METROPOP
Cosplay: Dari Penasaran Jadi Ketagihan
Berkat cosplay, tiga gadis cantik ini menjadi terkenal, jalan-jalan keliling Indonesia, juga ke luar negeri.
Franzeska Edelyn Lim memerankan Reon
Foto: dok. pribadi
Para penggemar re:ON Comics pasti mengenal tiga gadis cantik ini: Franzeska Edelyn Lim, Matcha Mei, dan Clarissa Punipun. Merekalah cosplayer resmi tiga maskot re:ON, yakni Reon, Reyna, dan Oren.
Edelyn memerankan Reon, Matcha Mei menjadi Reyna (kakak
Reon), dan Clarissa Punipun menjadi Oren, kucing peliharaan Reon.
Ketiganya selalu hadir dalam setiap gelaran festival re:ON Comics Convention
atau disingkat re:Con.
Rasanya menarik bisa bergaya seperti karakter-karakter yang kita suka. Apalagi banyak desain karakter yang lucu-lucu."
Edelyn yang imut dan periang memang sangat pas memerankan karakter Reon. Chris Lie, pendiri re:ON, bahkan memuji bakat Edelyn. Di tangan Edelyn, Reon, karakter utama komik re:ON sebagai gadis 16 tahun yang muda, energetik, dan periang, benar-benar terwujud.
Edelyn sejak kecil menyukai komik, anime, dan artis Jepang. Suatu hari, saat masih sekolah dasar, ia membaca artikel tentang cosplay di sebuah majalah dan langsung berminat untuk menjajalnya.
“Rasanya menarik bisa bergaya seperti karakter-karakter yang kita suka. Apalagi banyak desain karakter yang lucu-lucu,” kata Edelyn.
Matcha Mei dan Clarissa Punipun juga tidak jauh beda dengan Edelyn. Mei, yang punya hobi main game, baca komik, dan menonton anime, langsung ketagihan begitu menjajal cosplay.
Edelyn
Foto: dok. re:ON Comics
“Ketagihan sampai sekarang. Kadang jadi seperti orang lain saat mendalami karakter dan berdandan. Seru banget,” kata mahasiswi graphic design yang mengawali hobi cosplay pada 2009 itu. Selain menjadi Reyna, berbagai macam karakter, seperti Sinon dari SAO dan Chitoge dari Nisekoi, diperankan Mei.
Sedangkan Punipun, sebelum tahu apa itu cosplay, hanya menyalurkan kegemarannya dengan menggambar karakter manga kesukaannya.
Ia suka cosplay karena mendapatkan sensasi tersendiri saat menjadi cosplayer.
“Saya merasa sangat senang dan thrilled saat meng-cosplay-kan karakter yang saya suka!” kata perempuan yang berkarir sebagai IT programmer ini.
Cosplay pertama Punipun dilakukan pada 2006 dan hingga sekarang ia sudah meng-cosplay-kan lebih dari 20 karakter.
* * *
Edelyn (kiri) dan Matcha Mei
Foto: dok. re:ON Comics
Berasal dari kata costume dan play, cosplay secara sederhana berarti memerankan karakter dalam komik atau anime. Si pelaku disebut cosplayer atau disingkat coser.
Di Indonesia, dulu cosplay sering diidentikkan sebagai hobi orang kaya. Maklumlah, zaman dahulu yang punya akses informasi apa yang sedang jadi tren di luar negeri adalah kalangan berduit. Dan mereka pulalah yang kemudian mengadopsi dan membawanya ke Tanah Air.
Sebelum tahun 2000-an, hanya segelintir orang yang menekuni hobi cosplay. Tidak aneh bila mereka merasa eksklusif dan keren.
Belakangan, cosplay berkembang pesat dengan makin rutinnya festival cosplay. Hobi ini pun tidak lagi elitis karena semakin disukai banyak kalangan.
* * *
Cosplay banyak mengubah hidup pelakunya. Wajarlah bila para coser, yang semula hanya karena penasaran, menjadi ketagihan. Hobi tersebut tidak sekadar mendatangkan kesenangan, tapi juga banyak manfaat lainnya, termasuk uang.
Punipun, misalnya, merasa cosplay telah membantu dirinya berubah dari tomboi menjadi feminin. Sebab, dengan cosplay, ia jadi mengenakan rok dan latihan menggunakan makeup.
Cosplay juga mengantarkan para coser belajar banyak hal, mulai menjahit kostum, menggunakan makeup, styling wig, hingga membuat kerajinan tangan untuk aksesori yang diperlukan.
Manfaat cosplay lainnya yang dirasa Punipun adalah berlatih seni peran, fotografi, kemampuan berorganisasi, bahkan menghasilkan uang.
“Memperkaya wawasan, koneksi, dan bisa menjadi salah satu sumber nafkah di sela-sela kesibukan sehari-hari,” kata Punipun.
Cosplay juga memberi peluang untuk traveling keliling Indonesia, bahkan ke luar negeri. Punipun mengikuti semua acara cosplay, baik di Jakarta, di daerah, maupun di luar negeri.
Di balik keseruan dan kesenangan, para cosplayer juga mengalami drama. Tidak jarang mereka di-bully bila kurang mirip dengan karakter yang diperankannya.
Tantangan cosplay memang bagaimana membuat coser semirip mungkin dengan karakter yang di-cosplay-kan. Pinky Lu Xun, yang sering menjadi juri lomba cosplay tingkat nasional dan internasional, membeberkan, penilaian cosplay ditentukan oleh kostum dan penjiwaan.
Matcha Mei dalam dua karakter berbeda
Foto: dok. re:ON Comics
Kostum biasanya meliputi kemiripan atau akurasi, kesesuaian dan kualitas bahan, serta kerapian pembuatan dan finishing.
Kemudian penjiwaan, apakah mirip dengan karakter dalam segi akting, dan tidak ketinggalan poin yang sangat penting adalah performance, apakah kreatif dan menarik atau tidak.
Berbagai upaya dilakukan agar coser bisa semirip mungkin dengan sang karakter. Misalnya, bila kurang tinggi, coser akan memakai sepatu hak tinggi. Bila badan terlalu gemuk, coser memakai korset, dan wajah dibikin semirip mungkin dengan strategi makeup.
Fitting untuk mencapai kostum yang paling sempurna buat dikenakan pun harus dilakukan. “Tidak semudah menggambarnya di kertas karena kita harus mengukur tingkat curve dan bagaimana cara kita bisa memakainya nanti,” kata Punipun.
Reporter/Penulis: Melisa Mailoa
Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.