METROPOP

Energi Kritik
Riyan ‘The Popo’

Ia pernah didatangi polisi gara-gara membuat mural yang berisi kritik sosial. Tapi warga langsung membelanya.

Mural "Jakarta Kelebihan Beban" sebagai kritik atas rusaknya jalan akibat truk peti kemas

Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Kamis, 21 Juli 2016

Hidup sering kali tidak ramah pada Riyan “The Popo” Riyadi saat ia masih bocah dulu. Seniman mural ini berkali-kali merasakan penderitaan sebagai wong cilik, yang selalu ditindas dan tidak bisa mewujudkan keinginan-keinginannya.

Sewaktu sekolah dasar, pria yang terkenal lewat karakter The Popo di mural-muralnya ini selalu diintimidasi oleh ketua kelas. Seniman yang menerima penghargaan The Best Mural Artist pada Tembok Bomber Award 2010 ini juga pernah dihukum saat SD. Ia dikunci di toilet selama dua jam. Gara-garanya, ia menggambar seorang guru sedang makan di jamban. Gambar itu ia buat di buku pelajaran Pendidikan Moral Pancasila.

Tidak asal menggambar dan mencoretkan kalimat pada tembok, Riyan melakukan observasi lebih dulu mengenai tempat yang akan dipakai untuk mural."

Seperti umumnya bocah, Riyan pun ingin memiliki mainan. Apa daya, orang tua tidak punya cukup uang untuk membelikannya. Riyan kecil lantas menggambar semua mainan yang diinginkannya. Ia berharap suatu saat orang tuanya akan kasihan kepadanya ketika melihat gambar tersebut dan lantas membelikannya mainan. Namun, karena gambar itu dibuat di buku dan di tembok ruang tamu rumah, Riyan justru kena marah.

“Saat SMP sering dipalak. Saat SMA, percintaan selalu kandas,” kata Riyan kepada Melisa Mailoa dari detikX.

Menyadari keluarganya tidak berkecukupan, Riyan menjadi tukang cuci mobil sejak sekolah menengah atas. Ia terus melakoni pekerjaan itu hingga kuliah semester akhir.

Pengalaman hidup tersebut rupanya mengasah Riyan untuk peka terhadap ketidakadilan dan membuatnya berani bersuara menyampaikan kritik. Kebetulan, saat masih kuliah, Riyan banyak bergaul dengan seniman jalanan. Maka hobi menggambarnya tersalurkan. Pada 2009, ia mulai membuat mural.

Mural Kali Opak
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Suatu saat, hatinya terusik ketika melewati Jalan Antasari, Jakarta Selatan. Hari itu banyak sekali pohon yang ditebang di sepanjang jalan tersebut karena akan dibangun jalan layang (flyover). Ia lantas membuat mural dengan tulisan “Demi Flyover, Pohon Game Over”.

Mural Riyan yang menyuarakan protes atas pembangunan jalan layang itu lantas menjadi pemberitaan. Tulisan itu dihapus dengan sengaja oleh pekerja jalan layang. Tapi Riyan kembali menuliskan protes itu berkali-kali. Ia berprinsip, dihapus satu, tumbuh sepuluh.

Kritik Riyan belum lama ini kembali muncul lewat mural “Jakarta Kelebihan Beban” di Jalan Inspeksi, di pinggir Kali Opak, Penjaringan, Jakarta Utara. Bersama komunitas seniman jalanan Trotoart, Riyan membuat mural di tembok yang menjadi pembatas antara Jalan Inspeksi dan halaman parkir gudang peti kemas.


Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Karakter The Popo dengan kritiknya "Jakarta Kelebihan Beban" muncul di tembok sepanjang 250 meter yang menggunakan warna dasar merah menyala. Kritik The Popo, si gundul bermata belok, bahwa Jakarta kelebihan beban terasa begitu mengena dengan kondisi di lokasi itu. Jalan yang sering dilewati truk besar pengangkut peti kemas yang keluar-masuk gudang memang benar-benar seperti tidak sanggup lagi menanggung beban.

Dalam membuat mural, Riyan tidak asal menggambar dan mencoretkan kalimat pada tembok. Ia melakukan observasi lebih dulu mengenai tempat yang akan dipakai untuk mural. Ia juga berbaur dengan warga sekitar untuk mengetahui keinginan warga.

Untuk membuat mural di Kali Opak itu, Riyan  bertemu dan mengobrol dengan warga setempat. Dari obrolan dengan warga itulah, dia menemukan ide untuk muralnya. Setelah 11 hari, melukis dan berinteraksi dengan warga, mural Kali Opak pun selesai. Pendekatan pada warga setempat juga dilakukan Riyan saat membuat mural untuk rumah Teletubbies atau rumah Domes di Dusun Nglepen, Desa Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta.

“Kolaborasi dengan warga itu penting. Jadi bisa memperlancar kerja di sana,” kata dosen komunikasi visual di sebuah kampus di Jakarta itu.

Mural dengan warna merah menyala dimaksudkan untuk menarik perhatian orang untuk melihatnya.
Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Keterlibatan warga juga menumbuhkan rasa ikut memiliki mural tersebut. Karena ikut memiliki, warga akan menjaga mural tersebut sehingga tidak dibiarkan rusak. Mural Riyan di rumah Domes, misalnya, sudah satu tahun tetap bagus, sementara ada mural yang dibuat warga Amerika Serikat di sana yang dibiarkan rusak.

Di rumah Domes, Riyan membuat mural The Popo memainkan gitar sayuran dan buah, dengan tagline “Berjuang Adalah Berkebun”.

Rasa ikut terlibat itu juga membuat warga membela Riyan bila ada hal-hal yang membahayakan. "Pernah didatangi polisi, tapi warga sekitar malah membantu gua," ujarnya.

Selain berbaur dengan masyarakat, Riyan menggunakan media sosial untuk mendapatkan ide. Misalnya untuk proyek Kali Opak, Riyan minta masukan dengan men-share-nya di Instagram. “Gua ngomong di Instagram kalau gua lagi butuh tiga kata tentang Jakarta yang diawali dengan kata ‘Jakarta’.”


Foto: Rengga Sancaya/detikcom

Ternyata hampir seribu komentar yang masuk. Dari banyaknya masukan itu, Riyan memilih dua, yakni “Jakarta Kelebihan Beban” dan “Jakarta Beton Belantara”.

Mural yang dibuat Riyan banyak yang mewakili suara warga yang keberatan terhadap pembangunan, kerusakan lingkungan, ataupun ketidakadilan. Meski demikian, Riyan dengan rendah hati menyatakan tidak merasa mewakili warga. Protes itu baginya merupakan suaranya. Ia memposisikan dirinya sebagai warga.

“Itu suara gua yang merupakan bagian dari warga. Bukan gua sebagai seniman yang datang ke warga dan menyuarakan.”

Riyan juga tidak terlalu berharap banyak dari mural yang dibuatnya. Ia tahu protes yang disuarakan lewat mural kadang tidak mengubah apa pun. Karena itu, ia pun tidak menjanjikan kepada warga sekitar mural bahwa lingkungan mereka akan lebih baik dengan adanya mural itu.

“Memang sih bukan berarti dengan mural gua bisa mengubah lingkungan itu jadi lebih baik. Tapi setidaknya kritik sudah disuarakan.”


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.