METROPOP

Lari & Mengumpulkan Amal Miliaran

“Kalau enggak begini, kapan lagi mau nolongin orang? Istilahnya, (saya) konglomerat juga bukan.”

Pemberian penghargaan dari murid SDN Gajah Depa, Sumedang, kepada Vonny Anggraini, peserta run for charity.
Foto: dok Fakerunners

Selasa, 17 Mei 2016

Lari tidak hanya menyehatkan, tapi juga bisa menyebarkan kebaikan. Para pelari yang tergabung dalam gerakan run for charity buktinya.

Salah satunya Dolly Lesmana. Managing director di Arka Media-Entrepreneur Festival ini suka lari. Namun ia tidak mau lari cuma-cuma karena melakukan sesuatu tanpa tujuan bakal membosankan.

Lulusan sebuah universitas di Boston, Amerika Serikat, itu tahu di luar negeri banyak lari dijadikan ajang penggalangan dana. Ketika ia pulang ke Jakarta, ternyata acara Jakarta Marathon belum difungsikan untuk penggalangan amal.

Tahun kemarin, biar gampang, orang yang lari full marathon harus cari Rp 4 juta, yang 10 km sama 5 km Rp 1 juta."

Maka Dolly pun mengajak kerja sama Jakarta Marathon 2013 untuk memberinya ruang bagi orang yang ingin lari dengan tujuan amal. Jakarta Marathon setuju dan memberi 10 nomor peserta untuk diisi run for charity yang dimotori Dolly.

Dolly lantas mengajak berbagai macam komunitas lari untuk ikut bergabung dalam run for charity. Para pelari yang ikut gerakan ini akan berkampanye menggalang dana di media sosial bahwa mereka sedang ikut lomba lari untuk amal. Hasilnya akan diserahkan ke Yayasan Hoshizora untuk disalurkan dalam bentuk bantuan pendidikan.

Untuk ikut Jakarta Marathon, jumlah sumbangan yang akan digalang dihitung berdasarkan kilometer yang mereka ikuti. Per kilometer dihargai Rp 100 ribu. Jadi, bila ikut lomba lari untuk 42 kilometer, total donasi yang harus dicari minimal Rp 4,2 juta.

“Tahun kemarin, biar gampang, orang yang lari full marathon harus cari Rp 4 juta, yang 10 km sama 5 km Rp 1 juta,” ujar Dolly.

Memang tidak mudah menumbuhkan kepercayaan orang untuk memberikan sumbangan lewat lari. Namun pelan-pelan orang mulai percaya, dan sumbangan yang masuk terus meningkat.

Peserta Friday Night Run di tengah pekerja kantoran yang pulang kerja
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Pada 2014, lewat Jakarta Marathon, Dolly dkk mampu mengumpulkan Rp 67 juta. Tahun berikutnya bahkan naik sampai lima kali lipatnya, yakni Rp 376 juta.

Tahun 2015, run for charity diikuti 87 pelari dari 14 komunitas. Untuk 2016, Dolly menargetkan jumlah peserta 125-150 pelari. Dolly ingin memperbanyak peserta lari untuk amal agar donasi yang masuk lebih besar, sehingga orang yang diberi bantuan pun bisa lebih banyak. Ia percaya akan ada banyak orang yang terinspirasi ikut gerakan ini. “Bagaimana lari bisa menginspirasi orang untuk beramal, that’s amazing,” kata Dolly.

Lari untuk amal juga dilakukan oleh Denny Pasaribu. Pendiri komunitas lari Fakerunners ini yakin lari bisa menggerakkan kebaikan. Ia merasa, hanya mengandalkan gaji dari pekerjaannya tidak akan bisa membantu banyak orang yang membutuhkan.

“Kalau enggak begini, kapan lagi mau nolongin orang? Istilahnya, (saya) konglomerat juga bukan,” kata Vice President Commercial & Marketing fX Sudirman ini.

Selain dengan Jakarta Marathon, Fakerunners bekerja sama dengan NusantaRun. Dengan NusantaRun, Fakerunners menggalang sumbangan untuk anak-anak putus sekolah. Berpartner dengan Gerakan Nasional Orang Tua Asuh (GNOTA), sumbangan diberikan kepada sekolah-sekolah yang dilewati para pelari.

Peserta Friday Night Run menyeberang jalan lewat zebra cross. 
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Untuk menggalang sumbangan, Denny memperkenalkan profil dirinya lewat media sosial dan grup-grup yang dia ikuti. Ia menceritakan di mana saja pernah ikut lari agar orang-orang percaya dia memang lari untuk amal.

Denny mengaku, tidak mudah mengajak orang memberikan sumbangan. Ia pernah ditolak dan ditertawakan ketika mengajak orang untuk ikut menyumbang.

“Atau ada yang nyeleneh ngatain gua, ‘Mentang-mentang udah jadi bos lu, sekarang baru ngomong. Dulu ke mana aja?’” cerita Denny.

Menghadapi segala rintangan itu, Denny kembali pada niat semula bahwa ia menggalang sumbangan lewat lari demi kebaikan. Ia pun yakin semua yang ia lakukan tidak akan sia-sia.

Dolly Lesmana (tengah) bersama peserta lari dalam sebuah acara
Foto: dok. pribadi via instagram

Untuk NusantaRun chapter 3, Denny pribadi berhasil mengumpulkan Rp 17 juta. Sedangkan Fakerunners di NusantaRun chapter 3 itu mampu mengumpulkan Rp 1,3 miliar.

Denny, yang pernah kena serangan jantung saat lari, ikut lari sejauh 135 kilometer di NusantaRun chapter 3. Meski sakit jantung, ia yakin bisa menyelesaikan jarak yang harus ditempuhnya karena ia tidak sendirian. Ia didampingi sang pelatih, Fery Junaedi. Selama lari, peserta juga dikawal ambulans, yang mengikuti siap menolong peserta bila ada masalah kesehatan.

Februari lalu, Denny menjalani operasi pasang ring di jantung. Sang dokter mengingatkannya agar tidak lari lebih dari 20 kilometer dalam seminggu. Meski larinya tidak bisa sejauh dulu, Denny berketetapan hati untuk aktif di run for charity.

“Cuma, I have to be in a circle. Saya punya visi, lari bisa do something good for others kan. Kalau saya enggak ada di dalam circle, gimana mau impact ke orang lain?”

Vonny Anggraini juga ikut lari untuk amal. Dalam NusantaRun chapter 3, ia berlari sejauh 135 kilometer bersama Monique Hardjoko. Mendapat target mengumpulkan sumbangan Rp 5 juta, Vonny justru melampauinya dengan berhasil menggalang sumbangan Rp 15 juta.


Peserta mengikuti kegiatan Friday Night Run yang diselenggarakan Fakerunners. 
Foto: Grandyos Zafna/detikcom

Ke depan, Dolly merencanakan agar para pelari tidak lagi dibebani tugas mencari donasi. Para pelari cukup mempersiapkan diri dan ikut lomba lari. Mencari donasi akan dilakukan pihak lain.

Selain itu, sumbangan tidak lagi hanya berbentuk uang, tapi juga barang yang bermanfaat untuk pendidikan, mulai kaus, sepatu bekas, tas, sampai buku.


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.