METROPOP

Para Penerus Bruce Lee di Jakarta

Belajar eskrima karena merasa jago bela diri saja kurang sempurna. Bela diri dengan memakai senjata di kedua tangan lebih mantap. Perkasa seperti Bruce Lee.

Ilustrasi: Luthfy Syahban

Kamis, 7 April 2016

Dengan dua tongkat di tangan kanan dan tangan kiri, Bruce Lee lincah menghajar belasan sipir penjara. Satu per satu sipir penjara pun tersungkur kena pukulan tongkat Lee.

Lincah memainkan senjata seperti Lee itulah yang diimpikan Arry Gautama. Ia sudah mahir bela diri, ia jago karate, taekwondo, juga silat. Namun mahir bela diri saja, terlebih hanya mengandalkan tangan kosong, Arry merasa masih kurang sempurna. Ia juga ingin piawai berkelahi dengan senjata.

Kebetulan pada 2008, Arry bertemu dengan Melecio O Balberde. Pria asal Filipina ini adalah grand master bela diri eskrima, yang memimpin Casasai, lembaga yang mengajarkan eskrima.

Balberde, yang sering bolak-balik Jakarta-Filipina, ingin eskrima dikembangkan di Indonesia. Arry pun lantas dijadikan muridnya. Ketika Arry dirasa sudah mahir, Balberde pun meminta Arry membuat tim untuk mempromosikan eskrima di Jakarta.

Eskrima memang belum begitu populer. Banyak orang yang tidak menyadari aksi Bruce Lee dengan senjata tongkat dalam film Enter the Dragon dan Game of Death adalah jurus-jurus eskrima.

Arry Gautama, pelopor eskrima di Indonesia
Foto: Ari Saputra/detikcom

Ikon film martial art ini mengenal eskrima dari Dan Inosanto, keturunan Filipina-Amerika yang menjadi teman dekatnya. Lee, yang ahli kungfu, terpesona pada bela diri ini karena mudah dikombinasikan dengan bela diri lainnya. “Sangat keren!” kata Lee seperti ditirukan oleh Inosanto saat pertama kali melihat sang kawan memperagakan eskrima.

Setelah Lee, eskrima masih terus digunakan dalam koreografi film-film action Hollywood, misalnya Mission: Impossible 3 dan Fast and Furious 7.

Bela Diri Berbahaya

Eskrima berasal dari Filipina, yang dikenal dengan nama arnis, artinya kepanjangan tangan. Para petanilah yang mula-mula belajar dan menguasai bela diri ini. Saat itu eskrima dipakai sebagai perlindungan diri dari serangan desa-desa lain.

Saat Spanyol kemudian menjajah Filipina, seorang pendiri eskrima, Datuk Lapu Lapu, memimpin pemberontakan dan berhasil mengalahkan pasukan Spanyol. Dari pemberontakan inilah eskrima kemudian dikenal sebagai ilmu bela diri yang berbahaya.

Dalam perkembangannya, senjata diganti dengan tongkat rotan, yang disebut baston, karena Spanyol melarang penggunaan senjata tajam.

Arry berlatih eskrima dengan muridnya.
Foto: Ari Saputra/detikcom

Saat mengenal eskrima, Arry sebenarnya sudah mempunyai pekerjaan yang mapan. Ia bekerja sebagai manajer teknologi informasi di sebuah perusahaan multinasional asal Kanada. Tapi pekerjaan itu lantas ditinggalkan Arry demi eskrima.

“Biar lebih fokus. Saya punya prinsip, kalau saya mengerjakan sesuatu, berarti itu harus selesai,” kata Arry kepada detikX di Elite Club Epicentrum, Kuningan, Jakarta.

Arry pun yakin bisa berkarier dengan menjadi guru eskrima. Ia awalnya ia mendirikan kelas di Ciledug, Kota Tangerang, Banten. Sekarang semakin berkembang, ia sudah punya kelas di tiga tempat: Elite Club Epicentrum, Bumi Serpong Damai, dan Kelapa Gading.

Murid Arry jumlahnya ratusan. Mereka rata-rata kelas menengah atas dengan posisi jabatan yang sudah tinggi, dari direktur perusahaan sampai pemilik perusahaan, juga artis.

Arry tidak pernah menyesal meninggalkan jabatan sebagai manajer. Ia merasa hidupnya yang kini berubah 180 derajat itu lebih menyenangkan.

