METROPOP

Para Janda Pun
Jadi Kaya

Janda-janda Biboki bisa membiayai kuliah anak-anak mereka hanya dengan menenun dua lembar kain.

Foto: Rachman Haryanto/detikcom

Kamis, 31 Maret 2016

Ada seorang janda suku Biboki, Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur, yang sangat pandai menenun. Hasil tenunannya begitu indah. Sayangnya, tenunan itu tidak laku dijual, sehingga ia sangat miskin.

Pada 1990-an itu, tenun ikat Biboki biasanya hanya untuk kado kematian, mahar pernikahan, atau untuk menukar cendera mata. Bila dijual pun, satu lembar kain tenun hanya bisa ditukar dengan seikat jagung, yang kala itu harganya sekitar Rp 5.000.

Janda yang pandai menenun itu tinggal di Desa Mata Besi, Kefanamu. Tanah desa itu sangat kering, sehingga banyak hewan ternak yang mati. Warga desa memang sungguh miskin, lebih-lebih perempuannya.

Perajin tenun dengan alat kerja mereka
Foto: dok. Weaving for Life

Awalnya hanya delapan perempuan yang mau bergabung. Pelan-pelan jumlah anggota terus bertambah. Sekarang anggotanya sekitar 400 orang dan tersebar di 13 desa."

Yovita Meta Bastian, pejuang tenun dari Nusa Tenggara Timur

Di sana perempuan masih dianggap sebagai warga kelas dua, karena para lelaki beranggapan sudah membeli mereka setelah memberikan belis atau mahar perkawinan yang mahal. Sang istri menjadi sangat bergantung pada suaminya yang mencari nafkah. Ketika suami meninggal, si janda tidak berdaya untuk mencari uang.

Yovita Meta Bastian pada 1989 itu adalah anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Timor Tengah Utara. Ia bertemu dengan janda miskin tersebut dan tergerak untuk membantunya. Yovita yakin tenun Biboki juga bisa dijual mahal seperti tenun di Kabupaten Sabu Raijua, tetangganya.

“Kami lebih kaya motif, punya banyak teknik. Kenapa tidak bisa dijual?” ujarnya.

Yovita lantas membentuk Yayasan Tafean Pah untuk membina penenun dan memasarkan hasil tenun mereka. Yayasan yang artinya “rumah dunia” itu, selain membina penenun, memiliki program pertanian, peternakan, pendidikan, dan kesehatan.

Perajin tenun menyelesaikan lembaran kain

Foto: dok. Weaving for Life

Produk tenun yang masih berupa lembaran

Foto: dok. Weaving for Life

Kain tenun yang sudah diproduksi menjadi pakaian dalam sebuah pameran busana 

Foto: dok. Weaving for Life

Lembaran kain tenun dimodifikasi dan diberi aksesori tambahan supaya memiliki nilai lebih.

Foto: dok. Weaving for Life

Kain tenun dalam wujud tas, dompet, dan produk lainnya memiliki nilai jauh lebih tinggi ketimbang hanya berupa lembaran kain.

Foto: dok. Weaving for Life

Awalnya hanya delapan perempuan yang mau bergabung. Pelan-pelan jumlah anggota terus bertambah. Sekarang anggotanya sekitar 400 orang dan tersebar di 13 desa.

Tafean Pah memilih mengembangkan tenun ikat tradisional. Bahan untuk menenun, seperti benang, tenun, dan pewarna, semua harus dari alam, tidak boleh menggunakan zat kimia.

“Syarat kelompok atau desa yang mau bergabung dengan Tafean Pah adalah harus menanam kapas dan tanaman pewarna alam,” kata Yovita.

Bekerja sama dengan Global Environment Facility-Small Grant Programme (GEF-SGP) Indonesia, Tafean Pah juga mewajibkan anggotanya menjaga lingkungan agar manusia bisa terus menenun.

Untuk pewarnaan, misalnya warna hitam, menggunakan lumpur. Kalau lingkungan tidak dijaga, sumur lumpur bisa kering. Karena itu, ibu-ibu menanam pohon di sekitar sumber lumpur.

“Mama Yovita menggerakkan ibu-ibu penenun untuk menjaga mata air sumber dari lumpur untuk menghasilkan warna alam,” kata Chatarina Dwi Hastarini, Koordinator Nasional GEF-SGP.

Bukan hanya menjaga lingkungan, pewarnaan alam juga menaikkan harga tenun. Selendang tenun yang menggunakan warna dari bahan kimia harganya Rp 25 ribu. Sedangkan harga selendang tenun dengan pewarnaan alami bisa Rp 100-200 ribu sampai jutaan rupiah.

Penenun Timor Tengah Utara
Video: dok. Weaving for Life

Perlahan-lahan, kondisi ekonomi penenun anggota Tafean Pah membaik. Hanya menenun dua lembar kain dalam setahun, mereka bisa membiayai sekolah anak-anaknya.

“Ada di satu desa di mana dalam satu kelompok semua anggotanya para janda. Mereka bisa menyekolahkan anak mereka sampai ke universitas,” tutur Yovita.

Pada 2003, Yovita dan para penenun Biboki mendapatkan penghargaan Prince Claus Award dari Belanda. Penghargaan bidang pembangunan dan kebudayaan ini diberikan sebagai pengakuan atas prestasi Yovita mengangkat derajat kaum perempuan Biboki dan perekonomian warga Timor Tengah Utara serta melestarikan budaya lokal Biboki.

Penenun Cilik

Setiap tahun, ada grup tekstil dari Australia yang datang ke Timor Tengah Utara. Mereka belajar tentang pewarnaan tenun secara alami. Penenun yang menggunakan pewarnaan alami sudah punah di Australia.

Yovita pun cemas Timor Tengah Utara akan bernasib sama dengan Australia. Apalagi tenun tidak pernah diajarkan. Hanya anak-anak yang tidak sekolah saja yang justru diajari menenun.

Anak-anak sibuk dengan alat tenun masing-masing di bawah bimbingan perajin tenun dewasa.
Foto: dok. Weaving for Life

Ia lalu melakukan pendekatan agar bisa memberi pelatihan menenun di sekolah. Ternyata sejumlah sekolah dasar setuju memberi pelajaran tenun untuk ekstrakulikuler mereka. Yovita memberikan peralatan tenun gratis untuk para siswa dan boleh dibawa pulang.

Kepada mereka yang berminat terus menenun lantas diberikan pendampingan. Hasil tenun disetor ke yayasan untuk dipasarkan. Uangnya digunakan untuk memberi beasiswa.

“Ini buat mendorong anak-anak meneruskan tradisi tenun. Sekarang ada beberapa anak yang enam bulan ke depan sudah selamat biaya sekolahnya,” kata Adindyah, pendiri House of Lawe, pelestari tenun, yang bekerja sama dengan Tafean Pah.

Untuk pelestarian tenun, Tafean juga mendirikan museum. Saat ini museum tersebut menyimpan 46 motif tenun ikat Biboki dan motif lainnya.


Reporter: Melisa Mailoa
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.