METROPOP
Panjat dinding dulu didominasi laki-laki. Kini tidak sedikit perempuan yang menekuni hobi ini. Bahkan menjadi atlet dan menorehkan prestasi di dunia internasional.
Tita Supita (kerudung hitam) dan Syarifah Abdul Rohman
Selasa, 14 Juni 2016
Belasan pemuda-pemudi tengah serius berlatih di Gedung Olahraga Soemantri Brodjonegoro, Jakarta Selatan. Mereka berlatih merintis panjatannya dari beberapa point yang terpasang pada tebing buatan. Mencoba memilih pijakan kaki dan meraih pegangan yang tepat sebagai tumpuan.
Sesekali terdengar teriakan, lantas sesosok tubuh melayang jatuh tapi tidak sampai terempas ke tanah. Tubuhnya tertahan tali pengaman. Jatuh sudah seperti menjadi hal yang biasa bagi mereka. Tidak ada kapok, mereka terus dan terus mencoba lagi mencapai puncak dinding belasan meter pada sore itu. Sepanjang hari hal itu dilakukan, lima hari dalam sepekan.
Latihan bahkan masih terus diintensifkan walau turun hujan. Namun kegiatan panjat-memanjat dipindahkan ke ruangan tertutup di dalam GOR. Jemari mereka seakan sudah mati rasa terhadap luka-luka kecil. Otot tangan dan kaki mereka jelas menunjukkan merupakan hasil latihan keras.
Panjat dinding memang memerlukan kekuatan dan kelenturan untuk mencapai puncak. Dibutuhkan juga keberanian dan kemampuan khusus untuk menyelesaikan panjatan demi panjatan. Olahraga ekstrem ini bahkan menantang kemampuan beradu cepat di kalangan pemanjat.
Tali pengaman berfungsi sebagai penahan ketika pemanjat mengalami kelelahan dan tak mampu lagi bertahan di dinding.
Foto: Grandyos Zafna/detikcom
Di antara belasan atlet, dua atlet wanita berkerudung mencuri perhatian. Keduanya adalah Tita Supita, 28 tahun, dan Syarifah Abdul Rohman, 22 tahun, atlet prioritas DKI Jakarta. Keduanya menjadi andalan DKI Jakarta untuk meraih medali emas dalam Pekan Olahraga Nasional XIX di Jawa Barat, September mendatang.
Dibandingkan olahraga ekstrem lain, panjat tebing lebih safe dan murah. Kalau downhill itu mahal, lagi pula gampang cedera parah."
Tita dan Syarifah sering didaulat mewakili DKI Jakarta mengikuti kejuaraan nasional maupun internasional. Medali perak hingga emas dari beberapa kejuaraan nasional dan internasional sering mereka bawa pulang sebagai bukti latihan keras.
Syarifah mengenal panjat tebing sejak di bangku sekolah dasar. Waktu itu dia diajak kakaknya, yang kebetulan atlet panjat tebing. Setelah jatuh hati pada kegiatan panjat-memanjat ini, dia pun serius menekuninya. Hasilnya, saat duduk di bangku sekolah menengah pertama, ia mampu masuk tim pelatihan daerah lapis kedua.
Berbeda dengan Syarifah, Tita baru menyukai panjat tebing ketika kuliah di Universitas Negeri Jakarta. Awalnya dia diperkenalkan oleh seniornya. Lantas dia menyukai karena memiliki peluang meraih prestasi di panjat tebing.
Tita sebelumnya juga telah mencoba olahraga ekstrem lain, seperti sepeda downhill. Namun, menurut dia, panjat dindinglah yang paling pas bagi dia untuk diseriusi. “Dibandingkan olahraga ekstrem lain, panjat tebing lebih safe dan murah. Kalau downhill itu mahal, lagi pula gampang cedera parah,” ujarnya.
Tita semakin serius menekuni panjat dinding mengingat peluang untuk berprestasi masih terbuka lantaran tidak ada batasan usia. Olahraga ini juga memiliki usia berkarier terbilang cukup panjang. Tita pun menegaskan ingin mendulang banyak emas dari cabang panjat dinding pada PON XIX nanti. "Harapannya, PON kali ini dapat banyak emas," ujarnya.
Baik Tita maupun Syarifa mulai mengikuti seleksi sejak April 2013. Federasi Panjat Tebing DKI Jakarta membuka perekrutan dengan sistem terbuka guna menjaring atlet panjat tebing berbakat. “Siapa pun warga DKI yang senang dengan panjat tebing, baik yang profesional maupun baru coba, kita tes,” ujar Hendra Basir, pelatih panjat tebing kontingen DKI Jakarta.
