image for mobile / touch device
image 1 for background / image background

METROPOP

Setelah Tembus Hollywood

Kegelisahan dua jagoan silat, Yayan Ruhian dan Cecep Arif Rahman, setelah bermain dalam film Star Wars.

Foto: dok. detikcom

Rabu, 16 Maret 2016

Harrison Ford melangkah mendekat. Iko Uwais, Yayan Ruhian, dan Cecep Arif Rahman langsung grogi. Tiga lelaki yang dijuluki sebagai “The Raid Team” itu sungguh tidak menyangka Ford akan duluan mendekati dan menyapa mereka.

“Yang mendatangi kami justru dia, beliau nanya duluan. Membuat kita wuiiiih...,” ujar Cecep Arif Rahman mengenang saat ditemui detikX.

Kepada trio pesilat Indonesia tersebut, pemeran Hans Solo itu pun berbasa-basi untuk mengakrabkan diri. Ia berkata pernah datang ke Jakarta, bahkan memarahi Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan terkait perusakan hutan.

Pertemuan dan adu akting dengan Ford di studio raksasa Pinewood Studios, London, Inggris, itu menjadi kenangan tidak terlupakan bagi tiga pesilat tersebut selama ikut syuting film Star Wars: The Force Awakens.

Dalam film legendaris Hollywood itu, tiga jagoan pencak silat tersebut berperan sebagai anggota geng Kanjiklub, geng penyelundup antargalaksi, yang berurusan dengan Hans Solo.

They (Iko, Yayan & Cecep) were willing, and they were incredible. They showed up and did a terrific job.

J.J. Abrams


Iko berperan sebagai Razoo Qin-Fee, Yayan sebagai Tasu Leech—ketua geng Kanjiklub—dan Cecep sebagai Crokind Shand. “Asli, saya merinding,” kata Yayan soal perasaannya saat harus beradu akting dengan Ford.

Keterlibatan mereka dalam film Hollywood ini tentu menjadi sebuah prestasi yang membanggakan. Akting mereka dalam Star Wars memang tidak lama, tapi berjalan apik dan menuai pujian. Sutradara Star Wars, J.J. Abrams, kagum pada akting dan hasil koreografi Yayan dkk.

They (Iko, Yayan & Cecep) were willing, and they were incredible. They showed up and did a terrific job,” puji J.J. Abrams.

Harrison Ford dalam sebuah adegan film Star Wars: The Force Awakens
Foto: dok. Facebook/Star Wars

Bagi Cecep, tidak perlu menghiraukan durasi akting mereka yang cuma sekilas dalam film itu. Mereka memang hanya muncul dalam film selama 1 menit. Tapi proses syuting yang dilalui trio silat tersebut memakan waktu tiga minggu. Bukan hanya syuting, mereka juga dilibatkan dalam membuat koreografi adegan perkelahian.

“Kami juga diperkenankan membuat koreografi fighting. Proses pembuatan koreografi tidak bisa lepas dari gerakan silat. Jadi ya kami otomatis memperkenalkan silat kepada mereka,” kata Yayan.

Selain sukses memperkenalkan silat, kemunculan mereka dalam Star Wars menjadi pintu bagi jago silat kita untuk masuk lebih dalam ke Hollywood. Tawaran main film Hollywood pun berdatangan setelah membintangi film legendaris itu. Industri film Hollywood ingin warna yang berbeda dalam film mereka, dan melibatkan Yayan cs dinilai merupakan jawabannya. Sebab koreografi adegan berkelahi mereka dinilai segar dan inovatif.

Maka Yayan dan Iko pun kembali diajak bermain dalam film Hollywood lainnya, yakni Beyond Skyline. Iko dan Yayan juga dipilih karena dinilai produser Beyond Skyline, Greg Strause, sebagai tim koreografer paling inovatif saat ini.

Sedangkan Cecep mengungkapkan saat ini masih dalam tahap penjajakan untuk terlibat dalam sebuah film produksi sutradara Prancis. Ia juga membintangi serial TV Hollywood berjudul The Gate.

Adegan dalam film Beyond Skyline
Foto: dok. Facebook/Beyond Skyline

Yayan dan Cecep pun semakin yakin silat bisa mendunia. Sebagai guru silat, sudah lama Yayan memimpikan pencak silat populer di dunia internasional. Ia percaya film merupakan salah satu jalannya. Adapun Cecep ingin silat bisa menjadi seperti kungfu, yang populer karena film.

“Saya lihat kungfu bisa dikenal orang dari film. Nah, kenapa silat tidak bisa?” ujar jagoan silat Panglipur ini.

