METROPOP

Cerita di Balik
Tenun Pelangi

Setagen pelangi berhasil menguatkan perekonomian masyarakat Sleman. Diharapkan bisa menyelamatkan lingkungan.

Video: Weaving for Life
Kamis, 31 Maret 2016

Hidup sejumlah penenun di Moyudan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, kini lebih berwarna. Setagen yang mereka tenun tidak lagi hanya berwarna hitam, hijau, atau biru polos. Kain tenun panjang yang biasanya dililitkan pada pinggang perempuan itu menjadi warna-warni dan dikenal dengan sebutan setagen pelangi.

Setagen pelangi bermula dari Desa Sumber Arum, Moyudan, Sleman, Yogyakarta. Di desa ini tenun menjadi tradisi turun-temurun. Pada 1990-an, setiap rumah di Sumber Arum memiliki alat tenun dan para ibu menenun setagen di sela-sela mengurus rumah serta mengasuh anak.

Saat itu hampir semua perempuan di Sumber Arum bisa menenun. Namun hal itu tidak lantas membuat para perempuan berminat menenun untuk menghasilkan uang.

Mencari kerja lain susah. Daripada tidak punya uang, ya sudah, saya pikir kembali menenun saja."

Sekarang perempuan Sumber Arum umumnya menenun karena terpaksa, setelah merasa mentok mencari pekerjaan lain. Jimah, 40 tahun, dan Sumirah, 35 tahun, contohnya. Jimah memutuskan menenun setelah gagal di perantauan.

Pulang merantau dari Medan, Sumatera Utara, Jimah dan keluarga tinggal bersama orang tuanya di Sleman. Ia berusaha mencari kerja, tapi pekerjaan sulit dia dapatkan dengan bekal ijazah pendidikan rendah.

Sejak kecil, Jimah sering melihat ibunya dan para ibu di kampungnya menenun. Ketika mulai duduk di bangku sekolah menengah pertama, seperti umumnya anak gadis di Sumber Arum, Jimah pun diajari sang ibu menenun setagen.

Setiap minggu ada tengkulak yang datang membeli setagen itu. Namun harganya sangat murah. Setagen polos sepanjang 10 meter hanya dihargai Rp 18 ribu. Dengan harga murah itu, makin sedikit perempuan yang mau menenun.

Alat tenun tradisional dipamerkan dalam acara yang digelar Weaving for Life di Bentara Budaya beberapa waktu lalu.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Tradisi menenun setagen pun tergerus, apalagi permintaan terhadap setagen terus berkurang. Seiring dengan perubahan zaman, para perempuan makin sedikit yang memakai setagen karena kurang praktis. Fungsi stagen telah digantikan oleh korset.

“Tapi mencari kerja lain susah. Daripada tidak punya uang, ya sudah, saya pikir kembali menenun saja,” kata Jimah kepada detikX.

Sumirah juga memiliki cerita senada. Setelah menikah dan punya anak, ia tidak mungkin lagi melaju dari desanya ke kota untuk bekerja sebagai buruh fotokopi. Ia juga bingung kepada siapa anak harus dititipkan bila bekerja di kota. Sumirah pun mengikuti jejak ibunya: menenun.

Menenun, meski hasilnya kecil, dirasa menjadi pilihan terbaik bagi Jimah dan Sumirah. Karena pekerjaan itu bisa dilakukan sambil mengasuh anak di rumah dan mengurus pekerjaan rumah tangga.

Nah, pada 2013, ada komunitas pemberdayaan masyarakat bernama Dreamdelion yang datang ke Sumber Arum. Dreamdelion tidak ingin tradisi menenun punah gara-gara nilai ekonomisnya terus menipis. Komunitas ini lantas melakukan inovasi pada tenun setagen, yakni menyulap tenun polos menjadi tenun yang lebih berwarna dan punya motif unik. Proyek ini diberi nama Tenun Pelangi.

Perajin tenun di Sleman, Yogyakarta
Video: Weaving for Life

Jimah bersama tujuh perempuan di desanya pun lantas bergabung dan belajar membuat setagen pelangi. Setiap hari, setelah selesai memasak dan bersih-bersih rumah, Jimah mulai menenun. Ia berhenti sebentar pada pukul 12.00 WIB untuk menyiapkan makan siang.

