kota yang lebih baik bukanlah perkara gampang. Indonesia Mural pernah jungkir balik melakukannya.
Richard Rich, pendiri Indonesia Mural, belajar tentang mural ke Korea dan Amerika Serikat. Di dua negara maju itu, Richard menyadari begitu pentingnya mural bagi sebuah kota. Pulang ke Tanah Air, ia mendirikan Indonesia Mural untuk mengaplikasikan ilmunya di Jakarta.
“Pas mendirikan Indonesia Mural, dulu cita-cita idealisnya mau bantu Jakarta menjadi kota yang lebih baik,” ujar Richard.
Aplikasi mural pada tembok indoor
Foto: dok. iMural
Namun ternyata mewujudkan impian bukan hal yang mudah bagi Richard. Mural belum dianggap penting di Jakarta. Berkali-kali mendatangi Pemerintah Provinsi Jakarta menawarkan proposal untuk membuat mural yang berisi pesan atau program pemerintahan, hanya penolakan yang didapat Richard.
“Kita mau bantu Pemprov untuk kampanye isu, misalnya mengenai kebersihan. Tapi, biasa... selalu berakhir dengan penolakan.”
Saat menggarap mural yang berisi pesan untuk masyarakat, ia pun kesulitan mendapatkan izin. “Kita enggak tahu harus urus ke siapa. Kalaupun tahu, izinnya susah dan panjang prosesnya,” kata Richard.
Meski tidak mendapat proyek dari pemerintah untuk menyalurkan idealismenya, Indonesia Mural terus bergerak mengenalkan mural. Richard sering datang ke gedung-gedung perkantoran di Jakarta untuk menjelaskan pentingnya mural.
Mural juga diaplikasikan pada tembok indoor kafe atau restoran
Foto: dok. iMural
Kini Indonesia Mural sering mendapat pesanan dari luar negeri. Ia antara lain mengerjakan 3D art trick "The Jungle Book" di Gandaria City Mall dan Central Park Mall yang dipesen Walt Disney Studio. Mural itu mempercantik mal dan menjadi obyek untuk berfoto bagi banyak pengunjung.
Sementara itu, Trotoart, yang sering membuat mural untuk kritik sosial, tidak jarang mendapat teror saat berkarya. Para preman kerap mendatangi mereka untuk memalak. Padahal uang yang mereka pakai untuk membuat mural adalah uang patungan di antara seniman pelukis jalanan itu sendiri.
“Dikira kita buat mural ini ada uangnya. Padahal ini kan kami berbagi. Udah kerjaan sosial, keringetan, kena teror juga,” ujar Johns Patriatik Karlah.
Meski banyak halangan, para seniman mural akan terus berkarya untuk memberikan kontribusi bagi negara dan sesama. Johns berujar, “Nikmati sajalah, jangan sampai kita mati ekspresi.”
Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.