METROPOP
Bayaran ilustrator buku anak di Indonesia masih rendah. Masih belum dianggap urgensinya.
Ilustrasi: Evi Shelvia
Kamis, 14 April 2016Lebih baik lapar daripada menerima bayaran yang terlalu rendah. Demikian prinsip ilustrator buku anak Evelyn Ghozali.
Evelyn tak mau kerja kerasnya tidak dihargai secara pantas. Maka beberapa kali ia menolak tawaran membuat ilustrasi buku anak yang tidak memberinya honor yang layak.
Evelyn yakin semua ilustrator profesional akan bersikap sama dengan dirinya. Sudah seharusnya ilustrasi dihargai tinggi. Sebab, dalam mengerjakan sebuah ilustrasi, Evelyn bekerja dengan serius dan mempertaruhkan namanya.
Kami selalu bahas honor di grup. Tapi diusahakan (hal itu) tidak jadi pusat masalah terus."
“Bukan bermaksud sombong, tapi saya kerja serius. Kalau itu tidak bisa menghidupi dan menghargai kerja saya, ya buat apa saya terima?” kata Evelyn kepada detikX.
Evelyn tidak takut hidupnya akan susah karena menolak membuat ilustrasi berbayaran rendah. Sebab, selain menjadi ilustrator buku anak, ia bisa menjadi desainer grafis dan membuat ilustrasi untuk iklan.
“Tapi tidak semua saya tolak. Bila prospeknya cerah dan tujuannya untuk sesuatu yang mulia, meski dibayar tidak tinggi, saya tetap mau mengerjakannya,” ujar ilustrator puluhan buku anak ini.
Masalah honor memang selalu menjadi diskusi yang panas di Kelompok Ilustrator Buku Anak (Kelir). Ilustrator merasa mereka kurang dihargai, dan honor mereka pun kecil. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan ilustrator, penerbit sering semena-mena membayar ilustrasi mereka. Bila ada yang menolak dibayar murah, penerbit akan mencari ilustrator lain. Dan anehnya, banyak ilustrator yang mau dibayar murah.
“Kami selalu bahas honor di grup. Tapi diusahakan (hal itu) tidak jadi pusat masalah terus. Saya tetap mengusahakan, walaupun honor masih kecil, kita bisa buat masa depan lebih cerah dengan berkarya yang lebih baik,” kata Evelyn, yang menjadi pendiri Kelir. Selain menjadi wadah berdiskusi, Kelir menggelar workshop untuk meningkatkan kemampuan para ilustrator.
Evi Shelvia, ilustrator buku anak Indonesia yang tinggal di Malaysia, mengungkapkan honor ilustrator buku anak Indonesia lebih murah dibanding di Malaysia. “Kalau di Malaysia, paling rendah itu per lembar 60 ringgit, di Indonesia bisa cuma sepertiganya,” kata Evi kepada detikX.
Dengan honor ilustrator kecil, ilustrasi Indonesia bakal sulit berkembang. Banyak ilustrator yang menyiasatinya dengan membuat bank gambar, sehingga hasil tidak maksimal. Selain itu, tidak sedikit ilustrator yang lebih suka menggarap ilustrasi untuk buku asing dengan bayaran memadai daripada buku anak dalam negeri, yang bayarannya murah. “Bayar murah kok berharap bagus?” ujar Evi, yang mengerjakan buku anak penulis Amerika Serikat, Carole M. Amber.
Evelyn ingin ada sistem yang adil untuk ilustrator buku anak. Sistem itu adalah sistem pemberian uang muka (down payment) sebelum proyek ilustrasi selesai dan dilanjutkan dengan pemberian royalti.
“Kami kerja selalu mengeluarkan modal, baik itu kertas, tinta, komputer, perangkat hardware. Dan waktu. Waktu inilah yang paling banyak terpakai untuk ilustrator,” kata Evelyn.