Ia kembali meneruskan menenun pada pukul 13.30 WIB sampai menjelang magrib. “Kalau saya sehat dan kuat, sehari saya bisa membuat tenun setagen sekitar 18-25 meter,” kata Jimah.

Dengan membuat setagen pelangi, pendapatan Jimah meningkat. Sementara setagen polos dihargai sekitar Rp 18 ribu per 5 meter, setagen pelangi dihargai Rp 25 ribu per meter.

Dari menenun, Jimah dan Sumirah bisa mendapatkan uang yang cukup untuk membantu dapur rumah terus mengepul. Jimah kini menjadi Ketua Kelompok Pengembangan Tenun Mekar Sari.

Sebenarnya ada sekitar 300 penenun di Sumber Arum. Namun baru segelintir orang yang berminat bergabung menenun setagen pelangi karena mengkhawatirkan serapan pasarnya. Selain itu, penenun setagen pelangi perlu usaha lebih, yakni memikirkan motif yang akan dibuat dan banyaknya benang yang dibutuhkan.

Bahan-bahannya ada semua di kampung. Yang dibutuhkan hanya kesabaran karena proses pewarnaan alami lebih lama dibandingkan dengan pewarnaan sintetis."

Retno, salah satu penenun di Sumber Arum, Sleman, Yogyakarta

“Di sini kita punya misi mengangkat value-nya. Ibu-ibu di sana, selain belajar membuat setagen pelangi, belajar membuat produk dari setagen,” ujar Adindyah, pelestari tenun yang tergabung dalam House of Lawe, yang menjadi mitra Dreamdelion.

Maka tenun pelangi tidak hanya dijadikan setagen, tapi juga dijadikan tas, dompet, bros, sepatu, dan produk kreatif lainnya, yang harganya lebih tinggi daripada saat masih dalam bentuk lembaran setagen.

Produk kreatif tenun tersebut kini sudah terjual ke Bali, Jakarta, Bandung, Bogor, dan Yogyakarta. Harganya dari Rp 8.000 hingga Rp 299 ribu.

Untuk lebih meningkatkan nilai jual setagen, Dreamdelion juga mengajarkan pewarnaan secara alami. Warna merah bata, misalnya, bisa diambil dari pohon mahoni, yang banyak tumbuh di desa itu.

“Bahan-bahannya ada semua di kampung. Yang dibutuhkan hanya kesabaran karena proses pewarnaan alami lebih lama dibandingkan dengan pewarnaan sintetis,” kata Retno, yang bergabung dengan Dreamdelion sebagai petugas pemberi warna tenun.

Setagen pelangi ikut disertakan dalam pameran Weaving for Life di Bentara Budaya Jakarta beberapa waktu lalu.
Foto: Hasan Alhabshy/detikcom

Pewarnaan alami ini mau tidak mau mengharuskan masyarakat menjaga lingkungan. Mereka harus menanam pohon-pohon di pinggir Kali Progo. Dengan demikian, pohon tersebut bisa mencegah terjadinya erosi. Erosi menjadi ancaman tersendiri bagi Sumber Arum karena sebagian besar lelaki bekerja sebagai penambang pasir.

Dreamdelion didukung Global Environment Facility-Small Grant Programme (GEF-SGP) Indonesia, yang merupakan bawahan United Nations Development Programme (UNDP), pun akan mengembangkan Sumber Arum sebagai desa wisata.

“Tempat ini akan menjadi desa tenun. Bapak-bapak dan kaum muda akan terlibat menjadi guide untuk menceritakan sejarah atau cerita di balik tenun di sana,” ujar Chatarina DwiHastarini, Koordinator Nasional GEF-SGP, kepada detikX

Program desa wisata akan diluncurkan pada April. Bila program ini berhasil, diharapkan warga lebih memilih menenun dibanding menambang pasir. Dengan demikian, tenun bisa menyelamatkan ekonomi masyarakat sekaligus menyelamatkan lingkungan.


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.