METROPOP

Suka-Duka ‘Ratu Cosplay’ Indonesia

Ia sering dihina karena kostum yang dikenakannya. Dicaci karena memerankan karakter seksi. Tapi ia tidak peduli.

Cosplay Nishikino Maki
Foto: Pinky Lu Xun

Rabu, 13 Juli 2016

Di mana ada cahaya, di situ ada bayangan. Selama 17 tahun, prinsip itulah yang menyelamatkan Pinky Lu Xun. Dengan prinsip tersebut, ia bertahan menghadapi apa saja demi hobinya ber-cosplay.

Pinky, yang sekarang mendapat julukan Ratu Cosplay Indonesia, terpesona pada cosplay karena kegemarannya main game. Pada 1998, Pinky tergila-gila pada karakter Athena Asamiya dari game PlayStation, King of Fighter. Pinky pun mencari-cari kostum Athena di Internet.

Saat mencari-cari kostum itulah, dia baru tahu tentang cosplay. Ia langsung penasaran dengan hobi memerankan karakter dalam komik ataupun anime itu. “Saya sangat ingin tahu seperti apa rasanya menjadi karakter anime atau game yang saya idolakan dalam sehari saja,” tutur Pinky kepada detikX.

Maka Athena Asamiya menjadi karakter pertama yang diperankan Pinky. Gadis berdarah Jawa ini dianggap aneh karena, pada 1998 itu, cosplay belum dikenal di Indonesia. Sebagai pioner cosplayer, ia sering sendirian ber-cosplay.

Orang tua Pinky bahkan menentangnya karena hobinya itu menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk membuat kostum dan segala pernak-perniknya. Tapi hobi Pinky tidak bisa dibendung lagi.

Cosplay Tomoe Yukishiro dan Himura Battosai
Foto: Pinky Lu Xun

Cosplay Kiriko
Foto: Pinky Lu Xun

Cosplay Nozomi Godess
Foto: Pinky Lu Xun

Cosplay dianggap Pinky sebagai seni untuk mengeksepresikan dirinya. Biaya bukan lagi halangan. Ia menyiasatinya dengan berbagai cara, misalnya mendesain dan membuat kostumnya sendiri. Ia pun belajar menjahit secara otodidak.

Selain memangkas biaya, membuat kostum sendiri juga lebih memuaskan. Pinky melakukannya semua sendiri dari proses pemilihan bahan sampai finishing-nya. Ia merasa hanya dirinya sendirilah yang paling mengetahui selera seni pribadinya.

“Biasanya saya menyukai karakter yang memiliki desain kostum yang unik dan menarik minat saya untuk membuatnya, atau karakter yang saya betul-betul suka,” ujarnya.

Pinky mencoba berbagai macam jenis karakter, mulai yang aneh, seram, kalem, antagonis, sampai yang seksi. Ia menikmati sensasi yang berbeda untuk tiap karakter. Baginya, setiap karakter akan menantangnya untuk mengeksplorasi kemampuan berakting dirinya. Hingga sekarang, sudah lebih dari 80 karakter yang Pinky perankan.

“Sekarang saya sangat menyukai berperan karakter lokal, seperti Mandodari dari Grand Legend Ramayana, saya sangat menyukainya karena kostumnya menggunakan kain batik,” kata Pinky.

Tidak jarang Pinky dicaci karena karakter yang diperankannya, terutama karakter yang berpenampilan seksi, seperti Himejima Akeno atau Miku Hatsune dari Sand Play Singing of The Dragon, yang kostumnya berbelahan dada rendah.

Cosplay Priest Halloween
Foto: Pinky Lu Xun

“Rata-rata komentar mereka mencela fisik atau pura-pura tidak senang pada karakter yang menggunakan busana minim,” kata perempuan yang kini berkarier sebagai arsitek dan tinggal di Australia ini.

Namun Pinky tidak terlalu ambil peduli terhadap kritik miring tersebut. Caci maki dianggapnya hanyalah pelengkap yang akan selalu hadir ketika ia melakukan sebuah karya. Kritik dan karya, menurutnya, ibarat cahaya dan bayangannya.

“Selagi mereka sibuk menghakimi saya, saya sibuk mengembangkan skill saya, mengasahnya agar lebih baik lagi ke depannya.”

Banyak hal menyenangkan yang didapat Pinky dari cosplay. Selain belajar menjahit dan mengembangkan bakat akting, cosplay membuatnya belajar fotografi. Lebih dari itu, ia pun mendapat banyak teman dan pengalaman.

Kini Pinky tidak hanya dikenal sebagai cosplayer Tanah Air. Namanya juga mulai diperhitungkan di event internasional. Ia kerap diundang ke berbagai event internasional di Filipina, Singapura, Malaysia, dan Australia. Bukan hanya sebagai peserta, tapi juga sebagai juri.


Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.