Sebanyak 60 peserta seleksi mengikuti tes bertahap. Hendra dan tim melihat dari sisi komponen fisik hingga kemampuan memanjat pada tahap awal. Selanjutnya difokuskan pada motorik, lalu keberanian peserta. "Ini olahraga tantangan. Kalau sudah berani, masalah lain biar kita yang bentuk," kata Hendra.
Jadi ada tiga pengukuran pada tahap awal: psikologi, biomotorik, serta kemampuan memanjat. Barulah, dari sekian banyak peserta yang ikut tes, ada 29 atlet yang terpilih. Sampai sekarang, tersisa 17 atlet untuk mengikuti 18 nomor perlombaan. Menurut Hendra, semua itu terjadi karena seleksi alam. "Gugur sendiri karena merasa kalah bersaing mengundurkan diri. Ada juga faktor mau fokus kuliah dan kerja," ujarnya.
Tangan menjadi tumpuan ketika pemanjat mesti bergelantungan.
Foto: dok. pribadi Syarifah Abdul Rohman
Pemanjat harus cermat memilih point sebagai pegangan atau pijakan berikutnya.
Foto: dok. pribadi Syarifah Abdul Rohman
Atlet panjat tebing itu, menurut Hendra, haruslah memiliki fokus tinggi. Sesi latihannya saja seminggu lima hari latihan, pagi dan sore. Hal itu tentu menguras waktu dan energi. "Sikap kita ini harus profesional, ini adalah pekerjaan kita, ini adalah hobi yang dibayar. Ada tuntutan dari masyarakat Jakarta bahwa panjat tebing harus berprestasi juga di PON," tuturnya.
Soal kecelakaan dalam latihan, pihaknya selalu mengikuti prosedur keamanan yang ada. Kalau ada yang tidak benar, segera diluruskan. Hal kecil sangat diperhatikan. Kalau anchor tali pengaman atau harness diperhatikan, itu sangat membantu agar pemanjat tetap aman dan nyaman. Namun luka kecil akibat sering berpegangan pada point di dinding jadi hal biasa.
Syarifa sepertinya sudah terbiasa dengan kerasnya pegangan di dinding. Lebih tepatnya kapalan. "Kalau sakit tidak akan terasa, sudah tidak mikir perih lagi, tapi lebih memikirkan bagaimana menyelesaikan jalur secepat mungkin," ujar perempuan dengan berat badan 46 kilogram dan tinggi 155 sentimeter itu.
Panjat tebing adalah persoalan mengatur kekuatan supaya kuat sampai atas. "Yang diatur gerakan bagaimana agar lebih efisien, memasang runner knee (pengaman) tidak boros terhadap tenaga kita," ujar perempuan yang menjadi andalan di nomor boulder ini. Apa pun kategori lombanya, baik adu jauh (lead), adu banyak point (boulder), maupun adu cepat (speed), pemanjat haruslah seefisien mungkin dalam menyelesaikan panjatan.
Instruktur mengarahkan pemanjat pemula sekaligus memastikan keamanannya.
Foto: Fakhriyani Shafariyanti (magang)
Soal adu cepat, Tita Supita pernah mencatatkan diri sebagai kedua terbaik di level internasional. Dia mencatatkan waktu terbaik kedua di ajang World Extreme Games di Yang Pu District, Shanghai, 30 April 2014. Tita, dengan berat badan 48 kilogram dan tinggi 156 sentimeter, membukukan waktu terbaik kedua, yakni 24,86 detik dari dua panjatan. Dia hanya kalah cepat dari atlet panjat tebing asal Kazakstan, Tamara Kuznetsova, yang mencatatkan waktu 32,94 detik.
Perempuan asal Subang, Jawa Barat, ini pernah menorehkan waktu panjatan 8,96 detik setinggi 15 meter. Tita pun sering menjadi andalan di nomor speed klasik. "Kalau speed itu cepat-cepatan, diadu sama orang lain. Dari start sampai finis, harus tetap fokus membaca jalur," ujarnya. Pada kejuaraan tingkat nasional dalam Piala Wali Kota Surabaya pada April 2016, Tita berhasil jadi yang tercepat di final dengan waktu 17,28 detik yang terbagi 7,85 detik pada jalur 1 dan 9,43 detik pada jalur 2.
Reporter/Penulis: Isfari Hikmat
Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Fuad Hasim
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.