METROPOP
Siapa yang mengira Dokter Ratih Citra Sari pernah kena kanker ganas. Perempuan berusia 35 tahun ini begitu energetik dan aktif.
Dokter Ratih mempraktekkan yoga di alam bebas
Foto: dok. pribadi
Ratih suka naik gunung dan susah membendung keinginannya mendaki meski usia tidak muda lagi. Pada 2013, misalnya, Ratih mendaki Gunung Aconcagua, gunung tertinggi di kawasan Amerika Latin, yang tingginya hampir 7.000 meter di atas permukaan laut.
Ratih juga keluar-masuk pedalaman karena menjadi pembawa acara Doctor Go Wild di stasiun televisi Kompas TV.
Dengan aktivitas seperti itu, banyak orang yang tidak akan percaya bu dokter ini pernah kena kanker. Bahkan dokter Singapura yang pernah merawat Ratih pun dibuat heran.
“Dokter saya di Singapura saja sampai kaget, kok penyembuhannya sangat luar biasa. Sampai kayak bukan orang yang bekas sakit,“ cerita Ratih ketika ditemui detikX.
* * *
Video: Budi Setiawan/20detik
Ratih terdeteksi terserang kanker sumsum tulang ganas atau polycythemia vera pada 2007. Saat itu Ratih masih berusia 27 tahun. Ia sungguh tidak menduga akan terkena penyakit tersebut karena penyakit berbahaya itu biasanya menyerang orang-orang yang berumur di atas 50 tahun.
Penerimaan seseorang akan penyakit yang diderita sangat membantu dalam penyembuhan."
“Memang agak aneh bisa tervonis penyakit ini. Kalau di dunia medis, istilahnya kok ini progresif banget. Belum dalam rentang usianya kok sudah masuk,” cerita Ratih.
Ratih awalnya terdeteksi stroke, tapi, ketika kemudian dicari penyebabnya, dokter tidak menemukan faktor risiko stroke pada Ratih. Ratih tidak kegemukan, tidak merokok, dan tidak mengidap diabetes atau hipertensi seperti umumnya orang yang berisiko stroke. Setelah diobservasi, diketahuilah ada masalah di sumsum tulang Ratih.
Suasana kelas yoga di BKS Iyengar Yogakshema, Serpong, Tangerang
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Sumsum tulang Ratih bereproduksi terlalu aktif sehingga sel darah putih dan sel darah merah sangat banyak. Akibatnya, menjadi gumpalan yang kemudian menyumbat saluran darah di kepala Ratih.
Ia lantas dirujuk untuk berobat ke Singapura. Di sana, Ratih ditangani secara konvensional dengan obat-obatan, menjalani kemoterapi oral, kemudian kemoterapi infus untuk menurunkan aktivitas sumsum tulangnya.
Setelah selesai pengobatan kemoterapi, Ratih kembali beryoga seperti kebiasaannya sebelum sakit. Tapi Ratih lantas memutuskan berfokus pada yoga Iyengar, yoga yang dibantu dengan sejumlah peralatan. Kepada instrukturnya, Erikar Lebang, Ratih menceritakan semua masalah kesehatannya.
“Yoga Iyengar itu, kalau buat saya, dikhususkan gerakan yang lebih ke produksi sumsum tulang,” ujar Ratih.
Ratih dan sang instruktur awalnya banyak melakukan trial and error. Mereka menggabungkan logika dari pengetahuan Erik dan pengetahuan kesehatan Ratih, yang berlatar belakang sebagai dokter.
Ratih melakukan yoga secara rutin, lima kali dalam seminggu, dengan lama latihan 1,5 jam.
Rita Kosasih, pemilik BKS Iyengar Yogakshema, Serpong, Tangerang
Foto: Rachman Haryanto/detikcom
Dengan yoga, pemulihan kesehatan Ratih jauh lebih bagus. Setelah dua tahun berlatih yoga secara intensif, laporan laboratorium tentang darah dan biopsi Ratih menunjukkan hasil yang sangat baik.
“Pertumbuhan sel-sel kanker ganas dalam sumsum tulang hilang sama sekali. Kemudian kemoterapinya juga sudah tidak perlu diteruskan lagi.”
Ratih akan terus melakukan yoga meskipun sudah sembuh. Memang sungguh latihan yang berat dan melelahkan, tapi ia sudah berkomitmen untuk tetap sehat.
* * *
Keajaiban yoga juga dirasakan Rita Kosasih. Di lehernya masih tersisa bekas operasi untuk menyembuhkan kanker tiroid yang dideritanya.
Lima tahun lalu Rita, seorang guru yoga, nyaris tidak percaya ia terkena kanker. Ia merasa sudah menerapkan pola hidup yang sehat. Namun kemudian ia sadar kanker bisa menyerang siapa saja, tidak pandang bulu.
“Saya awalnya ya tetap enggak nyangka, tapi enggak lama. Sebab, dengan yoga, saya mengerti bagaimana meng-handle diri sendiri,” kata Rita.
Sambil menjalani pengobatan medis, Rita kemudian membuat pose-pose yoga yang bisa mengurangi rasa sakit dan meringankan tubuh. Hasilnya, tiga bulan kemudian, ia bisa beraktivitas seperti biasa.
“Bulan Maret awal saya operasi, bulan Juni sudah ngajar lagi,” kata pemilik BKS Iyengar Yogakshema, Serpong, Tangerang, ini.
“Lalu bulan Juli saya ke India lagi tiga bulan buat belajar. Cepat, kan? Nah itulah miracle-nya yoga yang saya alami sendiri,” sambung Rita.
Maka Rita pun percaya yoga sangat membantu untuk penyembuhan kanker. “Tergantung sakit kankernya apa. Lagi dalam masa pengobatan atau survivor kanker.”
Bagi yang masih dalam masa pengobatan bisa ikut private class. Kelas ini mengajarkan muridnya menerima kenyataan, seburuk apa pun, kemudian menghadapi proses penyembuhan. Penerimaan akan penyakit yang diderita sangat membantu dalam penyembuhan.
Untuk yang survivor atau yang sudah sembuh dari kanker, bisa ikut kelas yoga reguler. Diingatkan Rita, yang namanya kanker, walaupun sudah dinyatakan sembuh, masih bisa muncul lagi. “Makanya mereka perlu menjalankan yoga terus-menerus secara teratur.“
Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.