“Kerja bisa jadi menyenangkan karena itu hobi kita. Dengan begini, saya banyak ketemu dengan orang hebat. Saya bisa kerja sama dengan orang hebat,” tutur Arry.

Aksi Bruce Lee dalam salah satu filmnya.
Video: YouTube

Pakai Senjata Dulu, Baru Tangan Kosong

Mereka yang ingin bergabung dengan eskrima harus punya bekal bela diri. Untuk latihan awal, eskrima justru langsung mengajarkan berkelahi dengan menggunakan senjata.

Bila sudah mahir menggunakan senjata, murid baru diajari bela diri dengan tangan kosong. “Sebab, kalau kita mau melawan senjata, kita harus tahu konsep senjatanya dulu,” ujar Arry.

Senjata eskrima bermacam-macam, yang paling terkenal adalah baston, yakni tongkat rotan. Panjangnya 70 cm dan dipakai di dua tangan. Kemudian ada pisau. Pisau ini tajam di dua sisi. Senjata pun tidak cuma satu, tapi dua. Sebab, prinsip eskrima, kalau tangan kiri terluka parah, tangan kanan masih bisa bertahan.

Karena, ketika kita menyerang, berarti kita harus siap bertahan, menangkis. Ketika diserang, kita harus menangkis dan menyerang balik."

Arry Gautama

Eskrima lebih menekankan latihan refleks, refleks diserang dan refleks menyerang. Tidak seperti dalam silat, yang lebih mengajarkan tindakan defensif, eskrima, yang terpengaruh silat, mengajarkan murid bertindak ofensif dan defensif.

“Karena, ketika kita menyerang, berarti kita harus siap bertahan, menangkis. Ketika diserang, kita harus menangkis dan menyerang balik,” tutur Arry.

Bruce Lee dalam film The Way of the Dragon, 1972
Foto: YouTube

Majalah Pun Jadi Senjata

Fadil Muhamad sudah setahun ini belajar bela diri eskrima. Ia datang ke Elite Club Epicentrum, Kuningan, setiap Jumat sepulang kerja.

Awalnya pria berusia 20 tahun ini ingin belajar silat untuk pertahanan diri. Tapi, oleh sang guru, Arry Gautama, ia disarankan ikut latihan eskrima.

Tenaga sales marketing di jasa travel haji ini pun tertarik karena eskrima memanfaatkan seluruh tubuh dan menggunakan senjata. Dalam eskrima, senjata yang dikenal berupa tongkat rotan. Namun sebenarnya semua benda atau barang bisa dijadikan senjata.

“Contohnya pulpen. Kalau di jalan ada yang iseng atau apa, pakai pulpen atau majalah yang sedang kita pegang, itu bisa digunakan untuk perlindungan diri,” kata Fadil.

Pria yang tinggal di Ciracas, Jakarta Timur, ini sudah merasakan manfaat berlatih eskrima. Tubuhnya terasa lebih bugar. “Kan latihan malam, nah pas bangun tidur badan itu segar,” kata Fadil.

Latihan eskrima dengan menggunakan tongkat rotan
Foto: Ari Saputra/detikcom

Ben Wirawan terpikat pada eskrima juga karena bela diri ini menggunakan senjata. Sebelum belajar eskrima, Ben sebenarnya piawai dengan krav maga, bela diri asal Israel. Namun ia merasa perlu melengkapi diri dengan belajar menggunakan senjata.

Kini, empat tahun belajar eskrima, Ben mendapatkan sabuk hitam dan mulai membantu mengajar eskrima.

Bagi Ben, eskrima membuatnya lebih sehat dan waspada bila ada ancaman kejahatan. “Kalau kemampuan untuk berkelahi, itu nomor sekianlah.”

Sedangkan Arry merasa eskrima mengajarkan persahabatan dan disiplin. “Ibaratnya, kalau kita menekuni ini, kita jangan setengah-setengah. Kalau kita punya sesuatu, kita harus jelas.”

Eskrima membawa Arry terlibat dalam sejumlah film. Awalnya ia terlibat sebagai pemain dalam film The Raid 2. Lalu, dalam film Skakmat (2015), ia berperan sebagai pemain dan koreografer.


Reporter: Ibad Durohman
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.