Kalau dikemas dalam film, silat bisa menjadi adegan yang sangat bagus. Adegan perkelahian dalam silat betul-betul nyata dan tidak perlu banyak trik kamera. Film silat yang dikemas Gareth Evans dalam Merantau, The Raid 1, dan The Raid 2 menjadi buktinya. The Raid-lah yang menjadi penyebab Cecep dkk diajak main dalam film Star Wars.

Film Star Wars merupakan kesempatan kita memperkenalkan silat. Nantinya semoga membuka kesempatan di film Hollywood selanjutnya.

Cecep Arif Rahman


J.J. Abrams mengajak Cecep dkk karena sangat menyukai akting mereka dalam The Raid 2. Awalnya, adegan Hans Solo hanya akan berhadapan dengan satu geng. Tapi, karena menyukai adegan silat dalam film The Raid, ia menambahkan geng Kanjiklub pimpinan Yayan sehingga menjadi dua geng yang mengeroyok Solo.

Film sangat efektif untuk menaikkan popularitas silat. Selama ini, para pesilat memperkenalkan silat dengan cara tradisional, lewat pementasan dari panggung ke panggung, dari daerah ke daerah, atau dari negara ke negara, yang terbatas jangkauannya. Dengan film, semua orang di mana pun bisa melihat silat dan dibuat jatuh cinta pada olahraga bela diri Nusantara itu.

Setelah film The Raid, Yayan dan Cecep merasakan silat menjadi sangat populer. Banyak orang yang kemudian ingin belajar silat. Tidak hanya orang Indonesia, tapi juga makin banyak orang asing yang minta belajar kepada Yayan dan Cecep. 

Kedua jagoan silat memang guru silat. Mereka pun tidak mau meninggalkan pekerjaannya sebagai guru silat meski sukses bermain film. Yayan setia mengajar di Perguruan Silat Tenaga Dasar Indonesia. Sedangkan Cecep tetap mengajarkan silat Panglipur yang, selain di Garut, Jawa Barat, juga memiliki cabang di sejumlah daerah dan luar negeri, seperti Singapura, Belanda, Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat.

Fenomena banyaknya orang asing yang belajar silat membuat Yayan senang tapi juga khawatir. Ia bangga banyak orang asing datang ke Indonesia untuk belajar silat. Tapi khawatir bila nanti, 5-10 tahun ke depan, justru generasi kita yang belajar silat kepada orang asing.

Saat ini, menurut Yayan, silat hampir sama nasibnya dengan batik dan wayang. Wayang jadi sesuatu yang menarik kalau yang memainkan wayang atau dalangnya orang bule. Tapi saat wayang dimainkan oleh orang Indonesia sendiri, hal itu terasa biasa saja.

“Jangan sampai seperti itu. Saya ingin budaya kita betul-betul dicari tahu dan dipelajari oleh generasi muda kita,” tuturnya.

Yayan berharap film-film yang dibintanginya bisa membantu mengubah persepsi orang tentang silat, yang selama ini dianggap sebagai olahraga tradisional dan bercampur mistis sehingga banyak yang menganggapnya jadul ataupun seram. 

“Dulu orang mengenal silat itu, ‘Oh, yang kalau dipukul mental’, ‘Kalau mukul keluar api.’ Nah, silat tidak seperti itu. Banyak hal yang lebih penting dari sekadar mukul atau keluar api.”

Adegan dalam film Yakuza Apocalypse
Foto: dok. Facebook/Yakuza Apocalypse

Yayan dan Cecep ingin suatu saat ada film Hollywood yang memperlihatkan silat secara utuh. “Tidak hanya dari sisi berantem yang berdarah-darah, tapi juga menonjolkan nilai-nilai silat yang mendidik,” kata Cecep.

Yayan kini sedang mempersiapkan sebuah padepokan silat di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia ingin mengajar silat sampai tua. Hal yang sama juga akan dilakukan Cecep. Selain mengajar di kampung halamannya, Garut, Cecep kini juga mengajar silat di Elite Club, Kuningan, Jakarta.

“Mengajar itu istilahnya menyampaikan sesuatu yang baik kepada generasi penerus. Tidak bisa ditinggalkan,” kata Cecep.

Menjadi guru silat dan bermain film bagi Cecep dan Yayan merupakan cara untuk menjaga agar silat tidak hanya populer sesaat. Tapi juga untuk membuat banyak orang mencintai silat serta melestarikan tradisi Indonesia yang indah dan mengagumkan ini.


Reporter: Ibad Durohman
Penulis/Editor: Iin Yumiyanti
Desainer: Luthfy Syahban

Rubrik Metropop mengupas kehidupan sosial, seni, dan budaya masyarakat perkotaan.