Renata Owen menyarankan para ilustrator tidak takut meminta honor yang layak. Ilustrator untuk buku anak yang ditulis Clara Ng, Dru dan Kisah Lima Kerajaan, itu mengaku mendapatkan bayaran yang layak dari buku tersebut. Royalti untuk buku itu dibagi tiga antara Clara, Renata, dan Shanty Harmayn.
“Menurut aku, kalau harga tidak sesuai, kita bisa negosiasi. Meski pemula, aku tidak takut memasang harga yang tinggi kalau memang karyaku berkualitas,” kata Renata.
Evi Shelvia
Foto: dokumen pribadi
Renata Owen dan ilustrasi di buku Dru dan Kisah Lima Kerajaan yang dibuatnya.
Foto: Iin Yumiyanti/detikX
Dalam diskusi di Kelir juga banyak dikeluhkan honor yang tidak kunjung naik meski sudah menggarap proyek bertahun-tahun. Ada ilustrator yang sudah lima tahun bekerja pada penerbit yang sama tapi nilai honornya masih sama.
Kondisi buruk lainnya, ilustrasi masih dianggap hanya sebagai pemanis buku. Nama ilustrator bahkan sering tidak dicantumkan pada buku yang memakai ilustrasinya.
Penerbit-penerbit besar menyatakan sudah menghargai ilustrator buku anak. General Manager PT Gramedia Pustaka Utama Siti Gretiani mengatakan pihaknya menganggap ilustrator sama pentingnya dengan pengarang.
Selama ini honor untuk ilustrator, jika menggunakan sistem royalti, sama dengan yang diterima pengarang. Tapi sebagian besar ilustrator memilih sistem honor per halaman atau beli-putus. Mereka langsung mendapat honor di muka tanpa harus menunggu hasil penjualan buku yang dikerjakannya.
Rengga Adhiwena Bintoro/Kelir
Aaron Randy/Kelir
Cecilia Hidayat/Kelir
“Banyak yang pilih dibeli-putus karena mungkin, ketika dihitung, akan lebih menguntungkan mereka mengingat penjualan buku anak lokal saat ini tidak terlalu besar dan cetakan pertama berkisar 3.000-5.000 buku,” kata Greti kepada detikX.
Dengan sistem beli-putus, honor yang diterima ilustrator kurang-lebih sama dengan royalti cetakan pertama dan cetakan kedua.
Gramedia memiliki sekitar 30 ilustrator buku anak. Nama ilustrator juga selalu dicantumkan pada cover buku. “Honor, kalau dihitung per lembar, sekitar Rp 300 ribu sampai Rp 1 juta. Itu tergantung kualitas ilustrasi,” ujar Greti.
Penerbit Mizan juga mengatakan sudah mengapresiasi para ilustrator buku anak yang bekerja sama dengan mereka. Menurut Koordinator Jual Beli Copyright Penerbit Mizan Yuliani Liputo, Mizan memiliki 12 ilustrator freelance. Mereka dibayar per proyek, satu gambar dibayar Rp 200-400 ribu. Semakin berpengalaman seorang ilustrator, honornya semakin tinggi. “Tergantung popularitas ilustratornya juga,” kata Yuli.
Mengenai keluhan ilustrator bahwa mereka sering dianggap hanya pemanis buku, menurut Yuli, hal itu karena konsumen kurang menghargai buku yang lebih banyak gambar dan kurang teks. Sedangkan penerbit, yang menginginkan bukunya terjual, memilih mengikuti selera konsumen. Tapi, sedikit demi sedikit, saat ini penerbit mulai mengeluarkan buku yang lebih mengutamakan gambar. Di Mizan juga mulai ada lini Picture Book dengan ilustrasi yang kuat. “Perlu edukasi konsumen dan produsen terus-menerus, untuk mengapresiasi ilustrasi,” kata Yuli.
Reporter/Penulis: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban
Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.